4 Cara Asyik Menulis Karya Nonfiksi

Cara Asyik Menulis Karya Nonfiksi

4 Cara Asyik Menulis Karya Nonfiksi – Kebanyakan orang kalau ditanya lebih suka baca diktat kuliah atau novel, kemungkinan besar jawabannya adalah novel. Kalau baca buku kuliah, belum lima menit mulut sudah menguap. Sementara kalau baca novel bisa sampai lupa waktu saking asyiknya. Kita juga lebih mudah hafal jalan cerita dari novel yang dibaca dibandingkan buku kuliah. Iya atau iya? 

Terlepas dari kegemaran membaca, pada dasarnya manusia suka dengan cerita. Suatu informasi, pengetahuan, atau bahkan nasihat yang disampaikan lewat cerita tampak lebih mudah dicerna dan diterima otak. Selain itu, menyampaikan nasihat dengan cerita cenderung jauh dari kesan menggurui. Barangkali itu salah satu sebab tulisan-tulisan nonfiksi dianggap lebih membosankan dari fiksi. Padahal tidak selalu demikian adanya. 

Baik tulisan fiksi maupun nonfiksi sebenarnya sama-sama asyik dinikmati asalkan kita paham bagaimana menyajikannya kepada pembaca. Ide sekeren apapun, kalau tidak diolah dan disajikan secara menarik, tentu tidak akan dilirik. Ibaratnya, serupawan apapun kamu, kalau kamu dekil, bau, dan awut-awutan, orang lain pasti ilfeel kan lihatnya? Nah, terus gimana dong caranya agar tulisan nonfiksi yang kita buat tidak membosankan, kaku, dan hambar? 

Oiya, sebelum lanjut ke kiat-kiat menulis karya nonfiksi yang asyik, saya mau kasih disclaimer dulu kalau kiat-kiat ini lebih ditujukan pada penulisan artikel atau karya ilmiah populer, opini, esai, artikel tips, dan sebagainya selama bukan untuk tujuan akademik (not for academic purpose). Tulisan-tulisan yang ditujukan untuk kepentingan akademik, seperti skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, jurnal ilmiah, prosiding, esai akademik dan lain-lain, tentu punya aturan mainnya sendiri. 

Oke deh, daripada kelamaan, langsung saja simak kiat-kiat menulis karya nonfiksi yang asyik berikut ini.

Cara Asyik Menulis Karya Nonfiksi

1. Gunakanlah Bahasa yang Mudah Dipahami Pembaca 

Sesuai disclaimer yang sudah saya tulis sebelumnya, kalau tulisanmu bukan untuk tujuan akademik maka jangan menggunakan istilah-istilah ilmiah terlampau banyak. Apalagi istilah-istilah sulit dan sangat teknis yang tidak semua orang paham. Jika kamu ingin menggunakannya, gunakan secukupnya dan jelaskan apa maksudnya. 

Ingat, menulis itu komunikasi. Dalam komunikasi, pesan yang ingin disampaikan harus dapat dipahami oleh penerima. Kalau tulisanmu malah bikin kening berkerut, itu artinya kamu sebagai penulis gagal berkomunikasi dengan pembaca. Kamu perlu cek, hal apa yang membuat tulisanmu begitu sulit lupakan Reyhan untuk dipahami dan buatlah lebih sederhana serta mudah dipahami. 

Baca juga: Tips Agar Tulisan Mudah Dipahami Pembaca

2. Tambahkan Cerita Pengalaman Pribadi atau Orang Lain yang Relevan 

Misalkan kamu ingin menulis esai atau opini tentang pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) dan seksual. Alih-alih langsung mengawali tulisan dengan data, kenapa tidak memulainya dengan pengalaman pribadi atau orang dekat yang relevan dengan topik? 

Kalau kamu perempuan, kamu bisa cerita soal tabu menstruasi yang sering kamu dengar dari orang-orang di sekitarmu, yang kalau dipikir-pikir malah lucu dan tidak masuk akal. 

Seringkali, pembaca memutuskan untuk membaca sampai tamat dengan melihat lead (pembuka) tulisan. Kalau dari lead-nya saja sudah bikin ngantuk, kemungkinan pembaca untuk menyelesaikan bacaan minim. Nah, menambahkan cerita di awal tulisan merupakan salah satu cara membuat lead tulisan yang menarik. Tambahan cerita pengalaman ini juga sekaligus memperkuat data dan referensi. 

3. Jangan Ragu Untuk Menunjukkan Emosi 

Karya fiksi, terutama puisi, pasti mengandung permainan diksi dan emosi. Sementara emosi dalam karya nonfiksi akan menjadikannya lebih hangat, berwarna, tidak kaku, dan tidak hambar. 

Dalam sebuah webinar kepenulisan yang pernah saya ikuti, Dee Lestari yang saat itu didapuk sebagai pembicara mengatakan agar jangan ragu menunjukkan emosi dalam karya nonfiksi. Senada dengan itu, pegiat media sosial dan jurnalis, Pepih Nugraha dalam webinar lainnya pernah mengatakan kalau aspek emosional itu juga perlu digali.

Baca juga: Membuat Karya Fiksi Memang Menggunakan Imajinasi, namun Bukan Berarti Tidak Membutuhkan Riset

Alih-alih hanya mengatakan kata “marah”, kita bisa berkreasi mendeskripsikan emosi marah sebagai berikut.

Ia melotot dan menatap tajam seolah hendak menikam semua orang yang ada di ruangan itu.” 

Kalau kamu ingin tahu bagaimana aspek emosional dipakai dalam menulis karya non fiksi, bacalah artikel-artikel feature di media-media ternama tanah air.

4. Selipkan Humor 

Humor itu penting agar hidup tidak tegang melulu. Menyelipkan humor dalam tulisan nonfiksi bisa jadi cara ampuh untuk membuat pembaca betah menamatkan tulisanmu. Pengetahuan bertambah, pikiran terbuka, dan hati gembira. Mantapkan? 

Pada dasarnya, baik tulisan fiksi maupun nonfiksi hanya beda tipis. Keduanya sama-sama butuh imajinasi, kreativitas, riset, emosi bahkan humor agar tulisan lebih hidup dan dapat dinikmati pembaca. Semoga kiat-kiat ini bermanfaat, ya.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Mantan mahasiswa jurusan akuntansi yang lebih tertarik mendalami topik psikologi, sosial-budaya, gender dan lingkungan. Irit kata dalam bicara, tapi boros dalam tulisan. Bisa disapa di @luna.septalisa (instagram) atau kunjungi kompasiana.com/lunaseptalisa.

Artikel dari Penulis