Masih Perlukah Berjabat Tangan, Meminta Maaf, Mengucapkan Tolong dan Terima Kasih?

Masih Perlukah Berjabat Tangan

Masih Perlukah Berjabat Tangan, Meminta Maaf, Mengucapkan Tolong dan Terima Kasih? – Dibesarkan di Indonesia membuat kita terjebak pada kesopansantunan yang pada saat ini sebetulnya tidak perlu-perlu banget. Entah budaya ini berlaku di Indonesia saja atau di belahan dunia manapun. Bilang minta tolong, berjabat tangan atau mungkin di masa pandemi ini dengan mengepalkan tangan ala-ala geng hiphop zaman dulu, bilang terima kasih dan lain sebagainya. 

Bagi saya, diucapkan terima kasih atau dimintai tolong didahului dengan ucapan “eh, tolong dong…” atau tos ketika bertemu dengan teman yang sudah sangat akrab, tau luar dalam itu sudah tidak lagi berlaku. Saya perlu tekankan sekali lagi bagi teman yang sudah sangat akrab, tau luar dan dalam. 

Di dalam sebuah perkumpulan sebaya yang di dalamnya terdapat orang-orang sudah sangat akrab misalnya, apakah ada yang marah atau tersinggung ketika kita mau pamit lalu tidak berjabat tangan? 

Apakah tidak cukup dengan berucap “saya pamit, ya…”, kalau orangnya 3-4 barangkali masih memungkinkan untuk berjabat tangan atau saling tos, tapi kalau lebih dari 10 orang? Waktu orang tersebut akan terbuang sia-sia untuk kegiatan yang tidak terlalu penting seperti tos atau jabat tangan. sekali lagi, ini berlaku untuk kawanan yang sudah sangat akrab dan tidak ada sangkut pautnya dengan urusan keagamaan tentunya.

Baca juga: Sesajen untuk Sang Mahaguru di Akhir Perjalanan

Lalu meminta tolong didahului dengan ucapan, “eh, tolong ambilkan gelas itu dong,” misalnya. Banyak yang bilang kata tolong untuk memperhalus kalimat, padahal kalaupun tidak ada kata tolong di dalam kalimat suruhan tersebut, kalau di ranah pertemanan yang sudah akrab, itu akan tetap terasa biasa aja. 

Apakah ketika tidak ada kata tolong dalam kalimat suruhan tersebut teman akrabmu akan marah? Sepertinya tidak. Lalu, mengapa kata tolong dalam pergaulan yang sudah sangat akrab ini tetap digunakan? Mengapa kita sudah terbebas dari ungkapan jancuk atau kata lainnya yang sebelumnya dianggap kasar lalu sekarang dianggap sebagai ungkapan pergaulan. Akan tetapi masih belum terbebas dari kata tolong sebagai penghalus kepada teman akrab? 

Lalu kata terima kasih. Ya, saya setuju kata ini simpel, tapi sekali lagi, apakah kita harus mengucapkan ini ke teman akrab? Kata terima kasih sendiri diucapkan ketika seseorang telah membantu kita lalu kita ucapkan terima kasih karena telah menolong. 

Kalau saya ada di posisi sebagai yang menolong, saya sangat tidak keberatan dan tidak tersinggung jika setelah saya menolong orang tidak menerima ucapan terima kasih. Sebab, sudah semestinya, seseorang ketika dimintai tolong, ia akan menolong orang tersebut apalagi seseorang tersebut teman akrabnya. 

Tapi ada yang bilang, “ya ini bentuk rasa yang tidak bisa diungkapkan terhadap yang menolong, maka dari itu diucapkan terima kasih.” Nah, yang membentuk budaya semacam ini adalah perasaan tidak enakan. Kita masih beranggapan bahwa bilang terima kasih adalah suatu ucapan yang luhur nan adiluhung padahal kalau kita sama-sama menyepakati bahwa ucapan terima kasih itu tidak diperlukan, kita akan terbebas dari perasaan tidak enakan. 

Sebagai contoh, saya ditolong teman, lalu saya lupa mengucapkan terima kasih dan teman saya keburu pergi. Alhasil, kita terbebani perasaan tidak enakan karena tidak mengucapkan terima kasih. Orang-orang di media sosial sedang gencar-gencarnya mengajarkan orang lain untuk berani berkata tidak dan melepaskan rasa tidak enakan, eh ada sebagian orang malah memelihara rasa tersebut. Aneh. 

Nah dari beberapa tradisi atau budaya di atas sebetulnya bisa kita dekonstruksi dan sepertinya tidak berpengaruh apa-apa kalau kita sama-sama menyepakatinya dengan syarat dan ketentuannya adalah hanya bisa dilakukan kepada teman dekat sepermainan yang tau luar dalam. 

Hal-hal yang saya terangkan di atas, saya curigai dibentuk oleh orang-orang terdahulu yang mungkin bisa dikatakan gila hormat. Sebagaimana kita tahu beberapa bahasa daerah terdapat tingkatan bahasanya masing-masing. Hal ini saya curigai diciptakan oleh para raja terdahulu agar rakyatnya menghormati mereka sepenuhnya. 

Yang lebih mengherankan lagi, di zaman sekarang, cara berpakaian pun ada klasifikasinya: sopan dan tidak sopan. Menggunakan celana pendek di tempat pemerintahan dianggap tidak sopan. 

Dari semua yang saya uraikan di atas membuktikan bahwa kita masih terjebak dalam kesopansantunan semu, yang padahal konsep tersebut sudah usang seiring perkembangan zaman.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Designer: Design by Ghani

Anak sulung dan bungsu dari bapak yang juga sulung dan bungsu. Menggemari tidur siang.

Artikel dari Penulis