Kritik Pendidikan Metaverse dalam Ruang Lingkup Indonesia

Pendidikan Metaverse

Kritik Pendidikan Metaverse dalam Ruang Lingkup Indonesia – Metaverse itulah inovasi terbaru dalam dunia digital, konon yang digadang-gadang akan menjadi konsep pendidikan mendatang. Metaverse pertama kali disebutkan dalam acara Snow Crash oleh Neal Stephenson, kemudian diperkenalkan lagi ke publik dalam sebuah gim Second Life yang dibuat oleh Linden Labs pada tahun 2003. Sejak saat itu minat akan ketertarikan Metaverse semakin meningkat. Ditambah lagi pada 29 Oktober 2021 Mark Elliot Zuckerberg resmi merubah status Facebook ke dalam dunia virtual reality yakni Metaverse.

Secara singkat Metaverse ingin membuat lingkungan virtual atau juga dikenal MUVE (Multiplayer Virtual Environment) dengan mengkombinasikan Augmented Reality dan Virtual Reality. Pengguna akan dibawa kepada sebuah dunia di mana kita bisa bertemu siapapun dari berbagai negara dan mereka bebas menentukan fiturnya sendiri. Metaverse didasarkan kepada multi-indera dengan lingkungan virtual, objek digital, dan manusia.

Pendidikan Metaverse Adalah Sistem Kapitalis Digital?

Pada hari ini, kapitalisme digital telah merebak. Memang memberikan dampak positif untuk kita, seperti hadirnya Youtube dengan fitur rekomendasi video dan fitur spam dalam kotak surat elektronik. Secara sederhananya kapitalisme digital adalah sebuah istilah yang merujuk pada kapitalisme yang berlaku dan disokong oleh Internet.

Baca juga: Menjadi Jomblo Bukanlah Takdir, Kapitalisme-lah Penyebabnya

Beralihnya tenaga kerja manusia kepada sebuah sistem digital itu juga merupakan ciri khas sistem ini. Namun yang membuat saya heran, akankah Metaverse sendiri dikuasai oleh satu orang dalam bilik tertentu yang bisa saja memutar balikan fakta, menyebarkan informasi privasi obyek pendidikan, atau bahkan sistem itu berupaya untuk mengontrol tindakan kita?

Bahkan sistem ini telah mengubah pekerja manusia menjadi pekerja robotik atau memakai analisis machine. Tentunya, banyak pekerja manusia terpaksa di PHK dan menjadi pengangguran. Akibatnya angka kriminalitas semakin tinggi. Metaverse yang dipelopori oleh Mark Elliot Zuckerberg apakah bisa kita percaya atau hal ini akan membawa kita kepada jurang konflik, stagnasi manusia, dan otoriterisme?

Konsep Pendidikan Metaverse dan Problematikanya

Jika menjelaskan konsep ideal sebuah pendidikan tentunya tidak akan pernah ada. Semua memiliki dimensi negatif maupun positif. Ada beberapa jenis simulasi yang konon akan dijadikan sebagai dasar untuk mengimplementasikan pendidikan.

Pertama Augmented Reality dan Mirror World atau juga Virtual Reality, digunakan untuk lingkungan cerdas yang menggunakan teknologi jaringan dan lokasi sehingga pembelajaran jarak jauh terasa seperti bertemu langsung. Dampak buruknya Cyber Crime yang termasuk Cyber Bullying dan Cyber Deviasi Seksual (penyimpangan seksual) semakin merebak yang mengakibatkan seorang individual menjadi mati karakter (Death of Character).  Juga semakin jauh ia dengan interaksi sosial hingga paling parah ia akan menjadi anti sosial.

Baca juga: Masa Depan Wibu dalam Pusaran Metaverse

Kedua Lifelogging adalah teknologi yang mampu mengumpulkan, menyimpan, dari berbagai pengalaman informasi atau filter untuk merekam mata kuliah. Apa yang dikhawatirkan adalah adanya penjualan akun informasi pribadi seorang individu atau peretasan akun. Penyalahgunaan akun atau Avatar akan semakin membuat kacau sistem informasi yang sebenarnya seperti munculnya hoax dan sara.

Metaverse Kurang Efektif untuk Masyarakat Indonesia

Jika teknologi tersebut diimplementasikan di Indonesia yang mana terdapat berbagai multikultural, sebaiknya kajian tentang penerapanya harus dilaksanakan dengan kohesi sosial antara lembaga pendidikan dan partisipan. Karena setiap pendidikan harus didasarkan kepada kebudayaan daerah tersebut. Maka sangat sulit untuk pola fikir kita yang belum dirasa maju untuk menerima pendidikan ini.

Baca juga: Pendidikan Hanya Batu Loncatan untuk Bekerja, Kenapa Tidak?

Fakta yang terjadi dilapangan, pembelajaran di era pandemi seperti e-learning semakin memberatkan dan membuat kemalasan serentak. Sebab masyarakat kita belum open minded dan masih menggunakan arus berpikir materialisme, konsumerisme, atau sebagai komoditas saja. Mau tidak mau pendidikan tersebut seperti penjara intelektual siswa. Jika profesionalitas guru juga tidak seimbang. 

Bahkan kejahatan seksual pada hari ini semakin berkembang biak di lingkungan pendidikan dan minimnya literasi digital. Menurut Wakil Menteri Keuangan Indonesia negara kita memiliki nilai literasi lebih rendah dibanding negara tetangga Vietnam. UNESCO pun mendukung pernyataan tersebut bahwa tingkat literasi membaca di Indonesia hanya 0,001%. Hal ini berarti dari 1000 orang hanya 1 orang yang memiliki minat tinggi untuk membaca.

Itulah salah satu masalah yang dihadapi negeri ini. Banyak masalah sosial terkait pendidikan sebagai upaya fokus kita utama untuk membina sumber daya manusia tersebut. Daripada fokus terhadap kemajuan inovasi, tapi kenyataanya kita belum siap menerima itu. Sebaiknya kita juga memfokuskan untuk menggali lagi kebudayaan dari Nusantara ini dengan menilai dari para tokoh sejarah terkenal yang menghasilkan kredibilitas tinggi untuk keilmuan dan loyalitas untuk bangsa. Seperti pendidikan yang diajarkan HOS Tjokroaminoto. Pendidikan yang bersifat perusatif ala Wali Songo atau lainya.

Baca juga: Syekh Siti Jenar dan Ide Sebuah Masyarakat

Semoga artikel ini bisa menjadi sarana untuk merefleksikan diri kita agar tetap terus belajar dengan budaya kita sendiri. Tanpa terpengaruh westernisasi negatif yang menghilangkan corak kita sebagai bangsa yang beradab, bermoral, serta bermasyarakat. Awal dari pendidikan adalah mendidik diri kita sendiri dari sekat- sekat kegelapan menuju cahaya kemerdekaan.  Sekian.

Wallahul Muwafiq Ila Aqwa Min Thoriq

Wasalamu’alaikum wr. wb.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Salman Al Farisi

Perkenalkan nama saya Krisna Wahyu Yanuarizki, manusia yang berlagak agak kuat yang diberikan seribu beban di pundaknya. Saya Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung yang mengambil prodi Sosiologi Agama. No Whatsapp saya: +6281913845095, Email: Riskikrisna69@gmail.com. Saya dibesarkan di sebuah tempat di mana dikenal seribu tempat nongkrong yakni Tulungagung. Lahir tanggal 26 Januari 2002. Pekerjaan keseharian adalah seorang penulis buku. Buku yang telah terbit berjudul Mahabbatul Haq dan Kekasih Mimpi dalam Doaku, Inovasi Publishing. Saya merupakan salah satu mahasiswa aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang aktif juga menyuarakan pergerakan intelektual. Juga salah satu mahasiswa berprestasi dan anggota mahasiswa penerima Bidikmisi UIN SATU (FORMASIK). Spirit motivasi yang membuat saya menjadi seperti ini adalah “Menulislah engkau jika ingin amalmu terus mengalir hingga ahkir ujung senjamu dan Just Be Yourself, Don’t Think Anymore because you do it, and God Trust You”.

Artikel dari Penulis