Menjadi Jomblo Bukanlah Takdir, Kapitalisme-lah Penyebabnya

Menjadi Jomblo Bukanlah Takdir

Menjadi Jomblo Bukanlah Takdir, Kapitalisme-lah Penyebabnya – Ngomongin soal jodoh dan masa depan adalah sebuah keniscayaan, terutama bagi para pemuda. Baik yang masih kuliah atau fresh graduate yang baru saja mendapat pekerjaan. Biasanya, yang menjadi pemantik adalah foto prewed teman sebaya di layar smartphone

Susah memang kalau sudah ngomongin soal jodoh. Harus siap-siap kena penyakit mental. Lebih-lebih bagi seorang jomblo. Wah, enggak kebayang. Gimana cara mereka menghadapi omongan tante-tante di pertemuan keluarga besar, ya?

Akan tetapi, tunggu dulu. Menjadi jomblo bukanlah takdir. Beban yang mereka emban, enggak tiba-tiba datang dari langit menuju mereka yang tampangnya kurang baik. Toh, nyatanya yang good looking juga banyak yang jomblo

Ada soal lain yang mempersulit manusia modern mendapatkan pasangan. Kapitalisme! Seperti kata Bung Karno, “Masyarakat kapitalis zaman sekarang adalah masyarakat yang membuat pernikahan suatu hal yang sukar, sering kali pula suatu hal yang tak mungkin.”

Menyalahkan kapitalisme untuk persoalan pribadi memang terkesan aneh, dan terkadang justru terasa enggak nyambung. Emangnya kapitalisme tuhan apa? Kok bisa ngatur jodoh orang?

Ya enggak juga. Kapitalisme bukan tuhan, enggak bisa serta-merta mengatur jodoh orang, enggak bisa membolak-balikan hati orang seperti telapak tangan, tetapi mengubah pandangan manusia dengan menawarkan fantasi berlebih? Mereka ahlinya!

Sebelum membahas lebih jauh, saya rasa kita perlu meluruskan satu hal. Soal apa itu kapitalisme. Jangan pernah mengambil pengertiannya dari International Monetary Fund atau IMF, karena enggak bakal nyambung! Mereka itu salah satu pelakunya. Kalau mau tau, ya, liat kritiknya, baca buku!

Kapitalisme itu apa?

Sedikit mengulas tulisan artikel Trading Adalah Cara Memanfaatkan Kapitalisme Tanpa Menjadi Budaknya (Sebagai Proletar), saya rasa penulis oversimplified, untuk tidak mengatakan kurang membaca. 

Penulis menyuruh kaum proletar agar mencoba ‘peruntungan’ dengan bermain trading, agar enggak diperbudak lagi. 

Di akhir tulisannya, si penulis juga mengatakan, “Menolak doang, tapi pakai produk sistem, ya sama juga bohong sobat hahaha. Mari manfaatkan sistem, tetapi jangan mau diperbudak oleh sistem.” Argumen yang enggak masuk akal seandainya dia mengerti betul tentang kapitalisme.

Baca juga: Trading Adalah Cara Memanfaatkan Kapitalisme Tanpa Menjadi Budaknya (Sebagai Proletar)

Akan tetapi cukup disini dulu rasan-rasannya. Saya enggak akan membahas tentang kesalahan pikir dan teoritik yang tertuang di tulisannya. Bisa habis 10 halaman untuk menulis kritiknya. Wkwkwk.

Kapitalisme adalah suatu cara dalam bekerja, yang berkembang di tiap-tiap zaman dan kini mencapai tahapan kapitalisme. 

Agar sesuai konteks tulisan ini, bagian yang penting dari cara bekerja dalam kapitalisme adalah hubungan produksinya. Seperti tuan dan hamba, bos dan karyawan, borjuasi dan proletariat. Singkatnya, siapa yang bekerja dan siapa yang tidak.

Dalam kapitalisme, seorang proletar harus bekerja untuk mendapatkan bayaran. Itu pun enggak seberapa, atau setidaknya, lebih rendah dari bayaran bosnya yang enggak bekerja seberat dia. Bos yang saya maksud bukan pekerja di tataran manajerial loh, ya, sebab mereka pun sama. Sama-sama harus menjual tenaga kerjanya demi upah.

Nah, si proletar ini harus mengeluarkan segala kekuatan dan pikirannya untuk bekerja. Hasil yang ia buat, enggak sepenuhnya dikembalikan sebagai bayaran. Sebagian besarnya justru ditilep oleh bosnya. 

Alhasil, si proletar harus bekerja lebih giat lagi untuk mendapatkan apa yang ia mau. 

Menabung sedikit demi sedikit bayaran yang enggak seberapa itu. Mengurangi jatah makanan, menahan mental illness yang setiap hari semakin menumpuk, hingga akhirnya menyerahkan diri sepenuhnya untuk bekerja.

Hidupnya menjadi untuk uang. Yang tragis, uang ini kemudian diputar kembali untuk biaya ‘memperbarui’ dirinya agar bisa bekerja lagi.

Pada kondisi seperti itu, jelas saja enggak ada waktu buat memikirkan pacaran. Dirinya sendiri saja seringkali diabaikan, apalagi orang lain.

(U)wang (u)wang (u)wang

Kapitalisme ini memang licik. Ia sengaja membayar upah kaum proletar secara tidak adil. Enggak peduli si proletar ini perlu apa saja untuk menghidupi dirinya. 

Enggak cuma itu. Sudahlah dibayar murah, sekarang ini semua-semua harus diperjualbelikan. Uang dari mana?

Bayangkan saja, untuk membeli kebutuhan dasarnya saja, ia harus menabung sebagian kecil gajinya selama berbulan-bulan. Belum kalau ibu, bapak, dan adik-adik di kampung minta kiriman. Aduh Biyung, tanda-tanda harus menyiapkan mi instan beserta obat maag untuk dua minggu ini.

Bagi seorang jomblo, uang yang harus ia sediakan juga enggak sedikit. 

Pertama dan yang paling utama, tentu uang untuk membiayai hidupnya sendiri. Mulai dari makan, minum, pakaian layak, alat transportasi, hingga mulut pemilik kontrakan yang setiap hari tiada bosan menagih bayaran.

Yang jadi masalah, kebutuhan hidup ini enggak tetap alias selalu bertambah seiring berkembangnya waktu. Kalau dulu orang tidak memerlukan hp canggih, kini tentu sudah berubah. Seorang proletar yang sebagian besarnya waktunya habis untuk menghamba upah, tentu saja butuh hiburan yang enggak bikin badannya lebih capek. 

Jawaban dari permasalahan itu, ya, smartphone beserta kuota yang melimpah. 

Saat ini, dua barang itu sudah menjadi kebutuhan pokok. Malah, enggak cuma sekedar untuk hiburan, bahkan untuk urusan kerjaan pun seringkali memerlukan barang itu.

Kedua, bayangkan, jika seorang jomblo yang juga seorang proletar ingin mencoba menjalin hubungan. Berapa banyak modal yang harus disediakan? Untuk makannya sendiri aja kurang, gimana mau ngajak gebetannya makan bareng, nonton, atau jalan-jalan coba?

Harus nyetok mi dan obat maag untuk berapa bulan lagi?

Aku mencintaimu sebagai komoditas, bukan manusia, dik.

Persoalan lain yang juga enggak kalah menyebalkan adalah fantasi. Kapitalisme ini tau kalau bakal banyak pekerja yang enggak bisa punya pasangan. Pertama karena enggak punya uang, kedua karena enggak punya waktu. Disini otak-otak brengseknya pengusaha bermain: melihat tragedi sebagai peluang.

Agar kaum proletar enggak stres, maka ditawarkanlah pandangan baru tentang pasangan idaman. Melalui televisi, media sosial, hingga bokep-bokep yang berterbangan di internet. Kebutuhan kaum proletar dialihkan melalui fantasi palsu.

Akibatnya, bukan saja harus menyediakan kuota yang lebih banyak untuk terus menjalin hubungan palsunya, tetapi juga mempengaruhi kesadarannya sebagai manusia.

Sebagian waktunya yang tersisa digunakan untuk menikmati godaan lucknut yang sengaja di komodifikasi, diperjualbelikan. 

Akhirnya, munculah tipe-tipe pasangan baru yang sesuai dengan fantasi palsu buatan kapitalis. Yang cowok pengen punya pacar seperti Billie Eilish atau Lalisa. Sedangkan yang cewek, pengen pacar ngganteng kaya Jungkook atau John Mayer. Kan repot!Memang. Sepertinya memiliki pasangan itu bukanlah takdirnya kelas pekerja. Bukan juga takdir investor kecil-kecilan yang ngaku sebagai kapitalis, tetapi asetnya bahkan nggak sampai 0,000001%. Sama seperti seorang trader. Nasib keduanya bergantung dengan angka-angka spekulan. Ketika kapitalisme mencapai titik siklus krisisnya, tentu seketika mereka akan berubah menjadi proletar juga. wkwkwk.

Editor: Widya Kartikasari
Ilustrator: Salman Al Farisi

Juru elus kucing di Komunitas Kalimetro. Menjadi relawan di salah satu NGO antikorupsi di Malang. Suka nulis ndakik tapi pengen belajar nulis sederhana.

Artikel dari Penulis