Pendidikan Hanya Batu Loncatan untuk Bekerja, Kenapa Tidak?

Pendidikan Hanya Batu Loncatan

Pendidikan Hanya Batu Loncatan untuk Bekerja, Kenapa Tidak? – Sebagai salah satu dari spesies Homo Sapiens yang signifikan di planet bernama Bumi, banyak sekali kegiatan berfaedah yang bisa dilakukan. Mulai dari merancang konspirasi untuk menguasai sistem, menjadi agen-agen Tuhan penyebar wahyu, sampai mengabdikan hidup untuk terus menggali ilmu dan pengetahuan.

Untuk poin terakhir, agaknya masih dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja. Pasalnya, mencari ilmu bukanlah tujuan itu sendiri. Berpendidikan, adalah kata kunci untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Terlebih untuk pelajar-pelajar yang tumbuh besar sebagai masyarakat marginal, pendidikan hanyalah alat. Atau saya ralat, pendidikan hanyalah batu loncatan.

Sebagai batu loncatan, pendidikan kian dipaksa memenuhi kebutuhan dasar setelah lulus; yaitu mendapat pekerjaan. Alhasil, bangku pendidikan yang diperebutkan adalah pendidikan yang mampu menjamin pekerjaan, kalau bisa ya pekerjaan yang layak. Syukur-syukur kalau gajinya bisa memenuhi kebutuhan ngudud rokok Surya 12 yang harganya konsisten naik.

Pendidikan gaya ini pernah diterapkan oleh Belanda kepada bangsa kita. Diberikannya pendidikan kepada bumiputera bertujuan untuk mendapatkan tenaga kerja berpendidikan bergaji murah yang dibutuhkan oleh Belanda. Maka, orientasi pendidikan saat itu jelas untuk memproduksi tenaga kerja. Di sisi lain, semua juga butuh untuk mendapatkan pekerjaan.

Meskipun akhirnya menjadi bumerang untuk Belanda karena rakyat bisa comeback dan mengusir kolonial. Tapi cara berpikir yang seperti tadi agaknya masih bertahan hingga kini.

Buktinya adalah masih relevannya perdebatan klasik, “Kuliah itu untuk mencari ilmu atau kuliah untuk mencari pekerjaan?”

Jujur, ini pertanyaan sulit yang bahkan mampu mengundang perdebatan dari awal ospek sampai kelulusan. Padahal, semua pertanyaan ada jawabannya. Hanya pertanyaan, “Kapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berakhir” yang sepertinya tidak ada jawabannya.

Apakah memilih kuliah dengan tujuan mencari kerja adalah salah? Pasalnya Abraham Maslow, salah satu psikolog aliran humanistik, mengatakan bahwa kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan yang paling mendasar dari lima hierarki kebutuhan manusia. Inti dari teori ini adalah, selama kebutuhan fisiologis belum terpenuhi maka manusia akan sulit mengembangkan dirinya.

Memang, tanpa kejelasan untuk menyambung hidup, maka manusia tidak akan bisa bertahan hidup. Dari sini sangat jelas bahwa gila ilmu saja tidak cukup dijadikan sebagai orientasi.

Belajar, kalau sekedar untuk memenuhi hasrat untuk mengetahui akan percuma. Belajar filsafat misalnya, yang sering dianggap percuma karena tidak berguna di dunia kerja. Pasalnya, tidak ada satu pun instansi swasta yang memasang poster, “Dicari seorang filsuf, berpenampilan gondrong, menguasai Hermeneutika, dst.”

Lalu untuk apa belajar, berilmu, maupun menjadi filosofis jika tidak dibarengi dengan langkah pragmatis untuk minimal menjadi berkecukupan di masa mendatang?

Namun, bagaimana dengan kuliah untuk mencari ilmu sepenuhnya? Jujur saja, dari lubuk hati paling dalam kita akan menolak jika kegiatan formal mencari ilmu hanya dijadikan alat untuk tujuan yang lebih tinggi; mendapat pangkat, mencari pasangan, hingga menjilat bemper kekuasaan.

Maka, dalam dunia mahasiswa sudah lazim sebuah istilah, “Idealisme hanya ada di semester-semester awal”. Lalu seakan diperkuat dengan ucapan sakral dari Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”. Semua ini, bukannya membenarkan keadaan bahwa materi harus menjadi orientasi utama. Melainkan semacam satire dari kondisi yang memuakkan untuk dinikmati.

Dari sini, kita harus mempertanyakan kembali, mana yang benar? Apakah kita harus ada di kutub mahasiswa yang ekstrim dalam mencari ilmu? Atau kita harus mengambil pilihan yang pragmatis bagi kehidupan mendatang? Atau bahkan menggapai kedua-duanya?

Sebenarnya, pendidikan tidak perlu menjadi batu loncatan untuk mencari pekerjaan. Kenapa tidak dibalik saja? Pekerjaan yang dijadikan batu loncatan? Ada satu alasan kuat kenapa ini relevan dilakukan. Yaitu perihal rasa ingin tahu manusia. Hal ini dikemas dengan bahasa yang mudah dicerna dalam novel Dunia Sophie karya Jostein Gaarder.

Sophie, sang tokoh utama mulai menyadari bahwa semakin dewasa, kadang hilang keinginan untuk mengetahui. Ia melihat bahwa orang-orang dewasa menganggap dunia sebagaimana adanya. Mereka telah membiarkan diri terbuai dalam tidur yang memabukkan dari eksistensi yang membosankan.

Rasa ingin tahu ini, konon menjadi sebuah aktifitas yang pada mulanya dinamakan dengan aktifitas berfilsafat. Dari filsafat ini akhirnya lahir keilmuan-keilmuan yang berdiri sendiri; Ekonomi, Sosiologi, dsb.

Francis Bacon (1561-1626), seorang filsuf asal Inggris pernah berkata, “Knowledge is power” yang berarti ilmu adalah kekuasaan. Hal ini perlu digaris bawahi mengingat ilmu memang alat kita untuk merekayasa segala yang ada. Dalam konteks Islam, ilmu adalah wujud ikhtiar kita dalam menjadi Khalifah di muka Bumi.

Coba kita renungkan, kenapa bumi ini tidak diamanahkan kepada ubur-ubur, kadal, pohon cemara, undur-undur, raflesia arnoldi, dsb untuk menjadi khalifahnya. Kenapa harus manusia? Yang tiap hari kerjanya rebahan dan ngeluh pula? Jawabannya mungkin karena manusia dikaruniai akal, manusia bisa memproduksi gagasan dan pemahaman baru untuk melaksanakan fungsinya sebagai khalifah atau wakil-wakil Tuhan.

Dan, yang paling radikal adalah, manusia mampu menyadari eksistensinya. Dalam gagasannya seorang filsuf asal Jerman, Martin Heiddeger (1889-1976), manusia selalu ada dalam dunia, satu-satunya yang bisa memaknai keberadaannya sendiri dan benda-benda di sekitar. Kesadaran ini mahal, dan melahirkan banyak pertanyaan. Dari situlah akhirnya manusia berusaha untuk memahami dunianya. Bahkan, terus melakukan pemaknaan ulang terhadap realitas.

Tuhan misalnya, pemaknaan manusia masa lampau dan sekarang jelas berbeda akan satu dzat yang dinamakan Tuhan. Bahkan, perbedaan geografi membuat pemaknaan Tuhan menjadi berbeda. Banyaknya agama adalah buktinya.

Bahkan, dari perbedaan agama ini, ternyata ada banyak persamaan. Dewa Anubis dalam kepercayaan Mesir kuno yang digambarkan sebagai wujud yang berbadan manusia berkepala Jackal dan divisualkan dalam bentuk patung. Pada kepercayaan suku Aztek di Meksiko, dewa mereka juga dihadirkan dalam wujud patung. Agama Yunani kuno yang kaya akan mitologinya pun sama.

Penggambaran wujud Dewa dalam bentuk patung sudah ada sejak berabad-abad sebelum Masehi di berbagai daerah yang berbeda. Bahkan daerah yang dibatasi samudra seperti Mesir dan Meksiko sama-sama mempunyai kecenderungan yang sama untuk membuat patung dari dewa-dewa mereka.

Dan, apakah kita tidak tertarik akan hal ini? Tertarik menelitinya? Tertarik untuk mencari benang merah dan kebenaran yang terang benderang? Perlu kiranya dilakukan literasi yang tinggi dan fasilitas yang memadai untuk melakukan proyek sebesar ini.

Baik, mungkin anda tidak tertarik. Maka saya coba tawarkan hal lainnya. Pernahkah kita berpikir soal ruang dan waktu, penjelajahan planet, teleportasi, menciptakan makhluk baru, maupun penjelajahan waktu? Atau, coba kita tulis di dalam sebuah kertas. Hal-hal apa saja yang membuat kita tertarik? Kemungkinan apa saja yang ingin kita buktikan? Apa saja hal-hal mengganggu yang membuat kita bertanya-tanya?

Bahkan, tidak perlu mempertanyakan hal-hal di atas untuk memantik rasa ingin tahu kita. Cukup amati saja apa yang ada di lingkungan kita. Mengapa budaya korupsi sangat masif? Mengapa ada Nahdatul Ulama, Salafi, Muhammadiyah? Mengapa sinetron Indosiar masih laris meskipun banyak meme yang terkesan mengolok-ngolok? Mengapa perempuan suka K-Pop? Mengapa kamu ditolak doi? Mengapa manusia suka bokep? Mengapa Habib Rizieq masih ditahan? Mengapa Juliari Batubara… emm sampai sini saja lah, intinya, kita hidup dengan selalu memiliki pertanyaan dan keheranan.

Bukan tidak mungkin semua ini bisa dicari. Dengan apa? Ya jelas dengan ilmu. Dan, kalau kita pikir-pikir lagi, mencari ilmu adalah proses panjang yang memerlukan materi yang mencukupi dan konsentrasi tinggi.

Sebagai contoh kecil, mencari ilmu perlu buku, dan buku berkualitas tidaklah gratis. Kita juga butuh suasana tenang. Lalu bagaimana kita bisa tenang kalau kebutuhan perut belum tercukupi, hutang menumpuk, dsb?

Siapapun yang memilih kuliah untuk mencari kerja, mungkin bisa mempertimbangkan lagi, adakah sesuatu yang ingin digali dalam hidup? Dan, mereka yang gila ilmu bisa mempertimbangkan lagi untuk menjadi lebih realistis; bahwa mencari ilmu juga perlu materi. Sampai sini, pendidikan sebagai batu loncatan untuk mencari kerja? Kenapa tidak? Ya jelas tidak, karena kita bisa membaliknya. Pekerjaanlah yang dijadikan sebagai batu loncatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

Masih bercita-cita menjadi manusia. Pernah hijrah tapi sekarang putar balik. Seorang wibu radikal yang nyamar menjadi akademisi.

Artikel dari Penulis