Sawah Merupakan Tempat Saya Bermain Sekaligus Tempat Mencari Lauk

Sawah Merupakan Tempat Saya Bermain

Sawah Merupakan Tempat Saya Bermain Sekaligus Tempat Mencari Lauk – Bagi anak desa semacam saya ini sawah merupakan tempat yang banyak menyimpan kenangan waktu kecil. Sawah merupakan tempat yang menyenangkan untuk bermain.

Setelah pulang sekolah baik itu sekolah pagi maupun sekolah sore pasti langsung pergi ke sawah untuk bermain. Bahkan tak jarang pula, karena saking terburu-burunya untuk segera bermain sampai lupa untuk mengganti pakaian seragam. Alhasil, tidak bisa leluasa untuk bermain di sawah. Karena, kalau sampai baju seragam kotor siap-siap mendapatkan omelan dari ibu.

Beraneka macam permainan dimainkan di sawah, diantaranya perang lempung, bermain layangan, bermain sepak bola, memancing, dan lain sebagainya. Kalau anginnya lagi bagus bermain layangan, lalu kalau ada sawah yang baru panen bermain sepak bola. Sementara itu, kalau anginnya lagi tidak bagus, dan juga tidak ada sawah yang baru panen. Maka bermain perang lempung atau permainan lainnya.

Setelah puas bermain di sawah, kemudian mandi di sungai yang tidak jauh dari sawah. Tetapi, kami tidak berani mandi ketika waktu menunjukkan pukul 11 siang dan mandi di sungai melebihi pukul 5 sore. Karena rumor yang kami dengar waktu itu, kalau di waktu tersebut muncul Siluman Wiyangga. Lalu ketika ada suara Katak Bangkong, kami langsung bergegas lari. Katanya suara tersebut merupakan pertanda terbukanya pintu di dasar sungai yang tembus ke Laut Merah.

Baca juga: 5 Jajanan Waktu SD yang Membuat Nostalgia

Selain menjadi tempat bermain yang menyenangkan, sawah juga menjadi tempat untuk mencari lauk. Di antaranya adalah tanaman Gendot, belalang, dan berbagai jenis ikan yang hidup di sawah.

Tanaman Gendot biasa didapatkan oleh Ibu dan Nenek saya ketika menyiangi sawah. Sementara belalang melimpah ruah ketika padi mulai menguning, cara menangkap belalangnya dengan menggunakan sangku. Sementara itu ketika padi diberikan pestisida, berbagai jenis ikan yang hidup di sawah pun pada bermunculan, pada pingsan. Maka dengan mudahnya diserok menggunakan sangku, tanpa perlu memancing.

Tanaman Gendot lebih enak diolah dengan cara ditumis. Sedangkan belalang dan ikan lebih enak diolah dengan cara digoreng. Ditambah kalau makannya langsung di sawah, akan terasa begitu nikmat.

Kalau hari Ahad, bisa sehari-hari bermain di sawah. Pagi hari sehabis salat subuh paling enak jalan pagi bersama menikmati sejuknya udara pagi dan melihat hamparan sawah sejauh mata memandang di kanan kiri jalan. Setelah jalan pagi, pulang ke rumah masing-masing untuk sarapan lalu berkumpul kembali untuk mandi di sungai. Kemudian lanjut lagi deh main di sawah.

Sementara saya, setelah mandi di sungai tidak ikut bermain lagi di sawah. Jika sawah milik kakek lagi labuhan. Saya pasti disuruh untuk mengantarkan rantam dan poci untuk makan siang para pekerja di sawah kakek.

Para pekerja tersebut bekerja dari mulai pukul 07.30 pagi sampai pukul 11.00 siang, sehingga rantam dan poci harus sudah sampai ke tujuan sebelum pukul 11.00 siang. Oleh karena itu, sekitar pukul 09.00 nenek sudah selesai menanak nasi, membuat lauk, menyeduh teh untuk para pekerja di sawah.

Pukul 09.30 berangkatlah saya dari rumah untuk mengantarkan rantang dan poci ke sawah. Saya membawa rantang di tangan kiri dan poci di tangan kanan. Saya juga membawa tas kecil untuk menaruh kotak makan dan  botol minum.

Karena sawah kakek terletak paling pucuk sekali, saya baru tiba di tempat tujuan pukul 10.00 siang. Sepanjang perjalanan begitu menyenangkan, meskipun beberapa kali hampir terpleset. Dari sawah milik kakek pemandangan terlihat begitu indah sekali dan kota pun terlihat begitu jelas. Kalau cuaca sedang cerah, birunya laut pun terlihat. Padahal jarak kota dan pantai dari desa saya amatlah jauh. Saya pun menikmati bekal sembari melihat pemandangan yang indah.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Penulis Lepas & Imam Besar Republik Mahasiswa Rebahan.

Artikel dari Penulis