Biografi RA Kartini, Pejuang Pendidikan Wanita Pribumi

Biografi RA Kartini

Biografi RA Kartini, Pejuang Pendidikan Wanita Pribumi

Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April dan ini telah ditetapkan sejak tanggal 2 Mei 1964 oleh presiden Soekarno. Hari Kartini ditetapkan sebagai Hari Besar Nasional sebagai wujud penghormatan atas jasa-jasa R. A. Kartini dalam memperjuangkan hak-hak wanita terutama dalam bidang pendidikan.

Latar Belakang

Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau yang biasa disebut R. A. Kartini merupakan sosok perempuan kelahiran 21 April 1879. Ia merupakan keturunan bangsawan, yaitu putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosoningrat dan M. A. Ngasirah. Ayahnya seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara dan ibunya adalah seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara, termasuk saudara kandung dan tiri. Tanggal 12 November 1903 ia dijodohkan dengan bupati Rembang yang bernama K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang sudah pernah menikah tiga kali. Pernikahannya dengan bupati Rembang memiliki seorang anak yang bernama Soesalit Djojo Adhiningrat, lahir pada 13 September 1094 yang merupakan anak satu-satunya dari sosok RA Kartini.

RA Kartini merupakan sosok perempuan yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) hanya sampai usia 12 tahun. Di sekolah ini juga ia mempelajari bahasa Belanda. Lantas mengapa ia hanya bersekolah sampai usia 12 tahun saja? Karena setelah usia 12 tahun ia sudah bisa dipingit dan harus tinggal di rumah. Namun, tidak bisa bersekolah bukan menjadi alasan untuk tidak belajar bagi RA Kartini. Ia sangat tertarik dengan kemajuan berpikir perempuan Eropa. Ketertarikannya itu ia dapatkan dadi buku, koran, dan majalah Eropa.

Karena Kartini lancar berbahasa Belanda, banyak buku-buku yang sudah ia baca dan ia gunakan untuk belajar sebelum berusia 20 tahun. Di antara buku-buku yang ia baca adalah De Stille Kraacht karya Louis Coperus dan karya Van Eden, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli.

Baca juga: Biografi Malala Yousafzai, Pejuang Pendidikan Peraih Nobel Termuda

Awal pada abad ke-19 situasi politik Hindia-Belanda memang sedang tidak menentu, dan dari sana Kartini menyaksikan beberapa kejadian menempatkan perempuan di situasi yang merugikan. Salah satu situasi yang merugikan perempuan adalah perempuan disebut sebagai “Konco Wingking” yang berarti perempuan hanya pantas mengurusi urusan rumah tangga dan mengasuh anak. Situasi politik yang tidak menentu ditambah dengan pengaruh adat dan budaya yang semakin menguat membuat perempuan-perempuan pribumi menjadi terbelakang, terutama dalam hal pendidikan.

Perjuangan

Dalam beberapa biografi RA Kartini dijelaskan bahwa tujuan utama perjuangannya adalah untuk membebaskan keterbelakangan perempuan dalam hal pendidikan. Mendirikan sekolah untuk perempuan-perempuan bangsawan menjadi saksi dimulainya perjuangan seorang Kartini. Ia bertekad dengan adanya sekolah ini dapat memperbaiki kedudukan kaum wanita di mata masyarakat utamanya dalam hal memperoleh pendidikan yang layak. Untungnya ia menikah dengan sosok yang juga membebaskan dan mendukung keinginannya dalam hal ini.

Hingga akhirnya Kartini dikenal sebagai sosok pejuang Emansipasi Wanita yang memiliki makna memperjuangkan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan dalam masyarakat terutama dalam hal pendidikan. Pendidikan sendiri menjadi tombak utama dalam rangka memperjuangkan hak-hak wanita untuk memperoleh persamaan, kebebasan, serta kesetaraan hukum.

Surat-surat yang ditulis oleh RA Kartini juga menjadi bukti perjuangannya dalam memperbaiki kedudukan wanita di tengah-tengah masyarakat. Ia menuliskan keluhan-keluhannya terkait nasib wanita terutama di Jawa tempatnya bertumbuh yang banyak terhambat oleh adat. Cita-citanya akan kebebasan wanita pribumi untuk belajar dan menuntut ilmu ia torehkan dalam tulisan-tulisanya.

Hingga tulisan dalam surat-suratnya tersebut dikumpulkan dalam sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan tentunya ikut andil dalam mempopulerkan namanya. Buku ini berisi terjemahan-terjemahan dari surat Kartini yang diterjemahkan oleh Armijn Pane, salah seorang sastrawan Pujangga Baru. Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” ini diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1922.

Penghargaan kepada Sosok RA Kartini

Ada banyak bentuk penghargaan dan penghormatan kepada Kartini, seperti W.R. Soepratman menciptakan lagu dengan judul ‘Ibu Kita Kartini’ yang tentunya sudah kita kenal hingga saat ini.

Baca juga: Kekuatan Tulisan Kartini

Ada juga film yang mengisahkan biografi RA Kartini, seperti film berjudul ‘RA Kartini’ yang diproduksi pada tahun 1982 dan disutradarai oleh Sjumandjaja, kemudian ‘Surat Cinta untuk Kartini’ yang rilis pada tahun 2016 dan disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis, serta film terbaru berjudul ‘Kartini’ yang dirilis pada tahun 2017 dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Kemudian penetapan Hari Kartini dan penetapan Kartini sebagai salah satu Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Soekarno pada tanggal 2 Mei 1964 menjadi bukti bahwa apa yang diperjuangkan oleh RA Kartini semasa hidupnya sangatlah besar pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.

Kartini sendiri meninggal tepat di usia 25 tahun, tepatnya pada tanggal 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan sang putra. Ia dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Namun, namanya akan selalu dikenal, dikenang, dan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia.

Itulah biografi RA Kartini secara singkat dari latar belakang, perjuangan, hingga penghormatan sepeninggal beliau.

Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Halo, kenalkan namaku Evi Umi Azizah, aku berasal dari Kota Blitar. Saat ini, aku sedang melanjutkan studi di Universitas Nahdlatul Ulama Blitar jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Kenalan lebih dekat yuk, dengan mengunjungi akun twitter di @azizah1_evi dan akun instagramku di @eviaziizah.

Artikel dari Penulis