Bagaimana Sebuah Negara Mempunyai Bargaining Position?

Bargaining Position

Bagaimana Sebuah Negara Mempunyai Bargaining Position? – Gita Wirjawan merupakan salah satu lulusan Universitas Harvard, Amerika Serikat yang menilai bahwa produktifitas yang memegang peranan penting sebagai pendorong Indonesia untuk menjadi negara maju. Konsep produktivitas yang sering Pak Gita ucapkan pada generasi muda untuk berkembang, karena dalam melakukan pembinaan kerjasama antar beberapa negara atau hanya dengan satu negara yang dilihat adalah di mana tingkat produktivitasnya. 

Semakin tingkat produktivitas kita tinggi, semakin kita punya bargaining position yang tinggi dan sebaliknya kalau produktivitas kita itu semakin rendah, maka semakin kita memiliki kesan yang lemah.

Konteks bilateralisme yang mendapatkan keuntungan adalah negara-negara yang memiliki tingkat produktivitas tinggi salah satunya adalah Singapura. Berdasarkan data Asian Productivity Organization (APO) yang diterbitkan dalam APO Productivity Databook 2020, produktivitas perorang Indonesia tertinggal jauh dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. 

Produktivitas marginal Singapura sebesar USD 149.100 perorang pertahun, artinya adalah kapasitas rata-rata orang di Singapura untuk memproduksi barang dan jasa itu nilainya enam kali lebih lipat dibandingkan Indonesia yang hanya berkisar USD 23.900 perorang pertahun. Produktivitas orang Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara seperti Malaysia dengan produktivitas perorang sebesar USD 55.400 atau lebih dari dua kali lipat orang Indonesia.

APO Productivity Database 2020

Tentunya harus ada pendekatan atau penyesuaian kenyataan yang membuat masyarakat mengerti bahwasanya tingkat produktivitas marginal kita masih rendah, sehingga kita dapat menyadari bahwasanya produktivitas marginal suatu negara berkesinambungan dengan cepat atau lambatnya pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Gender dan Kemiskinan

Pria yang pernah menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia tahun 2009-2012 itu mengatakan sejauh mana perubahan yang harus dilakukan:

1. Infrastruktur 

Semakin infrastrukturnya tersedia akan menurunkan biaya transportasi. Semakin kecil biaya untuk mengirimkan barang dan jasa akan meningkatkan produktivitas masyarakat.

2. Inklusi Keuangan (World Bank)

Akses bagi setiap orang atau bisnis untuk bisa memanfaatkan produk ataupun layanan keuangan. Semakin masyarakat luas di suatu negara mengetahui inklusi keuangan, semakin mereka memiliki akses ke modal, dan semakin mereka memiliki akses modal yang suku bunganya rendah maka semakin meningkat pula produktivitasnya.

3. Pendidikan 

Semakin masyarakat suatu negara memiliki pendidikan maka akan semakin bisa melakukan scale up. Dampaknya peningkatan sumber daya manusia yang bisa memproduksi barang dan jasa dengan efisien akan lebih tinggi. Menyebabkan produktivitas masyarakat semakin tinggi.

Produktivitas juga memerlukan modal, karena dengan modal kita bisa meningkatkan kualitas pendidikan, dan melalui modal kita juga bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur. Modal juga dapat meningkatkan inklusi keuangan. Dengan memberikan akses modal yang lebih besar kepada para pelaku UMKM, mereka bisa melakukan hal-hal yang lebih produktif dibanding sebelumnya.

Apabila kita kupas lagi mengenai permodalan, dapat dibagi menjadi dua yaitu dalam negeri (Domestic Direct Investment) dan luar negeri (Foreign Direct Investment). Modal yang datang dari dalam negeri berkorelasi dengan uang beredar yang ada di suatu perekonomian. Bahwasanya uang beredar di Indonesia itu relatif masih kurang sebagai rasio terhadap ekonomi. Uang yang beredar di Indonesia itu masih di bawah 50%. Ini jauh di bawah rasio uang beredar terhadap PDB yang ada di negara-negara maju. 

Di Singapura rasio uang beredar terhadap ekonominya itu di atas 125%. Negara-negara maju lainnya seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, Tiongkok, dan Jepang rasio uang beredar terhadap PDB mereka masing-masing itu berkisar antara 150% hingga 250%.

Baca juga: 5 Tips Agar Tidak Mudah Terjebak Investasi Bodong

Permodalan atau penanaman modal dalam negeri harus memikirkan rasio uang yang beredar terhadap perekonomian kita. Bagaimanapun permodalan harus ditingkatkan ke tingkat yang ideal, supaya rasio uang yang beredar terhadap ekonomi di Indonesia bisa secara bertahap meningkat atau melebihi angka 100%. Memang kita perlu kerja keras untuk mewujudkannya.

Apa yang membedakan Singapura dengan kita semua? 

Pertama,  perlu kita perhatikan mereka sangat mengedepankan talenta. Menarik talenta dari seluruh dunia dan memastikan bahwa Singapura adalah tempat yang nyaman untuk para talenta-talenta tersebut. Menarik talenta terbaik dari seluruh dunia untuk bisa bekerja di Singapura membuat mereka bisa meningkatkan produktivitas dan profesionalisme. 

Kedua, kita bisa melihat bahwasanya Singapura cukup dekat dengan dunia barat dan Tiongkok. Meskipun dalam beberapa dekade terakhir bisa dibilang mereka lebih dekat dengan dunia barat. Mereka bisa dengan mudah mendatangkan modal dari seluruh dunia khususnya dari dunia barat. Dunia barat melihat Singapura sebagai destinasi modal yang bisa dipertanggungjawabkan dan bisa mempertanggungjawabkan dirinya (Integrity). Selain itu di Singapura penegakan hukumnya sangat jelas (Legal Certainty).

Jika kita mau belajar dari Singapura, hal pertama yang harus dipelajari ialah bagaimana meningkatkan penanaman modal dari dalam dan dari luar negeri. Kedua, bagaimana cara kita meningkatkan produktivitas setelah modal datang. Produktivitas meningkat akan memberikan ruang yang dapat melakukan transaksi untuk tren baru yang akan datang. Di masa depan persaingan akan semakin berat, mau tidak mau kita harus menyikapi perubahan dengan meningkatkan produktivitas kehidupan.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Salman Al Farisi

Aulia Diar Rahman, seorang manusia biasa yang tinggal dipinggir kota Sidoarjo, pernah menempuh pendidikan disalah satu universitas negeri di Kota Pahlawan.

Artikel dari Penulis