Cara Menulis Footnote (Catatan Kaki) Lengkap Sistematika dan Contoh

Cara menulis footnote

Artikel ini akan membahas lengkap tentang cara menulis footnote atau catatan kaki, sistematika membuat catatan kaki, serta contoh catatan kaki atau footnote itu sendiri.

Catatan kaki (footnote) bukanlah hal baru bagi para penulis atau mahasiswa. Catatan kaki biasanya digunakan di dalam tugas-tugas kuliah, makalah, esai, karya tulis, hingga karya sastra. Namun, masih banyak yang kebingungan bagaimana cara menulis footnote (catatan kaki) karena sistematika penggunaannya yang cukup rumit. Apalagi jika tidak terbiasa menggunakannya. Untuk mengetahui lebih jauh cara pembuatannya, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu catatan kaki atau footnote itu sendiri.

Pengertian Catatan Kaki (Footnote)

Secara singkat, catatan kaki adalah sebuah rujukan atau referensi yang terletak di bawah halaman dan diberi tanda angka kecil seperti ini (1).

Selain memiliki fungsi sebagai bahan rujukan, acuan, atau referensi, catatan kaki juga mempunyai fungsi lain, yaitu sebagai bahan penjelas dalam suatu karya tulis jurnalistik, populer, maupun ilmiah. Menurut modul Bahasa Indonesia: Pengantar Penulisan Ilmiah, catatan kaki (footnote) memiliki beberapa fungsi, yaitu:

  • Bukti pembenaran atas penulis lain
  • Sebagai bentuk terima kasih kepada penulis asli, karena tulisannya dijadikan bahan rujukan atau kutipan
  • Sebagai bahan penjelas atau tambahan yang tidak memiliki keterkaitan secara langsung terhadap karya yang sedang ditulis
  • Sebagai bahan rujukan di suatu karya, sehingga wajib dipertanggungjawabkan oleh seorang penulis ketika dia mengutip karya orang lain.

Sistematika Penulisan Catatan Kaki (Footnote)

1. Dilambangkan dengan superskrip angka kecil

Terkait sistematika penulisannya, catatan kaki ditulis dengan lambang superskrip berupa angka kecil (1) dan terletak di bawah halaman. Contoh penulisan catatan kaki bisa dilihat di bawah ini:

2Sonic Abiyyu, Pokok Pikiran Cinta (Ngawi: Kartini Media, 2020), hlm. 4.

Dalam contoh tersebut, nama penulis, judul karya yang dikutip, lokasi serta nama penerbit, tahun terbit, dan nomor halaman tertera jelas sesuai urutan.

Baca juga: Cara Penulisan Daftar Pustaka dengan APA Style

2. Penulisan nama

Hal penting yang harus diperhatikan yaitu adanya perbedaan dalam cara menulis footnote (catatan kaki) dengan daftar pustaka. Daftar pustaka memiliki sistematika berupa pembalikan nama (nama penulis dibalik, nama belakang diletakkan depan), sedangkan penulisan nama dalam catatan kaki tidak perlu dibalik. Penulisannya cukup ditulis Sonic Abiyyu, bukan Abiyyu, Sonic. Jika penulisnya 2 orang maka ditulis lengkap keduanya, dan jika penulisnya lebih dari 2 orang maka ditambahkan “, dkk” atau “, et al.” setelah nama penulis pertama.

3. Tanda pemisah dengan koma (,)

Selain penulisan nama, terdapat perbedaan lagi antara daftar pustaka dengan footnote, yaitu pada aspek tanda baca. Pemisahan jarak antara nama dan judul dipisah menggunakan tanda baca koma, bukan titik. Antara judul dengan data terbit juga tidak perlu dipisahkan menggunakan tanda baca, langsung saja.

Contoh Catatan Kaki

Catatan Kaki dari Buku

Catatan kaki yang bersumber dari buku mengikuti aturan atau sistematika yang telah dijelaskan di atas. Sebagai tambahan, untuk catatan kaki yang bersumber dari buku dalam penulisan judul bukunya ditulis miring tanpa tanda petik. Contohnya sebagai berikut.

1Sonic Abiyyu, Pokok Pikiran Cinta (Ngawi: Kartini Media, 2020), hlm. 4.

Selain itu, umumnya jika sumbernya adalah buku, sistematika penulisan footnote (catatan kaki) terkadang juga disederhanakan agar tidak ditulis berulang. Caranya adalah dengan menggunakan Ibid., Op. cit, dan Loc. Cit.

Apa itu Ibid., Op. cit, dan Loc. Cit??

Ibid.

Digunakan saat terjadi pengulangan rujukan karya di nomor sebelumnya, seperti

1Sonic Abiyyu, Pokok Pikiran Cinta (Ngawi: Kartini Media, 2020), hlm. 4.

2Ibid., hlm. 5.

Jadi, tidak perlu mengulang bahan rujukan yang sama di catatan kaki, cukup tulis ibid. saja.

Op.cit

Digunakan saat terjadi pengulangan rujukan karya di nomor sebelumnya, namun terdapat selingan karya lain, seperti

1Sonic Abiyyu, Pokok Pikiran Cinta (Ngawi: Kartini Media, 2020), hlm. 4.

2Ivans Alhamda, Jalan Terjal (Jakarta: Karanggeneng, 2021), hlm. 12.

3Abiyyu, Op. Cit., hlm. 6. (Jika halamannya sama, maka harus diganti menjadi loc. cit.)

*Cukup menggunakan nama belakang jika sudah menggunakan Op. Cit.

Loc. cit

Digunakan ketika terdapat persamaan nomor halaman di salah satu sumber yang sebelumnya telah dikutip, meskipun diselingi kutipan lain. Contohnya sebagai berikut:

1Sonic Abiyyu, Pokok Pikiran Cinta (Ngawi: Kartini Media, 2020), hlm. 4.

2Ivans Alhamda, Jalan Terjal (Jakarta: Karanggeneng, 2021), hlm. 12

3Abiyyu, Loc. Cit. (Menggunakan loc. cit. dikarenakan halaman rujukannya sama seperti di footnote 1 (halaman 4).

Contoh Catatan Kaki dari Sumber selain Buku

Selain catatan kaki atau footnote yang bersumber dari buku, ada juga yang bersumber dari selain buku, berikut contoh penulisannya:

– Jurnal ilmiah

1Ali Mursyid, dkk., “The Research Agenda of Green Education in Enhancing Environmental Concern and Green Consumption”, Studies in Learning and Teaching, 2(1), 2021, hlm. 1.

– Koran atau surat kabar

1Koran Jawa Timur, 10 Agustus 2015, hlm. 4.

– Majalah

1Ade Iwan Setiawan, “Pasang Surut Perekonomian Indonesia” Tempo, 20 Desember 2016, hlm. 44.

Website atau internet

1Aulia Diar Rahman, “Pola Pikir yang Menentukan Kualitas Diri”, Kapito.Id, diakses dari https://kapito.id/sans/pola-pikir-yang-menentukan-kualitas-diri/, pada tanggal 7 Mei 2022.

Berdasarkan macam-macam contoh catatan kaki yang telah diberikan, tentunya kamu memiliki bayangan akan tata cara penulisan footnote di dalam tulisanmu kan. Kamu boleh simpan atau bookmark artikel ini, agar saat kamu lupa cara penulisannya, bisa langsung mencontek melalui contoh-contohnya.

Nah, itulah beberapa panduan singkat tentang cara menulis catatan kaki (footnote), semoga kamu tidak kebingungan lagi. Kamu juga bisa menyesuaikan catatan kaki dengan gaya penulisanmu.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Kennis zonder daad is doelloos, daad zonder kennis is richtingloos.

Artikel dari Penulis