Tidak Semua Pria Cocok Berambut Gondrong dan Saya adalah Salah Satunya

Tidak Semua Pria Cocok Berambut Gondrong

Tidak Semua Pria Cocok Berambut Gondrong dan Saya adalah Salah Satunya – Gondrong adalah pilihan bagi sebagian pria. Meskipun terkesan urakan secara penampilan, bukan berarti sikapnya juga ikut urakan. Ada beberapa publik figur bahkan pebisnis profesional yang memilih untuk memanjangkan rambutnya.

Salah satu contoh pebisnis yang memiliki rambut gondrong adalah Moxie Marlinspike, CEO dari Signal Messengers. Jika dilihat dari depan, Anda mungkin tidak akan melihat kegondrongannya. Namun, perhatikan bagian belakangnya. Pada bagian tersebut, beliau mengikat rambutnya dengan gaya gimbal. 

Di Indonesia sendiri, sempat ada sosok Chef Juna yang berambut gondrong. Dalam beberapa musim penyelenggaraan Masterchef yang lalu, chef yang terkenal tegas tersebut sempat membiarkan mahkota di kepalanya memanjang hingga bahu. 

Gara-gara mereka, saya kemudian jadi terobsesi untuk menjadi seorang pria gondrong. Terlebih dengan adanya pandemi Covid-19 seperti sekarang, dimana pergerakan orang ke tempat umum menjadi terbatas. Dengan demikian, keinginan saya untuk menjadi gondrong pun semakin menjadi-jadi.

Tercatat sejak Februari 2020 hingga Januari 2021, saya memanjangkan mahkota yang berada di kepala. Dalam kurun waktu hampir setahun tersebut, otomatis helai-helai rambut saya kemudian menjulur hingga ke bahu. Itu merupakan rekor pribadi bagi saya. Sebelumnya, panjang rambut saya hanya sampai menutupi telinga saja.

Meskipun demikian, tidak mudah bagi saya untuk menjalani kehidupan sebagai seorang pria gondrong. Alih-alih terlihat keren, saya justru malah terlihat seperti orang yang tak bisa mengurus dirinya sendiri.

Hal ini tidak terlepas dari struktur rambut saya yang bertipikal wavy alias bergelombang. Jika rambut saya berada dalam kondisi kering, biasanya ia akan megar ke atas dan berbentuk awut-awutan. Terlebih jika habis bangun tidur. Mirip-mirip seperti Super Saiyan lah. Hehehe. 

Gara-gara hal tersebut, Bunda (sebutan untuk tante saya) dan Om acapkali menyuruh saya untuk memangkas rambut. Setiap saya mampir ke rumah Om, kalimat ‘cukur rambutnya dong’ hampir pasti selalu bertandang ke telinga saya. 

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk memangkas rambut di akhir bulan Januari 2021. Saya sendiri memilih pergi ke barbershop. Meskipun harus membayar mahal, setidaknya saya bisa mendapatkan tatanan rambut yang badass dari tempat tersebut.

Baca juga: Tidak Ada Rahasia Khusus Menggondrongkan Rambut selain Sabar

Sempat terjadi pergolakan batin ketika saya tiba di barbershop. Pada saat itu, kapster yang akan mencukur rambut saya bertanya, “Yakin nih masbro mau mencukur rambut? Sayang banget lho, padahal rambutnya sudah panjang begini”.

Mendengar kalimat yang keluar dari sang kapster, sempat terbesit rasa ingin mengundurkan diri alias pulang. Meskipun demikian, saya sudah berkomitmen untuk memangkas rambut. Masa iya sudah jauh-jauh datang tapi tidak jadi dicukur? Rugi bandar kalau gini mah

Saya sendiri memilih gaya rambut pompadour pada saat itu. Gaya rambut dengan bagian atas yang mengembang tersebut saya pilih berdasarkan pengalaman serta eksperimen dengan rambut sendiri selama beberapa tahun. Dari semua model rambut yang pernah dicoba, pompadour adalah model rambut terbaik yang mampu memaksimalkan ketampanan saya. Hehehe.

Kemudian, saya kembali membiarkan rambut tumbuh panjang hingga bulan September 2021. Panjang rambut saya pada saat itu tidak seekstrim seperti sebelumnya. Andai bukan karena keperluan mengikuti tes CPNS, mungkin saya masih akan menjadi pria gondrong hingga sekarang.

Selama menjalani hidup sebagai pria gondrong, saya kemudian menyadari satu hal. Ternyata, tidak semua pria dapat berjodoh dengan rambut panjang. Salah satunya adalah saya. 

Memiliki rambut panjang alias gondrong justru lebih membutuhkan perawatan yang ekstra. Gara-gara kecuekan saya plus kurangnya dana untuk perawatan rambut, kepala saya acapkali merasa gatal ketika berambut gondrong.

Saya adalah seorang penulis pemula sekaligus pelukis amatir.

Artikel dari Penulis