Habib Hamid bin Abbas Bahasyim dan Perannya dalam Syiar Islam di Kota Banjarmasin – Kalimantan Selatan adalah provinsi yang mayoritas penduduknya adalah suku Banjar, dan sebagian besar beragama Islam. Berdasarkan sensus terbaru, lebih dari 97% penduduk Kalimantan Selatan memeluk agama Islam (Rika, 2023). Angka yang sangat besar ini tentu bukan hal yang terjadi begitu saja, melainkan hasil dari upaya dakwah yang dilakukan, terutama oleh para ulama.
Di kota Banjarmasin, salah satu ulama yang sangat dihormati adalah Habib Hamid bin Abbas Bahasyim.
Islamisasi di Banjarmasin
Proses Islamisasi di Banjarmasin dapat dipahami dalam kerangka sejarah Islamisasi Nusantara yang banyak diteliti oleh para sejarawan seperti Syed Muhammad Naquib Al-Atthas, Hoesien Djajadiningrat, dan Azyumardi Azra. Mereka menjelaskan bahwa Islamisasi di wilayah Nusantara, termasuk Banjarmasin, berlangsung melalui berbagai saluran, seperti perdagangan, perkawinan, tasawuf, dan pendidikan. Khususnya di Banjarmasin, saluran Islamisasi sangat terkait dengan peran sungai sebagai pusat pertemuan berbagai kelompok masyarakat.
Sungai bukan hanya sebagai jalur transportasi, tetapi juga sebagai tempat bertemunya berbagai budaya. Islam, menurut Azyumardi Azra, mulai dikenal di Kesultanan Banjarmasin pada awal abad ke-16, dan menjadi agama resmi istana. Penyebarannya pun terus berlangsung seiring waktu (Noor, 2012).
Baca juga: Habib Hasyim bin Musyayakh bin Yahya, Ulama yang Mengislamkan Raja Kutai Kertanegara
Menurut Hikayat Banjar, salah satu saluran utama penyebaran Islam di Banjarmasin adalah perdagangan. Jalur perdagangan ini membentuk jaringan kota-kota dagang Islam, yang memungkinkan masuknya pengaruh Islam ke Banjarmasin melalui pedagang Muslim dari berbagai daerah, termasuk pedagang Arab dari Hadramut. Pedagang Arab mulai datang ke Banjarmasin sekitar tahun 1520 M, membawa serta ajaran Islam, termasuk salah satunya adalah Habib Hamid bin Abbas Bahasyim.
Biografi Habib Hamid bin Abbas Bahasyim
Habib Hamid bin Abbas Bahasyim, yang lebih dikenal dengan nama Habib Basirih, lahir sekitar tahun 1860-an. Pada masa mudanya, Habib Hamid belajar ke Mekkah, mendalami ilmu agama Islam dari ulama-ulama besar. Setelah kembali, ia aktif mengajar dan berdakwah, khususnya di daerah Basirih.
Menurut Mansyur, Dosen Sejarah Universitas Lambung Mangkurat, pada masa lalu, Basirih adalah sebuah daerah yang masih berupa hutan belukar. Di sinilah Habib Hamid lahir, di sebuah rumah ba’anjung yang dibangun pada tahun 1856. Ayahnya, Habib Abbas Bahasyim, adalah seorang saudagar kaya, sementara kakeknya, Habib Abdullah Bahasyim, adalah penasihat agama bagi Sultan Sulaiman, raja Banjar ke-17, pada tahun 1808-1825 (Sidik, 2023).
Habib Hamid hidup melewati tiga zaman: masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, dan masa kemerdekaan. Ia wafat pada tahun 1946 dalam usia sekitar 90 tahun (Rika, 2023). Sebagai ulama, beliau tidak hanya mengajar, tetapi juga aktif sebagai muballigh yang memimpin berbagai pengajian. Masyarakat menganggapnya sebagai seorang wali yang memiliki berbagai karomah.
Dakwah Islam oleh Habib Hamid
Dalam kitab Tanhibul Ghafilin, dijelaskan bahwa seorang wali memiliki sifat-sifat seperti hati yang bersih, rendah hati, suka memberi nasihat, dan penuh kasih sayang kepada sesama. Misi utama seorang wali adalah untuk mengajak umat manusia mendekatkan diri kepada Allah.
Habib Hamid dikenal sebagai ulama kharismatik dengan beberapa kelebihan yang membuatnya dihormati. Ia bukan hanya seorang pemimpin spiritual, tetapi juga sumber inspirasi bagi umat Islam. Beberapa peran yang dijalankan Habib Hamid dalam dakwahnya adalah:
- Pembimbing spiritual – Memberikan nasihat kepada umat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
- Sumber inspirasi dan motivasi – Kisah hidup Habib Hamid menjadi motivasi bagi umat Islam untuk lebih giat dalam menjalankan ajaran agama.
- Pelembut hati – Keberadaan beliau membantu melembutkan hati umat Islam, mendorong mereka untuk kembali ke jalan yang benar.
- Pemelihara tradisi sufi – Habib Hamid memelihara praktik spiritual yang mendalam, seperti dzikir dan meditasi, untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah (Suraji, 2024).
Baca juga: Dakwah Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri (Pangeran Wirokusumo) dan Penyebaran Islam di Kota Jambi
Habib Hamid bin Abbas Bahasyim adalah sosok ulama yang tak hanya dikenal karena keilmuannya, tetapi juga karena keteladanannya dalam berdakwah dan membimbing umat. Perannya dalam menyebarkan Islam di Banjarmasin, baik melalui pengajian, nasihat spiritual, maupun perilaku sehari-hari, telah memberikan pengaruh besar bagi masyarakat setempat.
Warisan dakwah beliau terus hidup hingga kini, menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga dan mengembangkan ajaran Islam di Kalimantan Selatan. Sosoknya mengingatkan kita bahwa dakwah tidak selalu harus melalui kata-kata, tetapi juga bisa melalui akhlak mulia dan tindakan nyata. Dengan mengenang perjuangan beliau, diharapkan semangat syiar Islam di Banjarmasin akan terus berkobar, sejalan dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Referensi
Rika. (2023). Tradisi Ziarah ke Kubah Habib Basirih (Habib Hamid bin Abbas Bahasyim). Tashdiq Jurnal Kajian Agama dan Dakwah.
Noor, Y. (2012). Sejarah Perkembangan Islam di Banjarmasin dan Peran Kesultanan Banjar (Abad XV-XIX). Al-Banjari.
Mansyur. (t.thn.). Habib Basirih Sebuah Warna Dalam Syiar Islam di Kota Banjarmasin. Banjarmasin: Pemerintah Kota Banjarmasin dan Arti Bumi Intaran.
Kumparan. (2022, November 1). 10 Sifat Wali Allah yang Mampu Mengajak Umat Manusia untuk Beriman. Diambil kembali dari kumparan.com.
Suraji, A. (2024). Peran Kewalian Habib Basirih dalam Pengembangan Spiritualitas Islam di Banjarmasin . Banjarmasin: Tesis Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin.
Sidik, I. j. (2023, November 9). Tahulah Pian, habib Basirih Sosok Ulama besar di Banjarmasin. Diambil kembali dari radarbanjarmasin.com.














