Meluruskan Pemahaman Salah Kaprah Orang-Orang tentang Madiun: Kota Gadis

Pemahaman Madiun Kota Gadis

Meluruskan Pemahaman Salah Kaprah Orang-Orang tentang Madiun: Kota Gadis – Madiun, sebuah kota karesidenan yang berada nyaris di tepi barat provinsi Jawa Timur dengan segudang julukan yang melekat padanya. Mulai dari Kota Pecel, Kota Brem, hingga akhir-akhir ini menyabet julukan baru yakni Kota Pendekar. Lah gimana enggak, ada sekitar empat belas perguruan silat yang lahir dan membumi di Madiun.

Selain beberapa julukan yang tersemat di atas, Madiun juga memiliki julukan lain yakni “Kota Gadis“.

Seingat saya waktu kecil, julukan Madiun – Kota Gadis bertebaran di setiap sudut kota.  Dari baliho ke baliho, hingga seperti sesuatu yang diukir pada tembok kota yang saat ini masih dapat ditemukan di pojok perempatan jalan Kolonel Marhadi arah alun-alun kota.

Bagi saya yang lahir ceprot di Madiun dan kini merantau di kota besar, seringkali dihujani pertanyaan kawan-kawan dari kota lain seputar julukan Kota Gadis ini. Dan ini memunculkan imaji aneh dalam benak mereka, seperti bahwa masyarakat Madiun dihuni oleh banyak gadis cantik. Maka tak jarang, ada beberapa di antaranya yang bercita-cita ingin memiliki pacar atau bahkan menikah dengan orang Madiun.

Saya yang asli wong Madiun tentunya paham, karena saya di waktu kecil juga punya pemikiran serupa dengan mereka yang awam. Tahun demi tahun, kepercayaan saya perlahan memudar dan mulai mempertanyatakan hakikat dari Madiun si Kota Gadis.

Karena di Madiun sendiri populasi gadisnya juga tidak sebanyak yang orang kira. Atau di Madiun sendiri juga tidak ada wanita yang menjadi pahlawan atau tokoh daerah yang sakral dan dikenal seperti Raden Ajeng Kartini.

Parahnya, saya baru mencari tau tentang asal muasal julukan Kota Gadis ini setelah enam belas tahun saya hidup di Madiun. Itupun, karena pertanyaan iseng yang saya ajukan kepada bapak. Kala itu, saya dan bapak sedang dalam perjalanan pulang dari pasar dan tengah terpaksa menuntun sepeda motor tua yang aduhai sialnya mengalami ban bocor di tengah kota.

Untuk melepas lelah, saya mengalihkan perhatian pada hal lain sembari mendorong motor tua bareng bapak. Saya sesekali menoleh kanan kiri melihat apa-apa saja yang kami lintasi. Kota terasa lebih besar dari biasanya atau memang karena saya yang jarang mengamatinya dengan seksama.

Tak sengaja, mataku tertuju pada tulisan “Madiun – Kota Gadis” yang terpampang di baleho besar pada sudut jalan. Dengan segala kegundahan hati yang mulai menumpuk akan slogan tersebut, iseng iseng saya bertanya pada bapak tentang arti dari slogan ini.

Pak, mediun kota gadis iki sakjane sopo sing njenengi? Wong wadon e perasaan yo biasa ae” (Pak, Madiun Kota gadis itu sebenarnya siapa yang menamai? Ceweknya perasaan juga biasa saja), tanyaku dengan sedikit berteriak, mengingat kalau pelan suara saya pasti akan tenggelam oleh lalu-lalang kendaraan kota. Alasanku bertanya demikian juga mungkin karena membandingkan antara Madiun dengan Bandung, Kota Kembang. Terkenal dengan wanita yang memang ndilalah ayu-ayu.

Sontak bapak menjawab “Ngawur kowe, Madiun Kota Gadis kuwi artine Madiun kota perdagangan, pendidikan, dan perindustrian, ora enek hubungane karo cah wadon” (Ngawur kamu ini, Kota Gadis itu maksudnya Madiun adalah kota perdagangan, pendidikan, dan perindustrian, tidak ada hubungannya dengan cewek).

Peh! Jebule sangar tenan, pak” (Wah! Ternyata keren, pak), saya yang masih SMP kala itu dibuat agaknya sedikit bangga dengan julukan kota yang saya baru tau kepanjangannya itu. Kiranya juga perlu dihargai si pembuat julukan Kota Gadis. Kreativitas yang melebur dalam doa dan harapan masyarakat kota, sekaligus yang membuat saya penasaran dibuatnya bertahun tahun lamanya.

Kalau boleh menebak, saya kira asal-muasal penyebutan Kota Gadis ini adalah karena Madiun memiliki berbagai perusahaan industri skala besar seperti PT Industri Kereta Api (INKA), pabrik rokok, hingga pabrik gula. Tak ada catatan resmi yang menunjukkan kapan pastinya julukan ini mulai dipromosikan.

Pada bidang pendidikan pun, tercatat pada laman situs resmi Kota Madiun memiliki lebih dari dua ratus instansi pendidikan. Terakhir, pada sektor perdagangan Madiun memiliki banyak UMKM yang bergerak pada sentra oleh-oleh khas Madiun seperti kerupuk puli, madumongso, brem, dan tentunya sambel pecel.

Seorang wibu yang paripurna. Sedikit gerak, banyak ngayalnya.

Artikel dari Penulis