Ayam Geprek Produk Kuliner Akulturasi

Ayam Geprek Produk Kuliner Akulturasi

Ayam Geprek Produk Kuliner Akulturasi – Keseharian kita sebagai manusia tidak bisa terlepas dari yang namanya makan. Yah, makan memang menjadi kebutuhan dasar yang termasuk dalam kebutuhan fisiologis dalam teori Abraham Maslow. Karena itu, tidak heran jika seiring berjalannya waktu, variasi makanan juga semakin berkembang dan beragam.

Di Indonesia sendiri semakin banyak kreasi makanan olahan kekinian. Mulai dari pisang yang awalnya dimakan langsung sampai muncul pisang coklat yang digoreng, bakso yang dulunya dimakan berkuah sekarang malah ada bakso bakar, ceker ayam super pedas yang dinamai ceker setan, dan masih banyak yang lain. Salah satu diantara makanan tersebut, ada ayam geprek yang tiba-tiba menjadi viral dan masif beredar di Indonesia. Mulai dari pedagang kaki lima hingga restoran berbintang kini menyediakan menu ayam geprek.

Ayam geprek muncul sekitar 2017 dan memuncak viralnya sekitar tahun 2018 dan tetap eksis hingga sekarang. Bahkan, jika dilihat di Google Trends, ayam geprek mendapat poin 100 pada tahun 2018, yang berarti begitu banyak yang menuliskan keyword “ayam geprek” di mesin pencarian Google. Dilansir dari Antara News, Manager Go-Food, Marsela Renata menyampaikan telah melayani 2 juta pesanan ayam geprek selama 2018, dan meningkat menjadi 300 juta porsi di tahun 2019.

Baca juga: Ikan Pindang? Yang Benar Adalah Ikan Layang

Secara kasat mata ayam geprek merupakan ayam goreng dengan baluran tepung krispi ala KFC yang ditambah sambal kemudian digeprek dalam Bahasa Jawa yang berarti dipukul atau hancur. Dari bentuk yang demikian kemungkinan tidak akan ada ayam geprek bila tidak ada ayam krispi ala KFC yang masuk ke indonesia.

Ayam geprek sendiri lahir dari sejarah panjang dan beberapa kali akulturasi. Dimulai dari bentuk ayam krispi-nya yang mulai muncul di Amerika sekitar abad 18. Sajian ayam ini tidak bisa lepas dari tradisi perbudakan orang kulit hitam dari Afrika oleh orang orang Amerika. Sampai kemudian muncul Proclamation of Emancipation pada 22 September 1862 pada periode Abraham Lincoln yang mengumumkan pembebasan budak yang berada pada Negara Konfederasi Amerika.

Para budak yang telah dibebaskan ini kemudian mulai kesulitan mendapat pekerjaan, tidak banyak lapangan pekerjaan yang mau menerima mereka. Kemudian, para budak yang telah memiliki tradisi menggoreng ayam ala Afrika memanfaatkan keahliannya menjual ayam goreng, tetapi dipadukan dengan tepung ala Amerika. Sehingga, jadilah fried chicken yang sekarang kita kenal.

Pada awal abad ke-19, orang kulit putih dari kelas atas, Mary Randolph, menulis buku resep koki berkulit hitam dengan resep fried chicken di dalamnya. Hal inilah yang membuat fried chicken semakin populer.

Setelah Perang Dunia II, Harland Sanders atau lebih dikenal Kolonel Sanders, seorang pebisnis asal AS, mulai menjual fried chicken sendiri. Ia mengubah satu restoran di Kentucky dan menjual fried chicken yang dinamai Kentucky Fried Chicken (KFC). Restoran ini kemudian masuk ke Indonesia pada Oktober 1978. Inilah awal mula Indonesia mengenal ayam goreng dengan baluran tepung krispi.

Awalnya, ayam goreng ini hanya sebatas ayam krispi yang kebarat-baratan, sampai ada dapur akulturasi ayam krispi dengan sambal ala Indonesia oleh Rumiah atau yang akrab disapa Bu Rum di Yogyakarta. Rumiah merupakan pemilik warung makanan. Awalnya, Rumiah hanya menjual ayam tepung biasa saja sampai ada seorang pelanggannya pada tahun 2003 yang minta ditambahkan sambal di atas ayam tersebut dan digeprek. Sehingga jadilah ayam geprek.

Kemudian menu ayam geprek semakin dikenal pada 2017 ketika banyak restoran yang menyajikan menu ayam geprek seperti Ruben Onsu membuka restoran Geprek Bensu yang memiliki ratusan gerai, Geprek Sa’i, Rocket Chicken, dan Quick Chicken yang menambahkan menu ayam geprek.

Itulah uraian dari sejarah panjang ayam hidup sampai berakulturasi menjadi ayam geprek yang enak dimakan hingga menjadi tren di Indonesia. Karena pembuatannya yang mudah dan cocok di lidah orang indonesia,  bila kita mencari di Google, di sepanjang jalan raya, atau aplikasi online penjual makanan, kita akan sangat mudah menemukan sajian ayam geprek.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.

Artikel dari Penulis