Habib Saleh bin Alwi Jamalullail dan Tradisi Maulid Nabi di Afrika Timur — Peringatan Maulid Nabi atau perayaan kelahiran Nabi Muhammad Saw adalah peristiwa penting bagi umat Islam. Umat Muslim di berbagai belahan dunia merayakannya dengan penuh sukacita, semangat, dan makna yang mendalam. Perayaan Maulid ini pun dirayakan dan diwarnai dengan tradisi serta budaya yang berbeda-beda di setiap negara.
Meskipun tradisi di masing-masing negara berbeda, tujuan utamanya tetap sama, yakni untuk memperingati kehidupan dan ajaran mulia Nabi Muhammad Saw, serta mempromosikan nilai-nilai cinta kasih, kedamaian, dan solidaritas di antara umat Islam di seluruh dunia.
Sejarah Singkat Maulid Nabi
Dalam kesucian dan keagungan agama Islam, Allah Swt mensyariatkan agar kaum Muslimin mencintai Nabi-Nya, As-Sayyidul Anbiya’i wal Mursalin Muhammad bin Abdillah. Cinta kepada Nabi Saw merupakan bagian dari syariat dan bukti keimanan, sebagaimana firman Allah Swt:
“Katakanlah: ‘Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imran: 31).
Baca juga: Syekh Ngabdullah Selomanik: Jejak Dakwah Kaum Sayyid di Dieng
Menurut Prof. Quraish Shihab, Maulid Nabi pertama kali dirayakan pada abad ke-4 H, pada masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah di Mesir (362–567 H). Perayaan Maulid sempat dilarang oleh Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy dan kembali diperbolehkan pada masa pemerintahan Amir li Ahkamillah pada tahun 524 H. Kemudian, perayaan ini dikembangkan kembali oleh Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 1183 M.
Shalahuddin al-Ayyubi adalah pelopor peringatan Maulid Nabi di abad pertengahan. Beliau tidak hanya mengagungkan Nabi Muhammad dalam perayaan kelahiran, tetapi juga meneladani akhlaknya, sebagaimana Nabi dijuluki uswatun hasanah. Menceritakan perjuangan Nabi merupakan salah satu bentuk peringatan Maulid yang dilakukan Shalahuddin al-Ayyubi untuk membangkitkan semangat pasukan militernya. Cara ini terbukti berhasil mempersatukan umat Islam dan mengantarkan kemenangan atas pasukan kolonial Eropa (Mutmainah, 2024).
Sayyid Saleh bin Alwi Jamalullail dan Tradisi Maulid di Afrika Timur
Islam di Kenya adalah agama minoritas. Tidak hanya secara jumlah, umat Muslim Kenya juga kerap terpinggirkan dalam kehidupan sehari-hari akibat diskriminasi dan pandangan keliru mengenai Islam. Saat ini, jumlah umat Muslim di Kenya diperkirakan sekitar 3 juta orang. Kebanyakan dari mereka tinggal di kota-kota pesisir seperti Mombasa, Malindi, dan Lamu. Di wilayah-wilayah ini, Muslim bisa mencapai 50 persen dari populasi kota.
Islam secara umum hadir di kawasan Afrika Timur pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan sekitar tahun 702 M / 80 H. Di Kenya sendiri, Islam mulai hadir pada pertengahan milenium (Nashrullah, 2020). Penyebarannya dilakukan melalui jalur perdagangan. Beberapa catatan menunjukkan bahwa para pelaut Arab sering melintasi Semenanjung Arab menuju Pantai Timur Afrika — yang membentang dari wilayah Somalia hingga Mozambik — untuk berdagang (Sasongko, 2022).
Baca juga: Adab dan Ilmu: Kedekatan Habib Zein al-Habsyi dan Abah Guru Sekumpul
Meskipun Islam merupakan agama minoritas, ekspresi dan tradisi Islam di Kenya, seperti perayaan Maulid Nabi, tetap berlangsung dengan semarak. Peringatan Maulid biasanya diisi dengan pembacaan kisah Nabi Saw melalui kitab-kitab yang dikarang para ulama. Salah satu kitab yang dibaca dalam perayaan Maulid di Afrika Timur adalah Maulid Simtudduror.
Kitab ini adalah karya Habib Ali bin Husein bin Muhammad al-Habsyi, seorang ulama besar asal Hadramaut, Yaman. Judul lengkapnya adalah Simtudduror fi Akhbar Maulid Khairil Basyar min Akhlaqihi wa Aushafihi wa Siyar. Kitab ini ditulis ketika beliau berusia 68 tahun (Marzuki, 2023). Menurut Habib Ali al-Masyhur, dengan memahami isi Maulid Simtudduror, para pembaca dan pendengarnya seakan-akan menyaksikan secara langsung bagaimana Nabi Saw bersikap dan bersabar (Maulid, 2024).
Setiap bulan Maulid di Afrika Timur, khususnya di daerah Lamu, Kenya, masyarakat menyambutnya dengan meriah. Setiap tahun, kota Lamu diperkirakan menjamu sekitar 20 ribu peziarah Muslim dari seluruh dunia untuk menghadiri festival Maulid Nabi Saw. Perayaan ini telah diselenggarakan selama 132 tahun oleh Masjid Riyadh (Mukhtar, 2021).
Baca juga: Jejak Dakwah Sayyid Ibrahim Ba’abud Kharbasani: Dari Tarekat hingga Pendirian NU di Wonosobo
Saat Maulid tiba, Masjid Riyadh ramai dikunjungi. Halamannya dipenuhi dengan berbagai kegiatan seperti musik, tarian tradisional, dan pembacaan Simtudduror. Masjid ini didirikan oleh Habib Saleh bin Alwi Jamalullail atau yang dikenal sebagai Habib Swaleh Jamal Lely. Sekitar tahun 1300-an Hijriah, Habib Saleh datang ke Afrika Timur, khususnya Kenya, untuk menyebarkan ajaran Islam dan mengajak umat Muslim di Lamu mencintai Nabi Muhammad.
Habib Saleh juga dikenal sebagai tokoh yang merevolusi pendidikan Islam di kawasan tersebut, menjadikannya dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Ia berdakwah melalui pendekatan budaya dan keagamaan, termasuk perayaan Maulid, guna menyatukan penduduk yang berbeda latar belakang. Ia menerapkan nilai-nilai Islam untuk menanamkan sikap saling menghormati dan membangun persatuan.
Perayaan Maulid dipercaya dapat membantu menyelesaikan konflik di tengah masyarakat, terutama ketika pemerintah tidak mampu meredakannya. Sebab, Islam adalah ajaran yang menekankan toleransi dan kasih sayang (Mukhtar, 2021).
Daftar Referensi
Mukhtar, U. (2021, November 19). Maulid Nabi di Kenya Menjadi Agenda Merayakan Keragaman. Diambil kembali dari ihram.republika.co.id.
Mutmainah, A. (2024). Shalahuddin al-Ayyubi dan Kisah Perjuangannya. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia.
Nashrullah, N. (2020, November 16). Islam di Kenya, Pernah Jaya Jadi Mayoritas Kini Minoritas. Diambil kembali dari khazanah.republika.co.id.
Sasongko, A. (2022, November 2). Bukti Awal Kehadiran Islam di Kenya. Diambil kembali dari ihram.republika.co.id.
Marzuki, K. (2023, September 18). Bacaan Maulid Simtudduror, Arab, Latin, dan Artinya. Diambil kembali dari inews.id.
Maulid, R. (2024). Kumpulan Khotbah Jumat Sepanjang Tahun Hijriyah. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia.














