Mengatasi 3 Kegalauan di Masa Dewasa yang Bikin Overthinking

Mengatasi 3 Kegalauan

Mengatasi 3 Kegalauan di Masa Dewasa yang Bikin Overthinking

Di usia yang menginjak dewasa ini, tak dapat dipungkiri ada banyak kegalauan yang berkobar di dalam dada. Ada rasa takut, gelisah, marah, kecewa, bahkan malu yang tercampur aduk menjadi satu. Perasaan-perasaan ini membuat tidur tak nyenyak dan kepala serasa mau meledak. Ketika kita menyadari pencapaian dan kualitas diri yang tak kunjung bertambah seiring usia yang kian mendewasa.

Masa dewasa rupanya tak seindah khayal naif di masa kanak-kanak, yang kita pikir ketika sudah dewasa maka kita akan bebas dan tidak diatur-atur atau dimarah-marahi lagi. Eh ternyata oh ternyata, tidak seindah itu rupanya. 

Memasuki fase dewasa itu artinya kita akan memiliki tanggung jawab yang lebih banyak dibandingkan ketika masih kanak-kanak. Memang benar, kita bebas untuk melakukan atau memutuskan apapun, hanya saja kebebasan itu beriringan dengan tanggung jawab yang tak kalah besar pula.

Segala yang kita perbuat dan putuskan selalu memiliki resikonya masing-masing. Bisa jadi resiko itu berupa kegagalan, kritikan pedas, atau mungkin pendapat sinis dari orang lain. Intinya semua yang kita lakukan akan menjadi sorotan, sebab menjadi dewasa itu artinya kita bergabung menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Selain itu, semakin bertambah umur kita, maka akan semakin sedikit pula circle pertemanan kita. Waktu untuk bersenang-senang dan jalan-jalan kian tak tersisa, terkikis oleh kesibukan atau barangkali pekerjaan. Kehidupan di masa dewasa entah kenapa terasa kian meresahkan. Maka dari itu, mari kita bahas apa saja sih kegalauan di masa dewasa yang membuat overthinking? Kemudian bagaimana pula cara mengatasinya?

Penghasilan

Uang memang bukanlah segalanya, tapi segalanya butuh uang. Mau makan butuh uang, pendidikan butuh uang, internetan juga butuh uang bahkan sekadar ke toilet saja bayar loh. Tak mengherankan jika penghasilan kerap kali menjadi top of number one dari daftar hal-hal yang membuat manusia overthinking.

Baca juga: Climate Anxiety dan Cara Menanganinya

Mengutip dari Kompas.com, berdasarkan sebuah survey yang diterbitkan oleh perusahaan manajemen investasi BlackRock, dikatakan bahwa uang merupakan sumber stres utama, terlebih bagi kaum milenial. Lebih lanjut dikatakan, berdasarkan data dari Bussiness Insider, presentase stres akibat uang lebih besar dibandingkan dengan stres yang diakibatkan oleh pekerjaan, keluarga, dan kesehatan selaku tiga sumber utama stres dalam kehidupan.

Lebih-lebih lagi di era digital semacam ini, ketika di medsos banyak kita temukan konten flexing bertebaran di mana-mana, duh rasanya memang benar ya, “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”. Selain itu ada juga konten-konten “Cara cepat dan mudah kaya” yang kebanyakan justru berujung pada penipuan atau sekadar konten clickbait semata.

Padahal, perkara penghasilan –dalam hal ini adalah salah satu jenis rezeki– merupakan urusan Allah selaku Yang Maha Memberi Rezeki. Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha yang terbaik dan bekerja dengan kinerja yang terbaik. 

Dalam Al-Quran Allah tidak memasangkan kata kaya dengan miskin, melainkan dengan kecukupan. Itu artinya perkara uang sejatinya cukup untuk menghidupi kebutuhan hidup kita, yang tidak cukup itu kalau untuk memenuhi keinginan dan ego kita.

Pencapaian

Masih seputar media sosial, di mana kita dapat melihat kehidupan orang lain dengan begitu mudahnya. Walau tidak secara keseluruhan, tapi tidak dapat kita pungkiri ada rasa iri yang muncul dalam diri kala melihat pencapaian orang lain. Lebih-lebih ketika membandingkannya dengan diri kita sendiri yang pencapaian hidupnya tak seberapa.

“Kok aku gak bisa seperti dia, ya?” rasa ingin seperti orang lain pun bercokol di dalam dada hingga membuat kita rela melakukan apa saja demi mendapatkan pencapaian serupa. 

Alangkah bagus jika rasa “rela melakukan apa saja demi mendapatkan pencapaian serupa” ini dapat terwujud dalam bentuk melakukan usaha dan kerja keras yang serupa pula, atau setidaknya kita bisa mempelajari kesuksesan orang tersebut, mengapa ia bisa sampai pada pencapaian yang sedemikian itu.

Namun, bagaimana jika sebaliknya? Ketika kita hanya melihat hasilnya saja tanpa melihat proses panjang dibalik pencapaian itu. Kita justru berakhir menghalalkan segala cara tanpa pandang baik dan buruknya cara tersebut. Atau kita malah justru hanya berhenti pada rasa iri semata tanpa ada kemauan untuk belajar dari orang tersebut. Ah, sungguh benar-benar memalukan.

Baca juga: Dari Komersialisasi, hingga Segala Sesuatu yang Menyebalkan tentang Hak Parkir di Indonesia

Satu hal yang saya yakini, bahwa masing-masing dari kita punya waktu suksesnya masing-masing. Selama kita tidak menyerah pada hal yang kita tekuni, selama kita tetap berusaha dan berdoa, maka pencapaian hanyalah perkara waktu. 

Selain itu, kita juga tak perlu menyamakan pencapaian orang lain dengan diri sendiri. Sebab definisi kesuksesan masing-masing orang berbeda-beda. Apa definisi suksesmu? Maka, usahakanlah sedari sekarang!

Pasangan

Nah, ini nih poin yang ditungu-tunggu. Semakin dewasa seseorang, keinginan untuk mencari pasangan dan membina keluarga juga semakin besar. Tuntutan usia dan omongan tetangga kian membuat kita harus bersicepat menemukan si dia untuk diajak bertemu keluarga dan berdiri di pelaminan. 

Lebih-lebih ketika sebaya telah memiliki pasangan bahkan momongan. Duh, kok serasa ketinggalan ya. Kapan nih jodoh datang?

Ya, pasangan menjadi salah satu sumber kegalauan di masa dewasa yang dapat membuat kita overthinking. Berbeda dengan masa remaja di mana mencari pasangan barangkali bukanlah prioritas utama. Di mana kita masih santai-santai dan tertawa-tawa riang dengan teman sebaya, sehingga tak telalu memusingkan kelak ketika berumah tangga.

Namun, ketika telah memasuki masa dewasa, tak dapat dinafikan pemikiran akan pasangan dan bagaimana kehidupan berumah tangga menjadi salah satu prioritas yang harus dipikirkan dan dipersiapkan. Sebab untuk memutuskan menikah dan memilih pasangan yang tepat untuk diajak menikah adalah perkara kesiapan dan kemantapan hati, jangan sampai didasarkan pada gengsi.

Di antara tiga kegalauan di atas, Islam menawarkan dua sikap yang akan selalu relevan untuk diterapkan dalam keadaan apapun, yaitu bersabar dan bersyukur. Mengapa? Sebab dalam hidup ini, baik kebahagiaan maupun kesedihan selalu berjalan beriringan.

“Andaikan sabar dan syukur

Adalah dua tunggangan

Aku jadi tak peduli

Mana yang harus kukendarai”

Kata Umar ibn Khattab, dikutip dari buku Jalan Cinta Para Pejuang (2008) karya Salim A. Fillah. Jadi apapun keadaannya, jangan pernah lupa untuk bersabar sebab pertolongan Allah sangatlah dekat. Serta jangan pula lupa untuk bersyukur, sebab meskipun di tengah duka, nikmat Allah selalu terkira.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Natasha Evelyne Samuel

Dn Wahyuningsih nama pena dari Dwi Wahyuningsih, seorang Mahasiswa di IAIN Kudus yang lahir di bulan September 2002 dan ia juga suka terhadap kucing, buku, dan rumahnya. Jika ingin mengenalnya silakan kunjungi akun instagramnya di @dn.wahyuningsih

Artikel dari Penulis