Serius Mau Lulus Kuliah Telat? Pertimbangkan Lagi!

Serius Mau Lulus Kuliah Telat

Serius Mau Lulus Kuliah Telat? Pertimbangkan Lagi! – Memutar waktu lagi, setahun yang lalu adalah saat-saat genting di hidup saya. Ya, kala itu tak terasa saya sudah sampai di semester 7 menuju 8. Artinya, saya tinggal mengajukan skripsi dan lulus setelahnya, kalau niat.

Di waktu itu, saya bertemu banyak teman-teman yang juga menunda kelulusan. Ada teman yang sampai semester 12. Ada lagi beberapa teman yang seusia dengan saya, namun memutuskan pindah kampus dan memulai kuliah dari awal lagi. 

Mereka semua punya kesamaan, sama-sama fokus menjalani proses di bidangnya masing-masing. Juga sama-sama menasehati saya supaya cepat-cepat lulus. Namun, tak pernah saya hiraukan. Lah mereka saja nggak lulus-lulus, kok malah menyuruh saya lulus cepat? Akhirnya, saya memutuskan untuk bakal “menunda kelulusan” seperti beberapa teman saya tadi.

Lalu tanpa terduga saat saya pergi ke bank, tanpa sebab mas teller bank bertanya, 

“Mas kuliah semester berapa?”  

Saya jawab, 

“Semester 8, Mas.” 

Selepas dia menyelesaikan pekerjaannya, dia menasehati saya, 

“Cepat-cepat lulus, ya Mas. Saya dulu lulusnya lama gara-gara meremehkan, eh ternyata nggak enak.” 

Aneh bagi saya, kami berdua tidak saling kenal, kok dia malah menasehati saya. Ya, sudah, enggak saya hiraukan lagi. Heuheu.

Selepas itu semua, tak terasa setahun berlalu. Saya menjalani kehidupan dengan menunda kelulusan. Awalnya terasa menyenangkan, karena saya pikir, saya bisa fokus terlebih dahulu pada proses dan mengesampingkan orientasi hidup pada hasil. Dan saya mau lulus kalau saya benar-benar merasa matang.

Lambat laun, menjalani proses tersebut menemui banyak titik jenuhnya. Lalu banyak pertanyaan di kepala, apakah proses setahun ini sudah worth it? Apakah benar dengan menunda kelulusan berarti mematangkan diri saya? Tidak semudah itu, Makoto Nagano!

Jalan proses kadang tak sejalur dengan ekspektasi, seperti dulu saya yang berniat menambah banyak wawasan, bacaan baru, musik baru, film baru, kegiatan baru, dan teman-teman baru. Nyatanya, saya sampai di titik dimana menjalani semua itu sangat melelahkan, saya sering tidak ngapa-ngapain selama berhari-hari. Tanpa pekerjaan, tanpa kegiatan, tanpa skripsi, tanpa ada karya, dan tanpa kepastian. Alias menganggur.

Stuck. Niat saya menggodok proses, eh malah terjebak dengan menganggur.  Menganggur itu banyak enggak enaknya. Hal yang paling sepele seperti pola tidur yag jadi berantakan, dan untuk kembali ke jalur (menjalani proses dengan benar) itu menjadi amat sulit dicapai lagi. 

Memperbaiki pola tidur perlu waktu berhari-hari. Pun mengembalikan hidup pada kebiasaan-kebiasaan yang bermutu lainnya. Dilansir dari Suara.com, menurut sebuah studi di tahun 2009, dibutuhkan sekitar 18-154 hari untuk merubah kebiasaan.  Dan rata-rata, perlu 66 hari untuk merubah kebiasaan ke jalurnya.

Bayangkan, jika kebiasaanmu tidak sehat, lantas kamu ingin merubahnya kembali, lalu gagal di hari besok, besok, dan besoknya lagi. Berapa hari yang terbuang sia-sia? Apakah menunda kelulusan adalah suatu hal yang benar?

Benar, jika kalian siap menjalani hidup konsisten dan teguh pada pendirian. Sayangnya jika tidak, ya siklus menyebalkan seperti saya ini bakal kalian jalani juga. Setali tiga uang, teman-teman saya yang menunda kelulusan juga merasakan siklus menyebalkan seperti saya.

Salah satu teman saya dulunya punya proyek pekerjaan kreatif di masa kuliah. Namun di masa menunda kelulusan ini, proyeknya tidak dijalankan secara konsisten. Alhasil jadi pengangguran beneran. Ada lagi teman saya yang lain, gara-gara menganggur karena menunda kelulusan, fokusnya malah menjalankan judi online. Iya kalau menang? Kalau kalah? Wah, remuk!

Makin remuk karena alih-alih fokus menjalani hidup, pikiran malah makin terdistraksi. Misalnya jika kamu belum bisa mandiri, kamu bakal memikirkan berapa uang orangtuamu yang terbuang sia-sia. Padahal kamu hanya menganggur. Di titik ini, fokus pada proses menjadi semakin rumit.

Kadang saya menyesali pilihan menunda tersebut, terlebih ketika melihat beberapa teman-teman saya yang sudah lulus sudah mendapat pekerjaan. Saya pun jadi mikir, ternyata lulus cepat itu tak semenyeramkan itu. Dan ternyata, lulus lama tak seindah yang dibayangkan.

Dulu saya terpesona dengan cerita-cerita orang sukses di luar sana yang bisa sukses berkat menunda kelulusan. Masalahnya, tidak semua orang ternyata bisa sekuat itu untuk menjalani hidup “telat lulus” dengan benar. Hasilnya, justru lebih banyak ketidakpastian yang makin tidak pasti.

Saya jadi teringat kutipan Ardit Erwandha seorang stand-up comedian dalam salah satu wawancara beliau berkata, “Lulus cepat itu bukan jaminan orang buat sukses…..Apalagi, yang lulusnya lama!” Haha. Tapi yowislah. Pesan saya kepada teman-teman, menjalani hidup dengan menunda kelulusan itu banyak enggak enaknya. Lulus cepat juga tak semenyeramkan itu. Jadi kalau belum siap lulus lama, jalani hidup sesuai timeline yang wajar saja! Semangat-semangat!

Seorang penulis dan manusia biasa yang suka grogi saat menarik uang di ATM.

Artikel dari Penulis