Pisau Pemes Merupakan Senjata Geng Anak Kecil di Desa Saya

Pisau Pemes Merupakan Senjata

Pisau Pemes Merupakan Senjata Geng Anak Kecil di Desa Saya – Sewaktu saya kecil dalam satu renteng permen terdapat satu pisau pemes. Warna pisau pemes ini tidaklah polos, tetapi bercorak seperti bungkus permen tergantung di barisan mana pisau pemes ini berada. Kalau letaknya di renteng permen milkita maka corak pisau pemesnya seperti bungkus permen Milkita, begitu juga ketika letaknya di renteng permen Split mana corak pisau pemesnya seperti bungkus permen Split.

Pisau pemes ini bukan disediakan oleh penjualnya, tetapi dari pabriknya. Sedianya sih digunakan untuk memudahkan pembeli dalam mencomot permen. Karena ketika menggunakan tangan seringkali bungkus permennya malah sobek, kalau sobeknya di permen yang hendak ia beli sih enggak masalah, tetapi kalau merembet ke bungkus permen di atasnya kan malah ribet.

Penjual menyadari peluang pisau pemes ini, maka dari itu pisau pemes pun diperjualbelikan. Terbukti pisau pemes ini laku, meskipun dijual dengan harga 4 kali lipat harga permen. Semua teman saya saat itu pun memiliki pisau pemes, sementara saya belum memiliki, karena di tokonya sedang kosong. Kemana pun saya mencari pisau pemes ini dari satu toko ke toko lainnya, tapi tidak membuahkan hasil.

Baca juga: Sawah Merupakan Tempat Saya Bermain Sekaligus Tempat Mencari Lauk

Tren pisau pemes ini membuat para anak kecil di desa saya saat itu membentuk geng, sehingga terbentuk beberapa geng. Syarat untuk masuk ke sebuah geng harus memiliki pisau pemes, tapi bukan pisau pemes yang polos, melainkan tipe pisau pemes yang saya sebutkan di atas.

Pisau pemes ini tidak kemudian dijadikan senjata untuk tawuran, tapi untuk gaya-gayaan saja. Antara satu geng dengan geng yang lainnya pun tidak pernah terjadi bentrok, geng ini hanyalah kelompok bermain saja.

Sementara itu saya tidak diizinkan untuk masuk ke sebuah geng, untungnya sebelum tren pisau pemes ini mereda, saya diperbolehkan untuk masuk ke geng tersebut. Hal ini berkat Bibi saya, ternyata ia memiliki pisau pemes, untungnya ia mau menyerahkan pisau pemes miliknya.

Fungsi pisau pemes bukan hanya sekedar untuk gaya-gayaan, tetapi berfungsi sekali untuk banyak hal. Seperti misalnya membuat berbagai macam mainan, meraut pensil, mengupas buah, membuat tugas prakarya, dan lain sebagainya.

Lalu kami gaya-gayaan alias petengtang-petengteng dengan pisau pemes ini dengan menjadikannya sebagai kalung. Jadi pada gagang pemes terdapat sebuah lubang, nah lubang itulah dipasangi benang. Nah, bahkan ada beberapa teman saya yang memperlakukan pisau pemes ini seperti sebuah pusaka, yaitu memandikannya dengan bunga tujuh rupa.

Karena sering dipakai membuat pisau pemes menjadi berkarat, otomatis kalau berkarat jadi tumpul. Agar kembali menjadi tajam, maka caranya diasah pada batu. Tidak sembarang batu yang bisa digunakan untuk mengasah pisau pemes, batu itu haruslah halus, serta jangan terlalu besar ukurannya.

Meskipun sudah diasah tetap saja tidak bisa menghilangkan karat pada pisau pemes, justru malahan seiring berjalannya waktu semakin bertambah karatnya. Tetapi setidaknya setelah diasah membuat pisau pemes menjadi tajam kembali, meskipun tidak setajam saat baru. Ketika pisau pemesnya berkarat ada beberapa teman saya saat itu membeli lagi yang baru, lalu ada juga yang memutuskan untuk keluar dari geng.

Tren pisau pemes sewaktu saya kecil hanya bertahan selama 2 bulan saja, syarat untuk masuk geng pun tidak lagi harus memiliki pisau pemes. Pokoknya kalau mau main ya main saja tinggal ikut gabung.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Natasha Evelyne Samuel

Penulis Lepas & Imam Besar Republik Mahasiswa Rebahan.

Artikel dari Penulis