Rekonstruksi Makna Tauhid; Dari “Laa ilaah” Menuju “illallah”

Rekonstruksi Makna Tauhid

Rekonstruksi Makna Tauhid; Dari “Laa ilaah” Menuju “illallah” – Tauhid, adalah pernyataan paling sakral di dalam agama Islam. Hal ini ditandai dengan posisinya sebagai rukun iman pertama. Tauhid, begitu sakralnya sampai-sampai jika ada seorang mualaf, akan membuat masyarakat heboh. Namun, jika ada fenomena orang yang pindah agama bahkan menjadi ateis, masyarakat pun tidak akan kalah hebohnya.

Banyak jawaban untuk pertanyaan, “Mengapa demikian?” Salah satunya mungkin akan kita temukan pada konsep agama menurut Durkheim tentang pembagian yang sakral dan yang profan. Kita bisa melihat bahwa tauhid amat sakral bagi masyarakat yang beragama Islam. 

Karena “saking” sakralnya, fenomena ateisme maupun murtad pun mendapat sorotan tajam. Terkadang, tanggapan atas dua fenomena ini sangat berbau kebencian. Alhasil, argumen-argumen apologetis sering dimunculkan, bahkan sampai ruang publik.

Tak pelak, media sosial sebagai ruang publik baru di abad modern tak luput darinya. Terlebih jika kita mengamini “post-truth” sebagai kenyataan, argumen-argumen kebencian akan terus merajalela karena itu sangat berkaitan dengan emosional, keyakinan, dan perasaan masyarakat.

Hal ini, bagi saya pribadi, tidak sepenuhnya negatif, pun tidak sepenuhnya positif. Karena begini, narasi kebencian atas fenomena “ateisme” dan “murtad” adalah sudut pandang sempit, seolah tidak ada alternatif memaknai realitas.  Jika kita mencermati pemikiran Jacques Derrida tentang oposisi biner, kita seolah tergiring oleh paradigma benar dan salah. Di mana beragama Islam itu baik, sedangkan “ateisme” dan “murtad” itu buruk sepenuhnya.

Pertanyaannya adalah, apakah sikap kita ini akan membuat mereka kembali memeluk Islam? Bukankah dakwah harus dilakukan dengan bil hikmah? Jangan-jangan, narasi kebencian kita ini semata-mata bukan diniatkan untuk ber-islam yang rahmatan lil’alamin. Melainkan sebatas menikmati euforia emosional dengan melampiaskan “kebenaran” yang kita punya. 

Maka, sebagai antitesis dari narasi kebencian ini, saya menawarkan rekonstruksi tauhid sebagai alternatif perspektif dalam melihat masalah ini. Sebagai disclaimer, perlu saya katakan bahwa rekonstruksi adalah kata yang tidak memiliki definisi tunggal. Maka, saya akan sederhanakan bahwa rekonstruksi adalah sebuah pemaknaan baru atas sebuah istilah. Membangun kembali makna untuk menghasilkan makna baru.

Baik, kembali ke tauhid. Kita selama ini melihat tauhid secara lengkap, “Tidak ada Tuhan, selain Allah”. Kita seolah melihatnya sebagai susunan kepercayaan yang harus sepaket dalam waktu yang sama. 

Nah, diksi “waktu” inilah yang bisa kita pakai sebagai alternatif dalam memaknai tauhid. Bagaimana kalau kalimat tauhid ini tidak harus terjadi dalam satu waktu? Bagaimana jika kalimat Tauhid ini merupakan sebuah proses, yang bahkan memerlukan proses berabad-abad agar bisa sempurna dipahami oleh masyarakat?

Bagaimana jika kita pisah; “Tidak ada tuhan” sebagai satu proses yang memakan waktu, menuju “Selain Allah” sebagai puncak kebenaran? Bukankah Abraham sebelum mengenal Allah juga sempat mengalami pencarian tuhan dalam waktu yang lama?

Jika keesaan Tuhan sebagai kebenaran tertinggi di muka Bumi, adalah wajar jika ia memakan waktu lama untuk pencariannya. Disini, ateisme bisa kita anggap sebagai bagian daripada proses itu. Ateisme bisa-bisa adalah tahap dimana manusia melaksanakan separuh tauhidnya, “Tidak ada tuhan”.

Baca juga: Mengenal Aliran Agnostik dalam Beragama dan Bagaimana Cara Menyikapinya

Pernahkah kita mencoba melihat orang-orang yang ateis dengan sedikit rendah hati? Daripada membencinya, bukankah lebih indah jika kita juga mencoba memahami alasan kenapa mereka menyatakan ateisnya? Mencoba mempelajari pikiran-pikiran mereka?

Bagi penulis, sikap seperti itu lebih humanis. Dan, siapa tahu jika kita serius menelaah pemikiran-pemikiran mereka, suatu saat kita bisa menulis jawaban-jawaban atas keresahan mereka tentang Tuhan. Bukannya malah dihindari pemikiran mereka, lalu dibenci begitu saja.

Karena ateisme, setahu saya, lahir bukan tanpa alasan. Ia tidak muncul dari ruang hampa. Selalu ada keresahan yang berputar di dalam pikiran.

Ateisme kadang dimulai dari mempertanyakan tuhan-tuhan yang banyak lalu diikuti dengan kesimpulan bahwa “tuhan-tuhan tadi itu palsu”. Disini, saya pinjam kalimat yang dipopulerkan Nietzsche dalam bukunya berjudul Zarathustra, yaitu “Tuhan telah mati”. Kalimat ini, yang saya maknai sebagai ketuhanan yang palsu, pada saatnya akan tidak relevan. Pada saat itu pula, manusia akan terus bertanya dan kemudian ujungnya “meniadakan tuhan”.

Penulis sendiri melihat peluang akan pencarian tauhid ini pada masyarakat Barat. Kalau kita pelajari sejarah dinamika pemikiran mereka, renaissance dan aufklarung menjadi masa penting. Masa yang mana mereka mampu melepaskan diri dari dogma agama dan menciptakan pembaruan serta kemajuan. Meskipun juga menghasilkan degradasi di beberapa aspek kehidupan. Akan tetapi, setidaknya mereka lebih berani untuk berpikir tanpa kekangan.

Barat lebih berani untuk memikirkan Tuhan daripada sebelumnya. Dan, bukankah pencarian Allah dimana-mana juga melewati proses semacam ini?

Kalau kita memahami tauhid sebagai proses waktu, rasanya orang Barat tidak buruk-buruk amat seperti yang diasumsikan beberapa orang. Karena masyarakat Barat juga manusia yang berakal dan memiliki iman. Mereka memilih tidak beragama bukan tanpa sebab. Dan, dunianya Barat setahu saya adalah surganya pertukaran argumen.

Disini, saya rasa akademisi Islam harus mengambil peran sebagai penyambung lidah untuk mengantarkan orang-orang yang ragu dengan agama kepada kebenaran Islam. Bukannya dicela, karena orang-orang ateisme itu sudah melakukan separuh tauhid. Tinggal sisanya, kan? Dan tugas kita adalah untuk menunjukkan bahwa Tuhan yang sejati hanyalah Allah semata.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Natasha Evelyne Samuel

Masih bercita-cita menjadi manusia. Pernah hijrah tapi sekarang putar balik. Seorang wibu radikal yang nyamar menjadi akademisi.

Artikel dari Penulis