Kunci Sukses Menulis Artikel Ilmiah: Sabar!

Kunci Sukses Menulis Artikel Ilmiah, Sabar

Kunci Sukses Menulis Artikel Ilmiah: Sabar! – Menulis artikel itu gampang-gampang susah. Buat kamu yang sudah terbiasa menulis, mungkin menulis satu artikel cuma butuh waktu satu sampai dua jam. Hitungan itu sudah termasuk editing dan finishing artikel, ya. Bahkan kalau ide dan mood kamu lagi bagus, sepertinya enggak sampai setengah jam artikel sudah siap ditayangkan. Sat set sat set pokoknya.

Akan tetapi, kalau menulis artikel ilmiah, itu beda lagi urusannya. Kamu perlu usaha dan kesabaran yang super ekstra ketika menulis sebuah artikel ilmiah. Maklum saja, menulis artikel ilmiah itu enggak bisa sembarangan. Ada banyak tahapan yang harus kamu lalui dan itu cukup menguras tenaga, pikiran, dan air mata. Pokoknya kalau kamu mau menulis artikel ilmiah, kuncinya cuma satu: sabar.

Nah, sabar seperti apa sih yang perlu kamu lakukan? Ini adalah beberapa di antaranya.

Pertama, sabar melakukan penelitian. Artikel ilmiah itu ‘kan isinya hasil penelitian. Maka sebelum menulis, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah melakukan penelitian. Penelitiannya bisa berupa studi literatur, observasi, wawancara, atau sebar kuesioner. Meski kelihatannya gampang, tetapi prosesnya cukup menguji kesabaran. Penelitian itu bukan kerjaan yang sehari dua hari beres, tetapi bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Pokoknya kamu harus ekstra sabar, deh.

Kedua, sabar menyusun artikel. Kesabaran kamu bakal diuji lagi ketika menuangkan hasil penelitian ke dalam artikel. Artikel ilmiah sangat berbeda dengan artikel opini yang dibangun dari pendapat atau pemikiran pribadi. Artikel ilmiah harus didasarkan pada hasil penelitian, baik dari penelitian sendiri maupun orang lain. Makanya, jangan heran kalau di artikel-artikel ilmiah itu banyak dijumpai kutipan-kutipan peneliti sebelumnya. Artinya, kamu harus banyak baca artikel ilmiah peneliti lain untuk dijadikan referensi artikel yang kamu buat. Ini berat, gaes.

Ketiga, sabar menerjemahkan artikel. Meski beberapa jurnal nasional masih menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia, tetapi sebagian besar jurnal–khususnya jurnal terakreditasi Sinta 3 ke atas–hanya menerima artikel ilmiah dalam bahasa Inggris. Mau enggak mau, kamu kudu menerjemahkan artikel yang sudah kamu buat itu ke dalam Bahasa Inggris. Proses ini juga enggak gampang karena kamu enggak cukup mengandalkan aplikasi terjemahan macam Google Translate. Kalaupun pakai aplikasi terjemahan, kamu harus sabar membaca dan memeriksa satu per satu kalimat hasil terjemahan tadi.

Keempat, sabar merevisi artikel. Kalau misalnya artikel ilmiah yang kamu buat itu sudah di-submit di jurnal dan sedang dalam proses review, jangan senang dulu. Justru di tahapan inilah puncak kesabaran kamu diuji. Selain rentang waktu review yang lumayan lama (bisa dalam hitungan minggu atau bulan), hasil reviewnya juga bisa bikin kamu merombak semua artikel yang sudah dibuat. Apalagi kalau reviewer-nya adalah dosen-dosen dari luar negeri, hampir setiap sub judul artikel pasti dikomentari dengan bahasa yang lugas tanpa basa-basi. Ngeri. Mau enggak mau, kamu harus sabar merevisi artikel yang sudah kamu buat dengan susah payah itu.

Kelima, sabar menunggu waktu tayang artikel. Seandainya artikel ilmiah kamu diterima dan akan ditayangkan di suatu jurnal, saya ucapkan selamat. Seenggaknya kamu sudah melampaui tahapan kesabaran sampai di titik itu. Akan tetapi, kamu harus tetap sabar karena waktu tayangnya enggak bisa diprediksi dan sering lewat dari jadwalnya. Fyi, rentang waktu dari submit artikel ilmiah hingga tayang di jurnal itu paling cepat tiga bulan. Kadang ada juga yang sampai enam bulan dan bahkan satu tahun lebih. Menunggu itu memang membosankan dan bikin kesal, tetapi kamu harus sabar.

Itulah lima jenis kesabaran yang harus kamu miliki kalau ingin menulis artikel ilmiah. Kalau kamu merasa belum cukup sabar untuk menulis artikel ilmiah, mending latihan menulis artikel di tempat lain, deh. Menulis di Kapito.id, misalnya.

Editor: Widya Kartikasari
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Petualang Negeri Sipil.

Artikel dari Penulis