Generalisasi Seksis di Balik Ungkapan “Perempuan Selalu Benar”

Perempuan selalu benar

Pernah tidak kamu berdebat entah dengan teman, saudara, pacar atau siapapun lalu keluar celetukan, “Iya deh iya, perempuan emang selalu benar” saat merasa terpojok? 

Apakah kamu merasa familiar dengan meme emak-emak lampu sen kiri belok kanan? Pernah mengalami kejadian seperti itu di jalanan? Kalau pernah, siapa yang marah-marah? Kamu atau emak-emak itu? Entah saking kesalnya atau apa, lantas keluarlah celetukan, “Perempuan selalu benar”. Sampai-sampai ada bunyi undang-undangnya seperti ini:

“Pasal 1 perempuan selalu benar, pasal 2 kalau perempuan salah, kembali ke pasal 1.”

Nah, buat kamu para perempuan di luar sana, setujukah kamu dengan ungkapan tersebut? Atau kamu malah merasa ungkapan itu ofensif? Mari ikuti artikel ini sampai habis. 

Generalisasi yang Seksis

Sekilas, ungkapan “perempuan selalu benar” tampak seperti “meninggikan” atau menempatkan perempuan pada posisi yang lebih superior. Padahal sejatinya ungkapan ini bukan sebuah pujian atau bentuk penghormatan, melainkan generalisasi yang seksis.

Baca juga: Biografi Serena Williams, Pemain Tenis Wanita yang Melawan Seksisme

Di dalamnya tersirat sarkasme terhadap gender tertentu yang biasanya diungkapkan oleh laki-laki sebagai bentuk kekesalan atau ketidaksepakatan terhadap pendapat atau sikap perempuan. Tetapi dibungkus dengan pernyataan seolah perempuan itu tidak pernah salah. 

Alih-alih merasa superior, ungkapan “perempuan selalu benar” ini cenderung ofensif dan menggeneralisir. 

Bukankah manusia itu tempatnya salah dan lupa? Kalau menuruti logika ini, seharusnya perempuan juga bisa salah kan? Apakah karena perilaku beberapa perempuan yang membuatmu kesal, seperti halnya emak-emak lampu sen kiri belok kanan, lantas kamu berhak berkesimpulan bahwa sesalah apapun perempuan yang minta maaf tetap laki-laki? 

Entah benar atau salah, saya pikir setidaknya ada dua alasan mengapa laki-laki suka berkata, “perempuan selalu benar” ketika sedang beradu argumen dengan perempuan. Pertama, si perempuan yang baperan parah atau passive-aggressive sehingga laki-laki (terpaksa) mengalah karena tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Kedua, laki-laki tersebut tidak punya landasan argumen yang kuat untuk meng-counter argumen si perempuan. 

Jika penyebabnya adalah yang pertama, saya sebagai perempuan hanya ingin berkata (untuk diri saya juga sebenarnya) bahwa laki-laki itu bukan cenayang yang bisa menebak isi hati dan pikiranmu. Jadi, ungkapkan saja dengan jujur, tegas dan tetap menghormati perasaannya. Kalau kamu memang salah, akui saja kalau salah. Jangan pula main kode-kode yang bisa membuatnya makin pusing.

Baca juga: Gender dan Kemiskinan

Namun, jika penyebabnya adalah yang kedua, saya harap kamu sebagai laki-laki bisa belajar untuk mendengar dan menghargai pendapat perempuan. Meski kamu tidak setuju dengan pendapatnya. Hanya karena kamu laki-laki dan makhluk rasional, bukan berarti pendapatmu selalu lebih valid. 

Kontradiktif dengan Realitas

Ungkapan “perempuan selalu benar” sebenarnya bisa dibantah melalui sejumlah fakta di lapangan. 

Saya mulai dengan contoh yang paling sering membuat saya mengelus dada,  yaitu soal pelecehan seksual.

Baca juga: Kekerasan Seksual dalam Lagu Aborsi Karya Slank

Ketika korban menceritakan pengalamannya, sebagian merespon dengan simpati dan sebagian lagi dengan nyinyir. Komentar yang sering bikin geleng-geleng kepala tentu saja soal pakaian korban. 

Padahal menurut survei yang dirilis oleh Change.org pada akhir tahun 2018 menunjukkan bahwa pakaian korban pelecehan seksual yang paling banyak dipakai justru bukan pakaian terbuka atau ketat, melainkan rok dan celana panjang (18%). Disusul dengan pakaian berjilbab di urutan kedua dengan persentase 17%. Baju lengan panjang di urutan ketiga (16%). Seragam sekolah dan pakaian longgar di urutan berikutnya. Dengan persentase masing-masing sebesar 14%. 

Dalam wawancaranya dengan Magdalene.co, pegiat isu gender dan pendiri Cadar Garis Lucu, Ainun Jamilah mengaku bahwa ia pernah kena catcalling padahal sudah berpakaian jilbab syar’i

Ketika Ainun memutuskan untuk bercadar pun, gangguan dari laki-laki iseng tetap saja ada. Itu artinya, perempuan mau berbikini atau berjilbab syar’i, mau telanjang bulat atau tertutup rapat, kalau si laki-laki otaknya konslet, pelecehan seksual tetap bisa terjadi. Namun, yang disalahkan lagi-lagi perempuan karena dikira tidak bisa menjaga diri. 

Dampak dari generalisasi seksis ini ternyata juga dilanggengkan oleh sesama perempuan sendiri. Contoh lainnya bisa kita temukan dalam fenomena mom war, baik di dunia nyata maupun maya. 

Dalam urusan pengasuhan dan pendidikan anak misalnya, perempuan juga sering disalahkan ketika ada yang tidak beres dengan anaknya.

Ketika anaknya sakit-sakitan atau membuat masalah, yang disalahkan ibunya. Ibunya dianggap tidak bisa mengurus dan mendidik anak. Ejekan dan sindiran akan semakin tajam ketika sang ibu berstatus working mom alias ibu pekerja.

Baca juga: Kekuatan Tulisan Kartini

Sementara ayahnya, hampir tidak pernah dipertanyakan tanggung jawabnya dalam urusan pengasuhan dan pendidikan anak. Padahal pengasuhan dan pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama antara ibu dan ayah. 

Akibat generalisasi yang nampaknya juga menjadi doktrin dalam alam bawah sadar mereka. Beberapa ibu tidak segan untuk memulai perdebatan antara ibu pekerja vs ibu rumah tangga. Lahiran normal vs sesar, ASI vs susu formula dan sebagainya. Akibat menganut paham “perempuan selalu benar”, mereka memaksakan pendapat dan pilihannya sebagai yang paling benar. Tanpa mau memahami dan berempati atas kondisi ibu-ibu lainnya. Seolah-olah ibu-ibu lain yang berbeda pandangan dan pilihan dengan mereka adalah ibu yang buruk. 

Menormalisasi ungkapan “perempuan selalu benar” bukan tindakan yang bijak. Hal ini justru menutup pintu dialog yang setara antara laki-laki dan perempuan. Jika tujuan dari dialog adalah untuk memecahkan masalah, yang harus dikedepankan bukan ego untuk menang. Bisa jadi pendapat si laki-laki yang lebih baik, bisa juga sebaliknya. Bisa jadi pula pendapat keduanya sama-sama baik. Bukankah komunikasi yang saling menghargai seperti ini jauh lebih sehat dalam sebuah hubungan? 

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Salman Al Farisi

Mantan mahasiswa jurusan akuntansi yang lebih tertarik mendalami topik psikologi, sosial-budaya, gender dan lingkungan. Irit kata dalam bicara, tapi boros dalam tulisan. Bisa disapa di @luna.septalisa (instagram) atau kunjungi kompasiana.com/lunaseptalisa.

Artikel dari Penulis