Ributnya Orang Tua Menjadi Stresnya Anak

Ributnya Orang Tua

Ributnya Orang Tua Menjadi Stresnya Anak – Seringkali kita abai dengan peristiwa seperti judul di atas. Mungkin kita menganggap hal itu meruapakan suatu hal yang sangat biasa. Namun, jika kita mau untuk sedikit respect dan belajar mengkaji peristiwa itu sedikit saja, kita pasti sadar bahwa peristiwa itu termasuk peristiwa yang wow dan bisa membuat hati kita tersentuh. Lalu, apakah kalian mengerti maksud dari judul tulisan ini? Ya, itu adalah fenomena Broken Home. Fenomena yang masih dianggap sepele sehingga masih banyak orang tua yang melakukan kesalahan tersebut tanpa memikirkan kondisi mental anak mereka.

Sebenarnya apa sih Broken Home itu? Menurut pemahaman saya pribadi, fenomena ini adalah saat di mana rusaknya pemahaman dan pola pikir salah satu orang tua sehingga menimbulkan kesalahpahaman di antara keduanya yang berakhir dengan perdebatan negatif. Padahal seharusnya, kehadiran kedua orang tua menjadi “rumah ternyaman” bagi anak-anak mereka. Terlebih ketika usia mereka masih di bawah umur, belum dewasa dan masih sangat butuh kasih sayang kedua orang tuanya.

Seringkali fenomena ini kita jumpai pada keluarga  yang secara ekonomi adalah keluarga di tingkat strata atas. Mengapa demikian? Karena tingkat pola pikir dan kasih sayang mereka (kedua orang tua) minim di saat mereka memiliki sejumlah harta benda yang di atas rata-rata. Hingga akhirnya, sedikit melupakan keberadaan anak mereka di dalam rumah.

Tak hanya soal pola pikir saja. Faktanya, watak dan perilaku pun juga bisa jadi pemicu peristiwa sedih ini. Bayangkan saja, ketika salah satu orang tua kita memiliki watak keras kepala dan sangat emosional. Hanya karena masalah sepele saja, bisa menjadi masalah yang begitu besar. Parahnya orang tua yang satunya lagi tidak terima dengan amarah tersebut. Hal itu bisa menjadi sebuah pertengkaran bukan? Terlebih lagi jika terjadi berulang kali dan hampir setiap hari.

Baca juga: Quarter Life Crisis dan Prasangka Baik

Namun ada lagi pemicu Broken Home yang sangat terkenal dan mudah kita tebak. Ya, perceraian!  Hampir semua orang awam tahu dampak dari perceraian. Karena hilangnya salah satu orang tua tentu saja hilang pula separuh kasih sayangnya. Mereka (anak-anak) biasanya diperebutkan oleh salah satu dari kedua orang tua dalam masalah hak asuh. Mereka tentunya tidak ingin hidup dengan orang tua tunggal. Namun seringkali hal itu diabaikan orang tua ketika mereka dengan egois memutuskan untuk bercerai.

Terkadang, memang ada orang tua yang masih memikirkan anak-anak mereka di saat mereka akan mengambil keputusan untuk bercerai. Namun, masih sangat minim sekali. Sebagai orang tua, mereka mungkin menganggap pertengkaran itu sebagai hal yang “bodoamat”. Mereka tidak pernah berfikir tentang anak mereka yang mungkin saja diam-diam mendengar dan melihat pertengkaran itu yang bisa menjadi tekanan batin bagi anak. Yang paling parah, kondisi batin yang tertekan itu bila dibiarkan akan membuat kondisi mental mereka lemah dan berujung pada kondisi psikis yang abnormal. 

Realita memang tidak selalu berakhir bahagia ya kan? Tetapi kita bisa berusaha untuk terus mengubah itu menjadi hal yang perlahan indah dan menyenangkan. Kita semua tahu, hidup dan tinggal dengan kedua orang tua yang sering berselisih paham tidaklah mudah. Namun, tetaplah semangat! Karena bagaimanapun juga, kedua orang tua adalah orang yang sangat penting di dalam hidup kita. Sebisa mungkin, kita sebagai anak ikut serta meredakan pertengkaran mereka. 

Misalnya, ketika bapak ibu kita sedang berselisih paham, kita jangan menjadi diam dan serta merta tak peduli. Ajaklah mereka untuk berdamai. Setidaknya kita turut serta meredakan emosi mereka dengan memberitahu bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Namun tetap dengan tutur kata yang baik dan sopan. Walaupun memang, memberitahu perbuatan orang tua yang seperti itu tidaklah mudah. Namun cobalah untuk tetap berusaha memberitahu hal tersebut. Perlahan pasti bisa!

Terkecuali bagi korban Broken Home yang masih anak-anak dan mereka masih belum paham tentang situasi ini. Anak-anak seperti mereka tentunya ingin dinasehati, ditemani, dan disayangi. Namun, harapan mereka pupus ketika melihat kondisi pertengkaran oleh kedua orang tua mereka. Suatu saat, apabila kita melihat dan menyaksikan situasi tersebut, ajaklah anak tersebut untuk bermain bersama. Setidaknya untuk sekedar melupakan kejadian menyeramkan yang terjadi di rumah bersama orang tua mereka.

Tidak hanya kepada anak-anak saja kita perlu merasa empati. Kepada orang-orang yang sudah cukup umur untuk menghadapi situasi ini, ada baiknya kita turut paham dan mengerti dengan kondisi mental mereka. Dan jika suatu saat kalian menemukan seseorang dengan latar belakang seperti itu, ajaklah dia sebisa mungkin untuk bahagia. Walaupun sekedar melupakan beban pikiran mereka yang tertekan karena kondisi kedua orang tua yang terlalu sering berselisih paham. Semoga para orang tua bisa mengerti dan paham bahwa bertengkarnya mereka adalah beban mental dan pikiran bagi anak-anak kalian di rumah.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Penulis merupakan mahasiswi di salah satu universitas islam negeri di Kota Surabaya. Namanya Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra. Ia dilahirkan di Lamongan, tanggal 7 bulan Juli tahun 2003. Penulis merupakan anak tunggal dengan impian bisa menghasilkan karya tulis yang bermanfaat bagi orang lain. Penulis juga menyukai tulisan bergenre fiksi dan fakta seperti esai dan opini. Selain karya, penulis juga menyukai musik. Penulis bisa dihubungi melalui akun medsos Instagram: @frkhasfz_ dan Twitter: @Frkhasfz_.

Artikel dari Penulis