Sayyid Abdullah Alaydrus: Saudagar Dermawan dan Pendukung Pan-Islamisme dari Batavia

Sayyid Abdullah Alaydrus

Sayyid Abdullah Alaydrus: Saudagar Dermawan dan Pendukung Pan-Islamisme dari Batavia – Para ulama yang datang ke Indonesia, termasuk dari Hadramaut, tidak hanya untuk berdagang melainkan juga berdakwah. Menurut penelitian Van den Berg, masyarakat Arab memang sudah lama hadir dan bermukim di Nusantara sejak abad ke-17 (Yusuf, 2016). Sebagian besar dari mereka menduduki posisi prestisius, seperti mufti atau penasihat di kerajaan dan pemerintahan (Rakhmadi, 2024). Namun, ada juga yang menjadi saudagar kaya yang turut serta dalam perjuangan Islam.

Sayyid Abdullah bin Husein Alaydrus dan Kedermawanannya

Catatan mengenai Sayyid Abdullah Alaydrus memang tidak banyak ditemukan dalam sumber sejarah. Sosoknya hanya disebutkan secara singkat dalam buku Hikayat Kapitan Arab di Nusantara (Jejak Dakwah dan Nasionalisme) karya Nabiel A. Karim Hayaze, yang diterbitkan pada tahun 2021. Meskipun demikian, perannya di Batavia tidak bisa dianggap remeh.

Latar Belakang dan Kekayaan

Sayyid Abdullah bin Husein Alaydrus dikenal sebagai seorang saudagar kaya raya dan terpandang di Batavia. Menurut Alwi Shahab, Sayyid Abdullah bin Husein Alaydrus adalah seorang saudagar kaya raya dan terpandang yang dikenal karena kedermawanan serta akhlaknya yang baik. Ia memiliki banyak properti di Jakarta, sebagaimana disebutkan, “Beberapa gedung dan pertokoan di Jalan Gajah Mada dan Petamburan (Jakarta Pusat) merupakan milik Sayyid Abdullah Alaydrus. Ia juga memiliki rumah dan tanah seluas 11,5 hektar. Semua gedung dan tanah tersebut disewakan, sehingga ia memperoleh penghasilan sebesar 12 ribu gulden setiap bulan.”

Baca juga: Pangeran Syarif Ali Alaydrus dan Pluralisme Agama di Sebamban, Kalimantan Selatan

Peran dalam Perjuangan Islam

Selain dikenal sebagai saudagar kaya, Sayyid Abdullah Alaydrus juga dikenal sebagai orang yang pro terhadap pemikiran Pan-Islamisme dan sangat kuat dalam memegang ajaran Islam. Sikapnya ini tercatat dalam laporan Konsul Inggris di Batavia pada tahun 1919-1920, yang berjudul Index of Arab. Laporan tersebut memuat daftar orang-orang Arab yang dicurigai memiliki sikap pro terhadap Turki dan Pan-Islamisme. Dalam dokumen tersebut, namanya disebutkan sebagai berikut:

“Said (Sayyid) Abdullah Alaydrus lahir di Hadramaut, usia sekitar 65 tahun, alamat di Petamburan, Weltevreden (kota), pengusaha kopi. Sangat pro-Turki serta Jerman, dan sangat anti-British.”

Dukungan Sayyid Abdullah terhadap perjuangan Islam juga terlihat dalam Perang Aceh. Alwi Shahab mengungkapkan bahwa pada akhir abad ke-19, Sayyid Abdullah memberikan dukungan bagi para pejuang dari Tanah Rencong dalam melawan Belanda dengan cara menyelundupkan senjata dari Singapura.

Kedermawanan dan Kontribusi terhadap Masjid

Sayyid Abdullah Alaydrus juga dikenal karena kedermawanannya, terutama dalam mendukung pembangunan dan renovasi masjid. Di Batavia, kedermawanannya tercermin dalam kontribusinya terhadap renovasi dan perluasan masjid, salah satunya Masjid An-Nawier di Pekojan, Jakarta Barat. Hal ini dikonfirmasi oleh Snouck Hurgronje dalam salah satu nasihatnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 31 Oktober 1906:

“Memang akhir-akhir ini telah dilakukan perbaikan dan perluasan masjid Arab yang cukup besar di Kampung Pekojan, yang pada pokoknya atas biaya saudagar Arab yang kaya, Sayyid Abdullah bin Husein Alaydrus.” (Hayaze, 2021).

Sebuah gambar berisi outdoor, bangunan, sepeda motor, langitKonten yang dihasilkan AI mungkin salah.

(Masjid An-Nawier, Pekojan, Jakarta Barat. Sumber: republika.id)

Masjid yang diperluas oleh Sayyid Abdullah Alaydrus pada abad ke-18 ini juga menjadi tempat pengajaran Habib Usman bin Yahya, seorang mufti Islam di Batavia. Salah satu murid terkenalnya adalah Habib Ali Al-Habsyi, yang kelak mendirikan Majelis Taklim Kwitang di Jakarta Pusat.

Baca juga: Karomah Cahaya Habib Muhammad Alaydrus, Sang “Habib Neon”

Selain Masjid An-Nawier, di Pekojan juga terdapat Masjid Zawiah, yang didirikan oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas. Beliau datang dari Hadramaut ke Batavia untuk berdakwah dan merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, pendiri Majelis Taklim di Empang, Bogor (Shahab, 2004).

Akhir Hayat dan Peninggalan

Sayyid Abdullah bin Husein Alaydrus sendiri wafat pada tahun 1936 dalam usia 80 tahun. Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya, namanya diabadikan sebagai nama jalan di daerah Petojo Utara, Jakarta Pusat.

Daftar Referensi

Yusuf, A. (2016). Dinamika Ekonomi Masyarakat Arab di Batavia Tahun 1990-1942. Al-Turas UIN Jakarta.

Rakhmadi, A. J. (2024). Ilmu Falak Nusantara Genealogi Transmisi, Sumber, Jaringan, Polemik, dan Konstruksi Karya. Sumatera Utara: Umsu Press.

Hayaze, N. K. (2021). Hikayat Kapitein Arab di Nusantara (Jejak Dakwah dan Nasionalisme). Yogyakarta: Penerbit Garudhawacana.

Shahab, A. (2004). Saudagar Baghdad dari Betawi. Jakarta: Penerbit Republika.

Bagikan di:

Artikel dari Penulis