Karomah Cahaya Habib Muhammad Alaydrus, Sang “Habib Neon”

Habib Muhammad Alaydrus

Karomah Cahaya Habib Muhammad Alaydrus, Sang “Habib Neon” – Perkembangan Islam di Indonesia tidak lepas dari perjuangan dan dakwah para ulama. Para ulama menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru Indonesia. Di Indonesia, ada banyak ulama yang tidak terhitung jumlahnya. Mereka memiliki kedudukan yang sangat dihormati di masyarakat. Bahkan, mereka memiliki berbagai karomah yang luar biasa. Cerita karomah ini bukanlah hal yang asing di Indonesia, lebih-lebih di kalangan muslim. 

Karomah secara bahasa berasal dari salah satu Asmaul Husna, yakni al-Karim yang artinya Maha Mulia. Secara istilah, karomah adalah hal atau kejadian yang luar biasa di luar nalar (logika) dan kemampuan manusia awam yang terjadi pada diri seorang waliyullah (wali Allah). Karomah biasanya dimiliki sebagian orang yang suka menjalankan kebaikan, mengikuti sunnah, dan memiliki keistiqomahan dalam ibadah. Allah Swt memberikan kemuliaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki (Ajhari, 2019). 

Salah satu waliyullah yang memiliki karomah itu adalah Habib Muhammad bin Husein Alaydrus dari Surabaya. 

Sekilas Kampung Arab Surabaya

Indonesia sudah lama menjadi tujuan para pedagang sejak zaman kerajaan. Para pedagang yang datang ke Indonesia tidak hanya berasal dari Cina dan Eropa, tetapi juga dari Arab, khususnya dari Hadramaut, Yaman. Selain berdagang, mereka juga membawa misi untuk menyebarkan Islam. Hingga akhirnya banyak dari mereka yang menetap di Indonesia hingga sekarang, salah satunya di Surabaya. 

Baca juga: Biografi Sunan Ampel atau Raden Rahmat, Bapak Para Wali

Komunitas Arab di Surabaya berkembang pesat di Kawasan Ampel. Sejak berabad-abad lalu, komunitas ini telah menjadi penghuni kawasan ini, dan semakin berkembang pada awal abad ke-19. Komunitas Arab yang masuk ke Surabaya bermula dari pedagang Arab yang masuk dan banyak dari pedagang ini yang kemudian menikah dengan penduduk lokal dan tinggal di Surabaya (Kusumowidagdo). 

Biografi Habib Muhammad bin Husein Alaydrus

Habib Muhammad memiliki nama lengkap Muhammad bin Husein bin Zainal Abidin bin Ahmad Alaydrus. Lahir di Tarim, Hadramaut pada tahun 1888, beliau adalah sosok yang dihormati di kalangan ‘arifin billah, atau mereka yang memiliki pengetahuan tentang rahasia dan misteri Allah Swt (Anzela, 2023). 

Meskipun tidak banyak sumber yang mencatat karya-karya beliau, Habib Muhammad dikenal sebagai cendekiawan Islam terkemuka dan tokoh yang sangat disegani oleh masyarakat. Beliau wafat pada 22 Juni 1969, dan dakwahnya kemudian diteruskan oleh Habib Syaikh bin Muhammad Alaydrus dengan membuka Majelis Burdah di Ketapang Kecil, Surabaya. 

Sejak kecil, Habib Muhammad sudah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu dan agama. Di bawah asuhan ayahnya, Habib Husein Alaydrus, Habib Muhammad tumbuh menjadi pribadi yang kokoh dengan pemahaman agama yang kuat. Seiring bertambahnya usia, Habib Muhammad melanjutkan perjalanan spiritualnya dengan merantau ke Singapura dan Palembang. Di Palembang, beliau menikah dengan Aisyah binti Musthafa Alaydrus. Perjalanannya kemudian berlanjut ke Pekalongan, Jawa Tengah, dan akhirnya Surabaya (Media, 2023).

Seperti halnya para wali yang lain, Habib Muhammad juga kuat dalam beribadah. Setiap waktunya selalu digunakan untuk berdzikir dan bersholawat. Beliau juga tidak pernah menolak untuk menghadiri undangan dari kaum fakir miskin. 

Julukan “Neon” Habib Muhammad Alaydrus

Secara umum, “neon” berarti lampu yang memancarkan cahaya terang. Julukan “Neon” yang disematkan kepada Habib Muhammad Alaydrus berasal dari sebuah peristiwa luar biasa yang terjadi saat ribuan jamaah mengikuti taklim di sebuah masjid di Surabaya. Tiba-tiba, listrik padam, membuat suasana masjid gelap dan para jamaah panik.

Di tengah kepanikan itu, dari kejauhan tampak seseorang berjalan menuju masjid. Ia mengenakan gamis dan sorban putih, dengan selempang kain berwarna hijau. Sosok itu adalah Habib Muhammad Alaydrus. Begitu beliau masuk ke dalam masjid, terjadi sesuatu yang mengejutkan—masjid tiba-tiba menjadi terang benderang, seolah ada lampu neon yang menyala. Padahal, Habib Muhammad tidak membawa alat penerangan seperti lampu atau obor. Setelah diperhatikan, ternyata cahaya itu berasal dari tubuh Habib Muhammad. Sejak saat itu, beliau dijuluki “Habib Neon” (Said, 2018).

Baca juga: Biografi Ahmad Dahlan, Sang Pendiri Muhammadiyah

Karomah Habib Muhammad ini juga pernah disinggung oleh KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani, atau yang akrab disapa Abah Guru Sekumpul. Menurut beliau, salah satu karomah Habib Muhammad Alaydrus adalah seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya seperti neon. 

Selain itu, menurut Habib Husein bin Abdullah Assegaf dari Gresik, di antara amalan dari Habib Muhammad adalah membaca shalawat sebanyak 10.000 kali dalam sehari. Beliau juga dikenal tidak pernah membuka aib orang lain, tidak pernah menghina siapa pun, serta selalu bersedekah, terutama kepada anak yatim dan fakir miskin.

Habib Muhammad Alaydrus adalah salah satu habaib yang masyhur di Indonesia, sejajar dengan tokoh-tokoh besar lainnya seperti Habib Abu Bakar Gresik, Habib Sholeh Tanggul dari Jember, dan Habib Husein Alaydrus dari Luar Batang, Jakarta (Amrullah, 2023).

Daftar Referensi

Ajhari, A. A. (2019). Jalan Menggapai Ridho Allah. Bandung: Fakultas Adab UIN Sunan Gunung Djati.

Kusumowidagdo, A. (t.thn.). An Analysis of Sense of Place in Ampel Corridor Surabaya. Jakarta: Universitas Ciputra.

Anzela, R. (2023, Juli 17). Fakta Unik dan Biografi lengkap Habib Muhammad bin Husein Alaydrus yang Lebih Dikenal dengan Habib Neo. Diambil kembali dari indonesiafolks.com.

Media, W. (2023, Desember 6). Habib Neon, Sang Penerang Kegelapan dari Timur Jawa. Diambil kembali dari wasthmedia.com.

Said. (2018, April 28). Karomah Habib Muhammad bin Husein Alaydrus Ulama Berjuluk Habib Neon. Diambil kembali dari sindonews.com.

Amrullah. (2023, Januari 9). Abah Guru Sekumpul Ungkap Rahasia Habib Neon Surabaya. Diambil kembali dari beritabantu.pikiran-rakyat.com.

Bagikan di:

Artikel dari Penulis