Estetika Omong Kosong dan Dosa-Dosa Kecil dari Lidah yang Tak Terkontrol — Pada suatu sore yang tak terduga, saya bertemu teman lama bernama Ahmad Rifai. Posturnya pendek dan tambun, kedua tangannya dipenuhi gelang-gelang estetik, dan yang paling mencolok: ia gemar berbicara tanpa mempertimbangkan benar atau salah. Sore itu, ia memberi saya sebuah nasihat yang khas. Dalam Bahasa Jawa dialek Malang, Ahmad Rifai berkata:
“Nyocot lan waspodo. Isin gak bendino. Timbang diarani goblok, mending etok-etok pinter.”
(Teruslah berbicara dan tetaplah waspada. Malu itu tidak setiap hari. Daripada dianggap bodoh, lebih baik berpura-pura pintar).
Saya tertawa—kemudian terdiam. Meski terdengar seperti parodi kasar dan konyol, kalimat itu, di sisi lain, menyimpan kebenaran. Kata-kata itu terus terngiang di benak saya, menggiring saya pada perenungan tentang keberanian, kepura-puraan, dan eksistensi diri di hadapan publik. Semakin direnungkan, makin terasa getir. Kalimat itu seolah mencerminkan bagaimana dunia sosial bekerja hari ini: keberanian berbicara kadang lebih dihargai daripada kualitas isi pembicaraan.
Tentu, saya tidak serta-merta menilai negatif nasihat itu, karena dalam beberapa hal, ada nilai positif yang bisa dipetik. Maka, mari kita kupas satu per satu, kisanak!
Nyocot lan Waspodo
Jika dalam Serat Kalatidha, Ranggawarsita mengajarkan prinsip eling lan waspada (selalu ingat dan waspada), Ahmad Rifai malah menawarkan versinya sendiri: nyocot lan waspodo—nyerocos dan tetap waspada.
Dalam Bahasa Jawa, “nyocot” memiliki konotasi cerewet, blak-blakan, tanpa jeda, bahkan sering kali tanpa peduli apakah lawan bicara masih ingin mendengarkan atau tidak. Saran untuk “teruslah nyerocos” bisa terdengar dangkal dan sembrono. Namun, di dunia yang lebih menghargai ekspresi daripada esensi, siapa yang bisa menyangkal nilai dari keberanian berbicara?
Baca juga: Beberapa Keambyaran dalam Hidup dan Cara Mengatasinya
Di era digital saat ini, “nyerocos” menemukan wadah barunya: media sosial. Di sana, siapa pun bisa menjadi ahli, pakar, bahkan filsuf, hanya dengan membuat utas panjang di Twitter atau merekam wajah sendiri dalam reels berdurasi satu menit. Kualitas isi? Urusan nanti. Yang penting: tampil dulu.
Namun, “teruslah nyerocos” bukan berarti menganjurkan untuk asal bunyi (asbun). Faktanya, rasa takut berbicara di depan umum adalah hal yang lumrah, dan ada banyak cara untuk mengatasinya. Ada pepatah Jawa yang mengatakan, ajining diri gumantung saka lati—harga diri seseorang tergantung pada lidahnya. Dan teman saya melengkapinya: “tetaplah waspada.”
Menurut saya, ungkapan ini adalah ajakan untuk menguasai ruang bicara, menciptakan persepsi, dan memperluas pengaruh dalam percakapan. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi turut mengarahkan arus wacana dan narasi. Keberanian berbicara—asal disertai kewaspadaan—adalah bentuk kendali atas persepsi publik, bahkan bisa mengalahkan argumen yang lebih logis. Dalam masyarakat yang lelah berpikir, keberanian berbicara sering kali dianggap sebagai kebenaran. Inilah esensinya.
Isin Gak Bendino
“Karena malu tidak setiap hari” adalah lanjutan dari diksi sebelumnya. Sekilas, pernyataan ini tampak bertentangan dengan hadits Nabi: al-hayā’ minal īmān—malu adalah sebagian dari iman. Tapi konteks “malu” yang dimaksud Rifai berbeda. Malu yang ia maksud adalah rasa sungkan yang membuat seseorang terjebak dalam zona nyaman.
Baca juga: Umat Manusia Berjalan Menuju Kepunahan
Dalam kondisi tertentu, rasa malu justru bisa menjadi penghalang utama untuk tampil percaya diri. Kalimat ini menjadi semacam pengingat: menunda karena malu bisa berarti kehilangan momentum. Dan kesempatan, sering kali, tidak datang dua kali.
Salah satu dari 48 hukum kekuasaan Robert Greene berbunyi: enter action with boldness—masuklah ke dalam tindakan dengan keberanian. Bahkan tanpa pengetahuan mendalam, keberanian itu sendiri mampu menunjukkan dominasi. Karena sejatinya, keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi kemampuan untuk tetap bergerak meski rasa takut itu masih ada. Rasa malu mungkin datang sesekali, tetapi kebenaran perlu diperjuangkan setiap saat.
Timbang Diarani Goblok, Mending Etok-Etok Pinter
“Daripada dianggap bodoh, lebih baik berpura-pura pintar,” demikian lanjut Rifai. Mungkin ia, tanpa sadar, sejalan dengan gagasan Jean-Paul Sartre bahwa eksistensi mendahului esensi. Dalam konteks ini, berpura-pura pintar bukanlah sebuah kebohongan, melainkan usaha membentuk citra diri yang lebih percaya diri.
Jadi, tak perlu takut dicap “sok pintar”. Terkadang, “sok pintar” adalah langkah awal menuju pemahaman yang lebih sejati. Kepura-puraan dalam level tertentu bisa menjadi batu loncatan menuju keaslian. Berpura-pura pintar memberi kita ruang untuk belajar. Setiap kata yang diucapkan, meski belum sempurna, adalah latihan untuk berani berpikir dan berbicara.
Baca juga: Baca Buku di Warkop: Gerakan Populis yang Tak Perlu Estetika
Dalam Il Principe, Machiavelli pernah berkata bahwa seorang pangeran harus terlihat penuh belas kasih, jujur, religius, dan sebagainya—tetapi harus siap bersikap sebaliknya bila dibutuhkan. Artinya, kita pun harus tahu kapan perlu terlihat pintar, meski itu bukan kebenaran sepenuhnya.
Epilog: Omong Kosong yang Mengubah Dunia
Di ruang kelas berdebu, lorong kantor yang sunyi, atau jalanan penuh keluh—ada banyak lidah yang ingin bersuara. Tapi mereka terpenjara dalam rasa takut dan malu.
Maka datanglah nasihat absurd, bahkan kasar: “Nyocot lan waspodo. Isin gak bendino. Timbang di arani goblok, mending etok-etok pinter”.
Dunia bukanlah milik mereka yang selalu tahu, tapi milik mereka yang berani mencari tahu. Dengan suara yang gemetar, dengan kata yang berantakan. Hari ini salah bicara. Besok belajar memperbaiki. Lusa mulai didengar. Dan minggu depan, mungkin jadi suara perubahan.
Pada akhirnya, “nyerocos” bukan soal ingin dianggap pintar—tapi soal tidak ingin kalah oleh ketakutan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Daftar Pustaka
Greene, Robert. 2023. 48 Hukum Kekuasaan. Jakarta: Binarupa Pustaka.
Machiavelli, Niccolò. 2008. Il Principe. Yogyakarta: Penerbit Narasi.
Cleary, Thomas. 2002. Sun Tzu: Seni Perang. Jakarta: Penerbit Erlangga.














