People Pleaser dan Tips Cara Mengatasinya

People Pleaser

People Pleaser dan Tips Cara Mengatasinya – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan dengan situasi dimana kita harus memuaskan orang lain agar mencapai tujuan yang telah ditentukan. Nah, ada suatu istilah yang kerap digunakan untuk menyebut perilaku ini, yaitu “people pleaser“. Ternyata perilaku ini jika berlarut-larut, dapat menimbulkan banyak masalah. Mari kita cari tahu apa sebenarnya people pleaser ini, dampak buruknya bagi pelaku, serta bagaimana cara mengatasinya.

Pengertian People Pleaser

Mengutip dari MedicalNewsToday, people pleaser merujuk pada orang yang selalu ingin membuat orang lain senang. Mereka berusaha keras untuk menjadi seperti yang diharapkan orang lain, dan sering kali mengabaikan kepentingan sendiri demi memuaskan orang lain. Mereka akan berusaha dengan segala cara untuk menghindari konflik dan selalu ingin dilihat sebagai orang yang baik-baik saja.

Kebiasaan ini biasanya muncul pada anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh tekanan atau ketidakpastian, atau mereka yang sering mendapatkan kritikan dari orang tua atau guru. Kebiasaan ini juga bisa muncul akibat trauma masa lalu, misalnya ketika seseorang pernah dihina atau dijadikan bulan-bulanan oleh teman-temannya.

Baca juga: “People Come and Go” adalah Hal yang Wajar

Orang-orang yang selalu ingin membuat orang lain senang sering kali tidak sadar bahwa perilaku mereka ini sebenarnya berdampak buruk pada dirinya sendiri kelak. Mereka terus-menerus melakukannya karena sudah merasa terbiasa dan semakin hari semakin mengabaikan dirinya sendiri. Berikut beberapa dampak buruk yang bisa ditimbulkan akibat menjadi seorang people pleaser.

Dampak Buruk Menjadi People Pleaser

1. Kehilangan identitas

Tidak memiliki waktu atau ruang untuk mengeksplorasi keinginan dan kebutuhan pribadi, sehingga merasa tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya atau apa yang mereka inginkan dari kehidupan.

2. Stres dan kelelahan emosional

Terus-menerus merasa tertekan untuk memenuhi kebutuhan orang lain, yang dapat menyebabkan rasa lelah emosional dan stres yang berkepanjangan.

3. Masalah dalam hubungan

Merasa tidak nyaman mengungkapkan keinginan dan pendapat mereka sendiri, sehingga terkadang merasa terasing dari orang lain. Ini dapat menyebabkan masalah komunikasi dan kecemburuan dalam hubungan.

4. Kehilangan kepercayaan diri

Merasa tidak percaya diri untuk mengungkapkan pendapat dan keinginan sendiri, sehingga merasa tidak memiliki kontrol atas kehidupan mereka.

5. Ketidakseimbangan dalam kehidupan

Terlalu banyak mengabdikan waktu dan energi untuk memenuhi kebutuhan orang lain, sehingga merasa tidak memiliki waktu atau ruang untuk diri sendiri.

Ciri-Ciri People Pleaser

Berikut beberapa tanda yang bisa kalian perhatikan apakah pada diri sendiri atau ke orang-orang terdekat. Barangkali kalian atau orang di sekitar kalian memiliki ciri-ciri people pleaser berikut.

1. Sulit untuk mengatakan tidak

Ini adalah ciri-ciri utama dari para people pleaser. Seolah-olah muncul sebuah dinding yang sulit untuk ditembus saat akan mengatakan tidak atau melakukan penolakan pada permintaan orang lain. Kecenderungan untuk mengorbankan diri sendiri demi orang lain (entah karena tidak enak atau memang sudah menjadi kebiasaan) membuatnya sulit untuk mengatakan kata “tidak”.

2. Selalu setuju dengan keputusan orang lain

Selanjutnya adalah menjadi si ahli setuju. Maksudnya adalah seorang people pleaser akan cenderung untuk setuju dengan keputusan orang lain. Bahkan tidak jarang mengorbankan diri sendiri karena menyetujui pertimbangan atau keputusan orang lain, tanpa mempertanyakan resiko yang akan diterimanya sendiri. Hal ini sangat riskan, apalagi saat berada di dalam suatu perkumpulan, apakah itu komunitas, organisasi, ataupun masyarakat. Besar kemungkinan untuk dimanfaatkan oleh orang lain, mendapatkan atau mengerjakan tugas yang melebihi kapasitas dan kemampuan diri. Korbannya? Ya pasti diri sendiri.

3. Membutuhkan validasi orang lain

Amy Morin dalam tulisannya di Psychology Today, menyatakan bahwa seorang people pleaser ini seolah-olah menganggap validasi atau pengakuan orang lain terhadap dirinya adalah hal yang menggambarkan nilai dirinya. Tentu saja ini juga berhubungan dengan ciri-ciri yang sebelumnya. Tidak berani mengatakan tidak karena khawatir nanti si dia sakit hati, khawatir nanti dikira pelit, takut nanti dikira jahat, dikira ngeyel atau suka membantah karena tidak setuju, dan lain sebagainya. Ini sudah merupakan wujud bahwa seorang people pleaser menganggap penilaian orang lain terhadap dirinya itu penting sekali. Sampai rela mengorbankan diri sendiri, kebahagiaan sendiri, demi dianggap baik oleh orang lain.

4. Overthinking

Overthinking atau memikirkan sesuatu secara berlebihan akan menjadi ciri-ciri selanjutnya. Karena tidak terbiasa mengucapkan kata tidak atau penolakan, serta butuh validasi orang lain, tentunya saat mencoba untuk melakukan penolakan akan timbul rasa bersalah. Rasa bersalah yang sebenarnya tidak diperlukan karena memang tidak salah. Ini akan dipikirkan, menjadi gundah gulana, khawatir begini dan begitu. Intinya segala sesuatu dan setiap orang harus bahagia, dirinya sendiri adalah nomor atau urutan terakhir. Jika ingin melakukan penolakan atau tidak setuju terhadap pendapat orang lain akan memilih untuk memendamnya. Jika sampai terucap atau terlaksana penolakan tadi, maka akan menjadi buah pikiran semalaman, bahkan bisa sampai beberapa hari, terus merasa bersalah (padahal orang yang dipikirkannya itu mungkin sudah lupa dengan apa yang telah terjadi).

Cara Mengatasi Perilaku People Pleaser

Seperti yang kita tahu, people pleaser biasanya orang yang sangat peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka. Mereka akan berusaha keras untuk membuat orang lain senang, dan sering kali mengorbankan kepentingan mereka sendiri untuk melakukannya.

Baca juga: Pemaknaan Sederhana Motto “Hidup Seperti Larry”

Berikut beberapa tips atau cara untuk mengatasi perilaku people pleaser yang dapat kalian lakukan jika merasa memiliki kecenderungan yang telah dijelaskan sebelumnya.

  1. Mencari tahu penyebab kecenderungan menjadi people pleaser. Mungkin ada masalah personal atau masalah dalam keluarga yang menyebabkan seseorang cenderung menjadi people pleaser. Dengan mengetahui penyebabnya, seseorang bisa membuat rencana untuk mengatasinya.
  2. Belajar mengutarakan pendapat dan mengeluarkan pendapat secara jujur. Ini bisa dilakukan dengan terlebih dahulu mengevaluasi apa yang sebenarnya ingin disampaikan dan kemudian menyampaikan pendapat tersebut dengan cara yang sopan dan jujur.
  3. Belajar menolak permintaan orang lain secara sopan. Ini bisa dilakukan dengan menjelaskan alasan mengapa tidak bisa menyetujui permintaan tersebut atau dengan mencari solusi alternatif yang bisa diterima oleh semua pihak.
  4. Belajar mengatur waktu dan mengatur prioritas. Ini bisa dilakukan dengan membuat daftar kegiatan yang harus dilakukan setiap hari atau setiap minggu, serta memprioritaskan kegiatan yang benar-benar penting dan mendesak.
  5. Belajar mengambil keputusan sendiri. Ini bisa dilakukan dengan mempertimbangkan semua faktor yang relevan dan kemudian mengambil keputusan yang terbaik.
  6. Belajar menghargai diri sendiri dan menghargai kebutuhan diri sendiri. Ini bisa dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan diri sendiri, seperti mengambil waktu untuk beristirahat atau mengambil waktu untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan.
  7. Belajar mencari bantuan profesional. Jika kecenderungan menjadi people pleaser sudah sangat berlebihan dan mengganggu keseharian, sebaiknya mencari bantuan dari psikolog atau terapis yang dapat membantu mengatasi masalah ini.

Itulah pengertian, dampak buruk, serta tips untuk mengatasi perilaku people pleaser. Ingat, membahagiakan ata membuat orang lain senang memang hal yang baik, tetapi jangan sampai melupakan dan mengabaikan diri sendiri. Cintailah diri sendiri juga.

Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:

Artikel dari Penulis