Eksistensi Tradisi Slametan

Eksistensi Tradisi Slametan

Tradisi slametan merupakan salah satu tradisi yang tetap eksis di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Islam Jawa. Masyarakat Jawa meyakini tradisi slametan sebagai salah satu upacara keagamaan yang dilakukan secara sakral dan sering dihubungkan ke dalam hal-hal yang bersifat mistik. 

Masyarakat Islam Jawa merupakan masyarakat yang dalam kesehariannya menganut kepercayaan agama Islam serta dalam melakukan interaksi menggunakan bahasa Jawa secara bervariasi, seperti Bahasa Jawa Kromo Ngoko, Kromo Madya, dan Kromo Inggil. Penggunaan tingkatan bahasa tersebut disesuaikan dengan siapa yang diajak bicara serta kapan waktu pembicaraan tersebut terjadi (sesuai konteks pemakainya). 

Kembali ke topik pembahasan yakni tradisi slametan. Tradisi ini tentunya memiliki beraneka macam penamaan serta ciri khas masing-masing. Hal ini terbukti dengan banyaknya istilah yang masuk dalam kategori tradisi slametan, seperti tahlilan, yasinan, kondangan, walimahan, dan lain sebagainya. 

Umumnya, tradisi slametan ini dilakukan pada waktu memperingati kelahiran anak, acara pernikahan, dan acara kematian. Hal ini disesuaikan dengan hajat orang yang menyelenggarakannya. 

Seperti masyarakat yang ada di Desa Sambirejo, Kabupaten Madiun, misalnya. Masyarakat setempat menyebut tradisi slametan dengan sebutan yasinan ketika memperingati hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, atau keseratus setelah meninggalnya seseorang.

Baca juga: Mengulik Tradisi Pelarungan Ari-ari di Kota Surabaya

Selain itu, tradisi ini dilakukan untuk berbagai hal yang berhubungan dengan hal yang lain. Seperti ketika mendirikan bangunan baru, melahirkan anak, membeli kendaraan baru, hendak melakukan perjalanan jauh, dan lain-lain. 

Tradisi yasinan, tradisi yang identik dengan ritual keagamaan di Desa Sambirejo, memiliki makna sosiologis. Makna sosiologis yang dimaksud adalah tradisi yasinan sebagai acara keagamaan yang di dalamnya terdapat perkumpulan atau pertemuan antara warga satu dengan warga yang lainnya. Di Desa Sambirejo, apabila salah seorang warga tidak mengikuti tradisi yasinan tanpa izin tidak hadir (dengan alasan yang tepat dan masuk akal) akan mendapatkan sanksi atau celaan dari masyarakat sekitar. Hal ini karena tradisi yasinan merupakan salah satu dari beberapa kegiatan yang ada di Desa Sambirejo sebagai wadah kebersamaan (pemersatu masyarakat). 

Kegiatan yasinan ini dilakukan sebagai pemenuhan kebutuhan ritual keagamaan. Biasanya, kegiatan yasinan dilakukan setiap satu Minggu sekali, tepatnya di hari Kamis (malam Jumat). Runtutan kegiatan slametan—seperti megengan, pitonan, khitanan, tahlilan—kerap disebut  sebagai yasinan. Hal ini membuat istilah yasinan diartikan sebagai keseluruhan kegiatan yang berupa slametan

Kapan munculnya tradisi slametan di Jawa? 

Berdasarkan aspek historis, tradisi slametan pada mulanya muncul bersamaan dengan awal kedatangannya Islam di Jawa. Dengan demikian, tradisi slametan merupakan bentuk akulturasi antara agama pribumi atau setempat (masyarakat Jawa sebelum kedatangan agama Islam) dengan agama Islam. 

Sebetulnya, apa fungsi dari diadakannya slametan?

Secara garis besar, slametan berfungsi sebagai salah satu media mengirim doa untuk seseorang yang telah meninggal dunia. Selain itu, slametan menjadi media dalam penyebaran agama Islam. Sasaran dalam tradisi ini tidak hanya ditujukan bagi orang yang telah meninggal saja, melainkan ditujukan juga kepada orang yang masih hidup. Tradisi slametan juga memiliki nilai-nilai kebaikan atau positif. Hal ini ditunjukan adanya pemberian makanan dan minuman kepada orang yang telah datang dalam tradisi slametan ini. Nilai yang dimaksud adalah adanya unsur sedekah, adanya pembacaan ayat Al-Qur’an, dan sebagai syiar agama Islam.

Baca juga: Perihal Islam Nusantara, Ormas Biru Jelas Lebih Nusantara Dilihat dari Literatur Kadernya

Apa saja kegiatan yang dilakukan pada tradisi slametan?

Tradisi slametan mengandung berbagai rangkaian pembacaan doa atau lebih tepatnya dikenal dengan sebutan tahlil. Tahlil merupakan kegiatan ritual yang di dalamnya terdapat pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, selawat nabi, dan beberapa doa yang dilagukan serta disertai dengan gerakan yang terencana dan spontanitas secara bersamaan. Secara umum, tahlil merupakan salah satu kegiatan atau sarana pengingat Allah Swt. Maka, adanya pembacaan tahlil diharapkan keimanan masyarakat akan semakin bertambah (lebih mendekatkan diri kepada Allah). Slametan memberikan dampak positif bagi masyarakat, baik secara sadar maupun secara tidak sadar. Dari sisi kebatinan, tahlilan dinilai mampu menjadi salah satu cara seseorang dalam mendekatkan diri kepada penciptanya (Allah Swt)) karena di dalam tahlilan ini seseorang melakukan kegiatan dzikir (mengingat Allah Swt). Selain itu, dengan adanya tradisi slametan yang dilakukan setiap satu Minggu sekali, membuat seseorang bersedia meluangkan waktunya untuk beribadah serta menyambung tali silaturahmi.

Editor: Widya Kartikasari
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang memiliki cita-cita di luar kendali.

Artikel dari Penulis