E-Sport Itu Olahraga? Kok Bisa Masuk Cabang Olahraga?

E-Sport Itu Olahraga?

E-Sport Itu Olahraga? Kok Bisa Masuk Cabang Olahraga? – E-sport (electronic sport) atau jika diartikan ke bahasa Indonesia adalah olahraga elektronik, banyak digemari oleh anak muda zaman sekarang. Entah karena memang menghasilkan cuan ataupun sekadar sebagai hiburan. Namun, ada yang saya bingungkan terkait e-sport ini. E-sport sudah diresmikan menjadi cabang olahraga dan sudah dilombakan di berbagai event olahraga entah nasional maupun internasional. Kalau sepengetahuan saya, olahraga merupakan kegiatan manusia yang berguna untuk menjaga kondisi tubuh supaya tetap bugar dan sehat. Nah, kalau untuk e-sport ini memang sisi kebugarannya apa sih? terus sisi kesehatannya apa? saya bukan bermaksud menghina para gamers di seluruh Indonesia tapi hanya ingin tau mengapa itu kok dimasukkan ke dalam cabang olahraga.

Kalau e-sport untuk hiburan dan untuk cari cuan sih oke-oke saja. Memang kenyataannya bisa menghasilkan cuan bahkan bisa sampai jutaan rupiah. Dan kalau dijadikan hiburan, saya juga sepakat. Terkadang bagi sebagian orang saat mood-nya jelek kemudian main game, bisa mengembalikan mood-nya. Tapi kalau main e-sport untuk olahraga kayaknya belum ada deh. Entah saya yang memang kurang update dan ketinggalan zaman atau gimana ya?. Setahu saya banyak kasus gangguan mental dan kerusakan mata akibat main game. Maksud saya dengan diresmikannya e-sport masuk cabang olahraga apa itu tak melenceng dari definisi “olahraga”.

Menurut Kominfo mengapa e-sport dimasukkan ke dalam cabang olahraga karena memiliki tiga unsur, yaitu kompetitif, sportifitas dan prestasi. Tapi apakah Kominfo lupa kalau di olahraga juga ada yang namanya unsur kesehatan?. Menurut KBBI Daring, olahraga merupakan sebuah aktivitas yang memadukan fisik dan ketrampilan individu maupun tim, yang dilakukan untuk menyehatkan tubuh dan sebagai hiburan. Dari definisi tersebut kita bisa melihat bahwa ada segi kesehatannya. Okelah memang zaman sudah berubah, kita perlu menyesuaikan. Dan zaman sekarang adalah zaman digital. Semua aktivitas beralih ke media yang berbasis digital. Hal demikian dilakukan untuk mempermudah dan menjangkau akses manusia. Tapi tak semua harus di-digital-kan. Contohnya seperti olahraga, dengan diresmikannya e-sport menjadi cabang olahraga itu bisa merubah pola pikir manusia bahwa kita tak harus lari-larian untuk mengeluarkan keringat. Tak harus capek push-up untuk memperkuat otot-otot tangan. 

Ada yang bilang e-sport bisa menambah kecerdasan otak, itu saya sedikit setuju tapi banyak nggak setujunya. Karena kecerdasan tidak bisa diukur hanya dengan menjadi juara game saja. Kalau mengaca pada realita, banyak anak muda zaman sekarang lebih hafal nama hero di dalam e-sport ketimbang nama pahlawan nasional. Anak muda zaman sekarang lebih tidak percaya diri dengan budayanya dan lebih memilih e-sport sebagai doktrin budaya baru. Ada sanggahan bahwa sekarang banyak game yang sudah dimasuki nilai-nilai budaya, seperti hero Gatotkaca di salah satu game online terkenal, kemudian juga banyak permainan nusantara anak-anak zaman dulu yang dijadikan game berbasis visual.Okelah tujuannya memang bagus untuk mengenalkan itu semua kepada anak muda. Tapi realitanya banyak anak muda yang justru mengabaikan sisi edukasinya.

Terakhir, menurut saya tidak semua harus dijadikan digital. Olahraga ya tetap harus dilakukan secara fisik, bukan visual. Kecerdasan ya perlu dilatih melalui aktivitas nyata juga, tidak melulu visual. Sekali lagi, ini bukan saya merendahkan para pro player di manapun kalian berada, saya justru senang kok ketika melihat game-game sudah maju, sudah bisa menghasilkan uang, dan para gamers tidak dimarahi orang tuanya gara-gara ngabisin uang terus untuk main game.

Bukan seorang kutu buku yang pandai beretorika seperti kawan-kawan lain. Bukan juga aktivis yang gemar demo sana-sini. Hanya seorang yang tidak penting dan memiliki banyak keresahan dalam hidup. Seorang yang ingin mengalihkan keresahan tersebut menjadi sebuah karya yang ciamik. Fans Leo Messi sejak belum punya KTP yang katanya elektronik.

Artikel dari Penulis