Sesajen untuk Sang Mahaguru di Akhir Perjalanan

Sesajen untuk Sang Mahaguru

Sesajen untuk Sang Mahaguru di Akhir Perjalanan – Air suci telah dihidangkan, hasil bumi telah disuguhkan, dan hasil olahan disiapkan sebagai bingkisan. Bukan hal wajib, namun katanya ihwal adat seorang murid. Saatnya menguji persiapan yang telah dilakukan, entah itu tulisan, pikiran, alasan, gagasan, pun pastinya disertai sumber acuan. Tak lupa percobaan peragaan guna antisipasi setiap keadaan. Begitulah kiranya fafifu si murid saat ujian hendak dilaksanakan.

Apakah ini digolongkan layaknya suap? Ah, kiranya tak mungkin kalau hanya sekadar ayam panggang dengan lalap. Anggap saja sebagai penghormatan untuk beberapa mulut yang berkecap. Ya, meskipun komentar atau pertanyaan kerap tak sedap, wajar saja. Namanya juga ujian, ya harus dijawab dengan sigap.

Tak terjadi di setiap perguruan, namun tak bisa dibilang hanya sekelumit. Bahkan tak heran jika ada yang request hidangan, ini adalah privilege bagi penguji skripsi(t). Kebiasaan makan hidangan di restoran, mungkin minimal minta yang bergaya pakai sumpit. Ada pula yang tak boleh pakai kue merek sembarangan, mungkin terasa tak nikmat saat digigit.

Baca juga: Fenomena Mahasiswa Data dan Aktivis Data yang Muncul Belakangan Ini

Sekali lagi ini bukan bentuk kejahatan, justru bentuk penghormatan dari murid terhadap guru. Jika kurang tahu adat ini dimulai sejak kapan, mana bisa merubahnya sebagai pendatang baru. Mahaguru telah lama bersemayam di perguruan, si murid baru datang barang empat tahun lalu. Ikuti saja hukum adat yang biasa dilakukan, jangan sok buat inovasi baru. Bisa-bisa dibilang tak sopan, berakhir lulus dengan tambahan waktu.

Ini memang tak terlalu memberatkan, apalagi untuk pemilik dompet berisi. Namun, tak bisakah ini ditiadakan? Berapa lah harga sekotak nasi untuk sang mahaguru. Tak perlu kita membahas perihal bayaran, sepertinya tak sama di setiap institusi. Tetapi, bukankah memang sudah merupakan kewajiban? Tugas Anda kan menjadi penguji skripsi.

Satu dua dari sekumpulan orang pasti ada yang menolak. Meskipun sepertinya jumlahnya kalah telak. Kebanyakan hanya kelihatan bergaya tak meminta. Tetapi, apa gunanya kalau tak tegas katakan ingin bersih di atas meja. Tolonglah, jangan hanya bergaya tak ada kaitannya. Setidaknya usul aturan kan bisa.

Baca juga: 9 Ide Hadiah Kenang-Kenangan untuk Dosen Pembimbing

Tak perlu wajib meniadakan semua hidangan. Kami paham menguji butuh pembasah tenggorokan. Sebuah kenormalan untuk air suci disediakan. Toh, beli di kantin sebelah sama sekali tak menyusahkan. Jelas berbeda jika dibandingkan hasil alam dan hasil olahan. Pikiran jadi tak fokus hanya pada ihwal ujian. Menu olahan dan tempat penyimpanan pasti bertamu ke pikiran. Eh, ada lagi. Waktu pemesanan dan pembelian.

Masalah ini memang harusnya sudah ranahnya pembuat aturan. Hendaknya dibuatlah dari tingkat perguruan sampai jurusan. Tanpa ada aturan yang menahan, mana mungkin ada perubahan. Celoteh-celoteh para murid hanya akan menjadi kabar sekelebatan. Apalah arti suara-suara mereka ini. Paling hanya dianggap suara hiburan.

Tulisan ini pun tak mungkin ada mahaguru yang membaca. Maka dari itu, saya tak berharap mereka mau berkaca. Harap saya pada Anda, para calon mahaguru muda, tolonglah menjadi pembeda. Sesajen-sesajen sudah waktunya dilebur masa. Gantikanlah dengan hanya urusan uji-menguji saja. Percayalah, itu tak akan menurunkan kehormatan Anda.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Salman Al Farisi

Pentjari retjehan onlen, pengangguran yang berusaha kaya, jelas wibu sejati. Pernah kuliah juga sih, 4 tahun.

Artikel dari Penulis