Habib Luthfi bin Yahya dan Dakwah Kebangsaan

Habib Luthfi bin Yahya

Habib Luthfi bin Yahya dan Dakwah Kebangsaan

Sebagaimana yang kita tahu, kemerdekaan Indonesia adalah hasil dari usaha keras dan perjuangan yang berlangsung sangat lama. Namun upaya untuk mempertahankan kemerdekaan itu bukanlah sesuatu yang mudah. Tantangan yang dihadapi jelas lebih berat dan datang dari segala segi kehidupan. Radikalisme dan fundamentalisme adalah salah satu hal yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam merespon ini, banyak tokoh-tokoh dan para ulama kemudian lantas berusaha menjaga bangsa dari bahaya perusak seperti itu. Salah satunya adalah Habib Luthfi bin Yahya, seorang ulama yang sangat kuat menyeru terkait nasionalisme di banyak tempat.

Bagi Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, rasa kecintaan terhadap bangsa dan negara atau nasionalisme itu bukanlah perilaku ashabiyyah (fanatisme sempit yang berlebih-lebihan). Namun adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Rasa syukur itu adalah karena sudah terlahir sebagai bangsa Indonesia. Sebuah bangsa yang memiliki keragaman yang harus dijaga.

Rasa syukur ini akan membentuk perasaan cinta. Yang mana, perasaan ini akan menjadi motivasi kuat dalam membangun bangsa. Tentang ini, beliau mengutip sebuah hadis, “Cintailah orang Arab karena tiga alasan: karena saya orang Arab, Al-Qur’an berbicara bahasa Arab, dan bahasa penghuni surga adalah bahasa Arab”. 

Baca juga: Syekh Siti Jenar dan Ide Sebuah Masyarakat

Bagi Habib Luthfi, hadits ini adalah contoh Nabi Muhammad SAW dalam hal nasionalisme. Nabi mencintai bangsa Arab sebagai bangsanya. Lebih lanjut, Habib Luthfi mengatakan bahwa jika kita mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW, maka kita harus mencontoh beliau dengan mencintai Indonesia itu sendiri.

Tanpa rasa cinta semacam ini, malahan kita bisa cuek terhadap kondisi bangsa Indonesia itu sendiri. Adapun untuk membangun rasa cinta ini bisa dengan mengetahui sejarah bangsa kita terlebih dahulu. Habib Luthfi menjelaskan bahwa tanpa hal itu, maka akan menjadi generasi yang tidak memiliki jati diri bangsa dan tidak memiliki kebanggaan terhadap negara.

Nasionalisme dalam pemikiran dan hati seorang Habib Luthfi tidak dapat terlepas dari sosoknya yang sangat mencintai sejarah. Habib Luthfi bin Yahya sendiri mulai belajar sejarah sejak tahun 1960. Sampai-sampai beliau dalam sebuah kesempatan pernah mengatakan, “Sejak tahun 1960, saya mulai jarang tidur malam untuk membaca dan mempelajari buku-buku sejarah, manuskrip, bahkan sampai mempelajari batu nisan makam auliya”.

Dalam sebuah kesempatan yang lain, beliau pernah juga menceritakan tentang Syaikh Muhammad Abdul Malik atau yang sering dipanggil Mbah Malik. Sosok Mbah Malik pernah ikut dalam perjuangan melawan penjajah dengan gigih. Beliau juga adalah putra pejuang serta keturunan Pangeran Diponegoro. Dan yang paling unik adalah, setiap tanggal 17 Agustus pukul 10.00, Mbah Malik selalu mengirim surah al-Fatihah dan berdoa untuk mereka yang terlah gugur.

Pengutipan fakta sejarah semacam ini merupakan cara Habib Luthfi dalam mengajak masyarakat untuk terus menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air. Dengan sejarah, diharapkan individu mampu mengetahui jati diri bangsanya sendiri agar tumbuh rasa kebanggaan karena telah menjadi bangsa Indonesia.

Habib Luthfi juga menyampaikan bahwa dengan adanya rasa bangga dan rasa memiliki terhadap bangsa ini merupakan awal dan bekal utama munculnya rasa cinta tanah air. Ketika rasa cinta tanah air sudah tumbuh dan kuat, maka yang terlihat adalah keindahan dan pengabaian.

Jadi, nasionalisme penting selain untuk mempertahankan perjuangan pahlawan yang berdarah-darah, juga sebagai motivasi dalam membangun bangsa. Upaya ini berarti tidak hanya membangun bangsa dengan persepektif yang sempit, seperti hanya fokus dengan golongannya saja.

Namun kata bangsa Indonesia disini adalah semua penduduknya, dari manapun daerahnya, sukunya, ras maupun agamanya apa. Semua adalah Indonesia yang mana kita wajib peduli satu sama lain. Dan kepeduliaan ini diikat oleh rasa cinta tanah air, yang juga sekaligus sebagai ibadah kita kepada Tuhan.

Kurangnya rasa cinta tanah air adalah awal dari kerusakan yang lebih besar. Apalagi akhir-akhir ini berkembang ideologi-ideologi yang secara perlahan-lahan akan menghilangkan nasionalisme bahkan sampai yang menganggap bahwa nasionalisme itu tidak sesuai dengan keinginan Tuhan.

Baca juga: Biografi K.H. Muhammad Idrus Ramli: Tokoh Nasional Bangsa dan Singa Aswaja

Termasuk dalam masyarakat Islam yang disusupi ideologi semacam itu. Malahan, Indonesia bagi kaum mereka dianggap kurang representatif menampilkan nilai-nilai keagamaan sehingga harus diganti ideologi dari negara ini.

Ideologi-ideologi tersebut terkadang menyusup dengan halus bahkan frontal. Yang menyusup secara halus inilah yang menjadi masalah. Seakan-akan ingin memperbaiki Indonesia, yang ada malah menimbulkan potensi konflik yang tinggi. Sebab, ideologi semacam itu mengklaim dirinya untuk semua orang, padahal hanya mewadahi kebutuhan satu golongan saja. 

Hal yang lebih berbahaya lagi adalah, ideologi semacam ini juga mengklaim dirinya berasal dari teks suci agama sehingga memiliki justifikasi yang kuat. Sebuah ideologi yang berbahaya untuk kesatuan Indonesia yang mana terdiri dari kemajemukan.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Masih bercita-cita menjadi manusia. Pernah hijrah tapi sekarang putar balik. Seorang wibu radikal yang nyamar menjadi akademisi.

Artikel dari Penulis