Jaran Ebeg Kesenian yang Biasa Dipentaskan ketika Ada Sunatan di Desa Saya

Jaran Ebeg Kesenian

Jaran Ebeg Kesenian yang Biasa Dipentaskan ketika Ada Sunatan di Desa Saya – Setiap kali ada hajat sunatan di desa saya, kurang greget rasanya jika yang punya hajat tidak mengundang kesenian jaran ebeg untuk pentas. Sekilas kesenian ini hampir mirip dengan kuda lumping. Namun, yang membedakannya adalah kalau kuda lumping kuda tiruannya itu ditunggangi, sementara jaran ebeg kuda tiruannya dijepit di ketiak.

Hanya terdapat satu kelompok kesenian jaran ebeg di desa saya. Desa tetangga yang bahkan satu kecamatan dengan desa saya tidak punya. Mungkin di kabupaten tempat saya tinggal hanya desa saya yang punya kesenian ini. 

Kostum yang dipakai pemain jaran ebeg tidak seragam, kostum yang dipakai oleh mereka hanya menggunakan pakaian biasa, yang digunakan untuk sehari-hari. 

Mereka yang menjadi pemain jaran ebeg tidak menari tetapi berlari-lari, karena dimasukkan setan oleh pawang jaran ebeg. Masuknya setan ke pemain jaran ebeg oleh pawang itu disebut dengan nama dijantur. Tempat yang biasa digunakan untuk menjantur adalah jalan raya, pertigaan desa, dan terkadang di pasar desa. Tempat-tempat tersebut konon katanya banyak dihuni setan.

Pengantin sunat diarak keliling desa, jadi semacam karnaval. Barisan paling depan terdiri dari pemain jaran ebeg. Dibelakangnya ada “aul” yaitu orang yang menggunakan topeng dan pakaian seram, tujuannya agar jaran ebeg tidak menyerang ke rombongan yang ada di belakang. Pengantin sunat sendiri di belakang “aul” menggunakan kuda dan di belakang pengantin sunat ada grup drumband.

Anak-anak dan remaja yang punya nyali akan berada di depan jaran ebeg dengan menggunakan baju berwarna merah. Ketika telah dijantur, maka jaran ebeg ini akan mengejar yang ada di depannya.

Bagi para penakut yang tidak berani memakai baju merah dan berdiri di depan jaran ebeg. Mereka hanya akan melihat dari sepanjang emperan rumah yang ada di pinggir jalan. Kalau jaran ebeg mendekat ke emperan, mereka akan segera lari masuk ke dalam rumah, meskipun itu bukan rumahnya. Intinya mereka numpang sembunyi di rumah orang.

Saya sendiri sih termasuk yang berani berdiri di depan jaran ebeg. Saat hampir kena jaran ebeg maka saya akan minggir. Kalau masih mengejar saya, maka saya pun akan berlari menuju emperan rumah orang. Lucunya, mereka yang berada di emperan akan panik lalu masuk ke dalam rumah. Saya pun ikutan untuk masuk juga. Hehehe, namanya juga panik.

Menurut cerita orang-orang, kalau kita terkena sabetan jaran ebeg maka akan kesurupan. Selain jaran ebeg juga ada satu pemain yang menjadi janturan ketek. Keduanya paket komplit, di mana ada jaran ebeg di situ ada janturan ketek. Atraksi yang ditampilkan adalah memakan bunga, pecahan kaca dan minum kelapa utuh.

Untuk mengembalikan kesadaran pemain jaran ebeg, pawang dibantu beberapa orang akan merebut kuda tiruan. Beberapa orang akan memegangi pemain jaran ebeg, sementara pawang jaran ebeg akan berusaha untuk membuka tangan sang pemain yang menggenggam kuda tiruannya. Hal itu bertujuan agar setan yang merasuki pemain jaran ebeg itu bisa keluar. 

Durasi penampilan dari jaran ebeg itu sekitar dua setengah jam, biasanya dari jam dua siang sampai jam setengah empat sore. 

Menurut penuturan beberapa orang dari mulut ke mulut. Katanya, pawang jaran ebeg beberapa hari sebelum acara akan bertapa terlebih dahulu di sebuah kuburan. Selain itu juga melakukan ritual puasa. 

Saking antusiasnya melihat jaran ebeg, anak-anak sampai pada membolos sekolah sore atau madrasah diniyah. Dalam satu kelas paling yang berangkat sekolah sore hanya satu atau dua anak saja. Akhirnya ya otomatis, sekolahnya diliburkan. Sehingga menjadi semacam aturan tidak tertulis, bahwa jika ada jaran ebeg maka sekolah sore diliburkan.

Meskipun harus berlari untuk menghindari kejaran jaran ebeg, ditambah harus berpanas-panasan juga.  Hal tersebut tidak menyurutkan antusiasme masyarakat untuk melihat kesenian jaran ebeg.

Penulis Lepas & Imam Besar Republik Mahasiswa Rebahan.

Artikel dari Penulis