Tiga Hal yang Bisa Didapatkan Saat Berteman dengan Kucing

Tiga Hal yang Bisa Didapatkan Saat Berteman dengan Kucing

Tiga Hal yang Bisa Didapatkan Saat Berteman dengan Kucing – Jika saya ditanya hewan apa paling menggemaskan yang pernah diciptakan Tuhan? (selain doi) Jawabannya adalah si hewan “gemoy” yang berbulu dan berkumis; kucing. Selain karena badannya yang penuh dengan bulu (kecuali kucing sphynx sih, ya) dan suara ngeongannya yang merdu, bagi saya segala hal yang dilakukan oleh kucing (meskipun memecahkan barang pecah belah atau buang air sembarangan) sangatlah menggemaskan.

Pernah pergelangan tangan kanan saya dicakar dan digigit oleh kucing yang sepertinya liar, hingga harus dilarikan naik ojek online ke IGD untuk disuntik tetanus. Kok suntik tetanus, bukannya suntik rabies? Iya, soalnya yang dicover sama BPJS cuma suntik tetanus, sedangkan suntik rabies harus disuntik beberapa kali dengan biaya kurang lebih satu juta percoblosan.

Ya gimana ya, mahasiswa nrimo ing pandum seperti saya ini mau makan geprek antara harga 9 ribu plus minum tapi kurang berasa atau 12 ribu belum sama minum tapi enak, masih memilih yang 9 ribu.

Walaupun efeknya tangan saya jadi terasa kaku karena bengkak dan ngilu setengah mati, tapi saya enggak kapok dan tetap menganggap bahwa kucing adalah hewan “termenggemaskan” sejagad raya bagaimanapun kelakuannya.

Di rumah saya ada dua kucing domestik yang sudah merajai rumah selama kurang lebih 1-3 tahun. Dua-duanya adalah kucing oren biasa. Mereka adalah kucing liar yang tiba-tiba datang ke rumah lalu mengambil alih roda kehidupan di rumah saya.

Yang satu saya kasih nama Jemuran, usianya sudah tua. Satunya lagi dikasih nama oleh bapak saya dengan nama Kucrit, yang diperkirakan usianya jauh lebih muda dari si Jemuran.

Hobi si Jemuran dan Kucrit itu sama, yakni sama-sama suka ngebolang dan akan pulang ke rumah ketika ngantuk ataupun sudah memasuki jadwal makan. Menggemaskan bukan?

Ada banyak hal yang saya dapatkan sebagai orang yang berteman dengan kucing.

Pertama, berteman dengan kucing mengingatkan saya untuk menjadi pendengar yang baik. Beberapa kali saat saya sedang dilanda kegelisahan hidup dan sedang ingin menangis, salah satu dari kedua makhluk menggemaskan itu akan “saya paksa” untuk menemani saya menangis atau mendengarkan keluh kesah saya.

Si Kucrit atau si Jemuran akan berbaring dan duduk terdiam sambil menyipitkan mata menatap saya yang sedang ngoceh terus tanpa henti. Mereka enggak pernah menginterupsi ocehan saya namun pernah sesekali hanya menatap kosong ke arah saya.

Kadang, saat saya berhenti berbicara untuk mengambil nafas, si Kucrit atau si Jemuran akan melenggang mencari posisi sambil mengeong pelan, yang saya artikan secara positif bahwa mereka sedang memberi saya afirmasi positif meskipun setelah mengeong mereka malah ngelungker tidur. Menggemaskan sekali!

Kedua, dalam kondisi “jomblo”, saya bisa menghabiskan waktu untuk menonton drakor (drama Korea) atau streaming film bareng dengan Yang Mulia kucing-kucing oren di rumah saya (asalkan mereka tidak ada jadwal kencan dengan kekasih atau jadwal ngebolang) atau sekadar menonton kucing saya tidur.

Tentu saja syarat agar mereka anteng dan betah menemani saya tidak lain dan tidak bukan adalah dengan memberikan mereka snack creamy treats. Meskipun harus merelakan isi kantong yang harusnya bisa dibuat beli sebotol minuman soda dan beberapa snack, saya tetap merasa bahagia karena menyadari bahwa saya tidak streaming film dan chill sendirian. They always by my side~

Ketiga, meningkatkan mood. Tidak bisa dipungkiri bahwa meskipun saya banyak mengalami peristiwa kekerasan oleh kucing seperti dicakar, dipukul pakai “pawnya”, disabet dengan ekornya, atau bahkan digigit, tingkat kebahagiaan saya saat bersama dengan kucing tidak kalah tingginya dengan tingkat kebahagiaan saya saat berinteraksi dengan manusia.

Bahkan hanya dengan mengelus bulu kucing saja, saya merasa nyaman dan tentram. Sungguh aneh, seperti ada sihir tertentu di tiap bulu-bulu mereka. Apalagi ketika saya menggendong atau memeluk mereka di saat kucing saya habis saya mandikan. Perpaduan antara wangi, lembut, dan empuk sungguh sangat meningkatkan kebahagiaan saya. Kucing is numero uno di hati saya.

Tentunya, perasaan khawatir dan takut ditinggal oleh mereka selalu membayangi saya. Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan saya lakukan tanpa sumber kebahagiaan saya. Tapi yang bisa saya lakukan saat ini hanyalah merawat mereka sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan yang saya punya. Yah, sambil enggak lupa berdoa dan berusaha agar punya rezeki nomplok untuk merawat mereka dengan lebih layak.

Perempuan asli Jogja yang nrimo ing pandum tapi yo nggak nrimo-nrimo banget. Kondisional, lah.

Artikel dari Penulis