Konten Aksi Kebaikan di TikTok, Pansoskah?

Konten Aksi Kebaikan di Tiktok, Pansos

Konten Aksi Kebaikan di TikTok, Pansoskah? – TikTok merupakan aplikasi media sosial yang paling digandrungi saat ini oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia. Peningkatan pengguna aplikasi ini juga beriringan dengan munculnya para pembuat konten video atau kreator konten atau lebih sederhananya Tiktokers. Motivasi dari para kreator konten ini sangatlah beragam. Mulai dari hanya menyalurkan hobi, memamerkan suatu kebolehan, meningkatkan popularitas, hingga ingin mendapatkan pundi-pundi rupiah lewat hasil membuat konten video. 

Apapun motivasi dari para kreator konten ini tentunya sah-sah saja, selama konten yang dipertontonkan bukanlah hal-hal yang bersifat negatif, baik dari konten video itu sendiri maupun tujuan sang kreator membuatnya. 

Keberagaman latar belakang dari para kreator konten juga sangat memengaruhi konsep konten yang mereka sajikan. Mulai dari latar belakang agama, profesi, nilai budaya yang dianut, usia, kemampuan tertentu, hingga status sosial sang kreator juga dapat memengaruhi konsep konten video yang dibuat. Maka tidak mengherankan lagi saat kita membuka aplikasi TikTok, halaman beranda akan dipenuhi oleh berbagai macam jenis konten, bahkan jenis konten apa pun itu sudah tersedia di laman TikTok.

Konten TikTok Semakin Kompleks

Konten yang disajikan sangatlah beragam dan terbilang lengkap, mulai dari konten hiburan, edukasi, keagamaan, informasi, motivasi, dan sebagainya. Semakin kompleksnya konsep konten yang disajikan, tentunya mempersempit pula terciptanya ide-ide konten yang lebih baru sehingga popularitas yang harus dipertahankan menjadi tantangan tersendiri. Untuk mesiasati hal tersebut, sudah banyak dari para kreator konten yang memilih konsisten membuat konten dengan satu konsep video saja. Di samping itu, ia menciptakan brand image yang ada pada dirinya sebagai suatu identitas yang membedakan dan menonjolkan dirinya dibandingkan kreator konten lainnya. 

Munculnya Konten Pansos

Namun, tidak sedikit pula kreator konten yang dengan sengaja memanfaatkan orang lain, barang, maupun suatu kejadian untuk mendapat keuntungan dalam artian yang negatif. Hal ini biasa dikenal dengan istilah pansos oleh masyarakat sekarang. Secara sederhana, pansos  memiliki makna melakukan pencitraan. Tidak sedikit kreator konten menjadikan hal ini sebagai ide konten untuk mendongkrak popularitas dirinya.

Konsep konten yang sering dibuat oleh para kreator konten ‘pansos’ yang marak saat ini berbentuk aksi kebaikan kepada orang sekitar. Sayangnya, ini hanya bertujuan untuk keperluan konten saja. Masyarakat yang di dalam kehidupan sehari-harinya sangat jarang menjumpai kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang, tentunya akan luluh dengan konsep konten seperti ini. Konten semacam ini akan memunculkan rasa simpati para penonton, kemudian muncul rasa support kepada sang kreator yang ditunjukkan melalui like dan follow oleh para viewers.

Tentunya ini akan menjadi hal yang sangat abstrak dalam menilai apakah seorang kreator konten benar-benar melakukan pansos atau tidak. Terlebih tujuan dibuatnya konten tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti oleh kita, kecuali memang ada bukti yang menguatkan bahwa sang kreator memang sengaja melakukan pansos tersebut. Semakin berkembangnya konten-konten serupa sejatinya menjadi pemicu rasionalitas para pengguna aplikasi untuk memilah kembali konten yang mereka sukai, sebab konten yang muncul di beranda atau fyp (for your page) tidak akan terlepas dari konten seperti apa yang sering di-like oleh pengguna. 

Apakah Konten Kebaikan Itu Selalu Pansos?

Seiring berjalannya waktu, muncul satu konten yang sebenarnya secara konsep hampir sama, yaitu melakukan aksi kebaikan, tetapi bentuk kebaikan yang dilakukan dapat dipastikan kebenarannya. Bagi para pengguna TikTok, hal ini tentu sangat familiar dengan konten Pahlawan Sampah, di mana terdapat segerombolan anak muda yang membersihkan tumpukan-tumpukan sampah di tempat-tempat tertentu.  

Alih-alih mendapat cibiran, aksi mempertontonkan kebaikan lewat konten ini disambut dengan dukungan para netizen. Aksi kebaikan ini tidak lagi bersifat abstrak dan dapat dipastikan kebenarannya. Hal ini dapat diukur dengan effort yang luar biasa dalam melakukan aksi tersebut. Sangat kecil kemungkinan aksi yang membutuhkan effort yang sangat besar ini ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan sepele. Terlebih objek aksi kebaikan ini bukan ditujukan kepada personal orang, tetapi lebih kepada lingkungan alam. Pandangan kita dalam menilai aksi-aksi seperti ini tentunya akan berbeda dibandingkan dengan aksi kebaikan kepada personal orang tertentu, terlebih menyangkut hal-hal materi. 

Selain itu, penyajian video yang tidak main-main mulai dari kualitas gambar hingga editing yang berkelas menambah kesan mahal di dalam proses pembuatan videonya. Hobi berkonten yang dipadukan dengan ide mengabdi kepada masyarakat tersalurkan dengan sangat baik. Lebih dari itu, banyaknya masyarakat yang meniru dan termotivasi dengan aksi membersihkan lingkungan lewat konten ini memberikan tambahan nilai plus tersendiri untuk konten yang satu ini. Setidaknya, hal ini sedikit menggeser stigma di kalangan netizen, di mana konten viral yang ditiru hanya konten-konten yang kurang berfaedah.

Menilai Pansos atau Tidaknya Suatu Konten Aksi Kebaikan

Melihat dari hal-hal di atas, muncul pertanyaan bagaimana membedakan konten kebaikan yang pansos dan yang tidak. Dalam hal ini, setidaknya kita dapat menilai dari dua sisi, yaitu seberapa besar effort si kreator dalam melakukan aksi kebaikan tersebut serta adakah usaha dari kreator konten untuk berinovasi di dalam kontennya, terlebih bagi yang alur kontennya memberikan bantuan materi kepada seseorang. 

Semestinya, dengan semakin kompleksnya konten yang ada, ini akan memacu para kreator konten untuk membuat konten yang lebih kreatif dan inovatif sehingga menghasilkan konten yang berkualitas, baik dari penyajian konten maupun strategi pembuatan konten. Bukan sebaliknya, di mana memanfaatkan rasa simpati masyarakat untuk mendongkrak popularitas, terlebih untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Semestinya, para kreator konten memperhatikan lagi hal-hal ini. Bagaimanapun, sang kreator konten memiliki tanggung jawab sepenuhnya terhadap karya yang telah ia buat dan memperhatikan lagi konsekuensi yang ditimbulkan dari konten yang dibuat.

Editor: Widya Kartikasari
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Pemulung Informasi, yang Animo dalam Membagikan Buah Pikirannya. Selalu Ingin Menjadi Orang yang Bermanfaaat Bagi Orang Lain dalam Jalur Koridor yang Lurus.

Artikel dari Penulis