Anak SD Juga Butuh Konseling

Anak SD juga Butuh Bimbingan

Anak SD Juga Butuh Konseling – Akhir-akhir ini aku baru sadar, ternyata aku butuh seorang Guru BK sewaktu Sekolah Dasar (SD). Butuh tempat bercerita tentang pahitnya bangku sekolah untuk pertama kalinya. Butuh seseorang untuk tidak sekadar membimbing akademik namun juga mentalku. Masa peralihan dari TK menuju SD bukanlah hal yang mudah untuk dilewati. Teman-teman yang lebih beragam, mata pelajaran yang dipaksakan dan mengapa sudah tidak ada ayunan ataupun mandi bola?

Kini pikiranku berkelana, mengapa Guru BK rata-rata hanya ada di SMP dan SMA? Padahal jenjang SD adalah pertama kalinya seseorang menyandang peran sebagai siswa. Perlu proses penyesuaian diri seperti layanan orientasi bimbingan dan konseling yang diadakan oleh SMP dan SMA pada setiap awal tahun ajaran baru. Anak SD juga butuh layanan tersebut, setidaknya agar tidak kaget jika nantinya akan ada sederet mata pelajaran dan penilaian akhir semester.

Waktu SD, teman-temanku juga bertambah banyak dengan beragam latar belakang. Aku kira semua temanku sama seperti teman waktu TK, kita berebut mainan, lalu menangis bersama, kemudian tertawa lagi. Tidak berlaku saat SD, salah satu temanku memanggil temanku yang lain dengan nama ayahnya, kadang sebutan-sebutan yang tidak pantas, sehingga membuatnya menangis. Paling-paling guru kelas mengingatkan temanku yang mengolok-olok itu untuk tidak mengulanginya lagi.

Sementara temanku? Dibiarkan dengan perasaan yang bahkan belum mengerti definisi “rasa sakit dan penghinaan”.

Efek bullying yang gagal ditanggani akan menjadi masalah pribadi kedepannya. Seperti halnya aku yang sekarang. Sampai saat ini trauma dengan colekan saus di serbet ataupun di dinding warung makan. Hal itu membuatku teringat pada kerudungku yang penuh dengan colekan saus snack French Fries. Bermula saat aku memakan snack French Fries dan tanpa sengaja sausnya tumpah sedikit di kerudung temanku yang terbilang paling pintar di kelas. Semua teman-temanku tidak terima dan langsung menyerbuku dengan membawa saus yang sama lalu mengolesi seluruh kerudungku dengan saus. Aku hanya pasrah bahkan ketika teman dekatku juga menjauhiku. Padahal untuk membeli snack itu aku harus menabung selama beberapa hari.

Dari kejadian itu, satupun guru tidak ada yang tahu mengapa kerudungku sangat menjijikkan. Ketika Guru Kelas bertanya, tidak ada satupun temanku yang menjawab. Akupun kehilangan kata-kata karena takut jika bersuara, aku semakin diolok-olok nantinya.

Ah ya, katanya Guru BK di SD tidak diperlukan karena sudah ada Guru Kelas. Bukankah Guru Kelas terlalu repot menanggung banyak beban mulai dalam pendampingan, membimbing, mengarahkan, memberikan penilaian, mendisiplinkan siswa belum lagi membuat https://kapito.id/wp-content/uploads/2021/10/A.17_compressed-2-1.jpgistrasi? Akan lebih baik jika di SD ada guru BK yang meringankan tugas serta lebih lihai berperan sebagai konselor anak.

Dengan begitu, aku tidak akan merengek pindah sekolah kepada orang tua dengan alasan sudah lelah di-bully karena ada guru khusus yang ahli menanggani masalah siswa. Toh kalaupun pindah sekolah, aku akan menemui hal semacamnya lagi, karena masih jarang Guru BK di SD.

Sampai dewasa ini pun, aku ingin Guru BK itu hadir di banyak sekolah dasar, agar masa laluku dapat perlahan terobati. Mengingat banyaknya kasus kenakalan serta permasalahan yang serupa denganku yang mungkin lebih parah, mengakibatkan terhambatnya perkembangan, baik dalam akademis, pribadi maupun hubungan sosial. Toh, kalau ada guru bimbingan dan konseling di SD bisa menggali segenap potensi yang dimiliki agar siswa dapat berkembang secara optimal.

Mahasiswa Pascasarjana IAIN Kudus Program Magister Manajemen Pendidikan Islam, yang hobi merajut. Bergiat pula di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus.

Artikel dari Penulis