4 Alasan Anak Muda Lebih Suka Drama Korea daripada Sinetron

Drama korea sinetron

4 Alasan Anak Muda Lebih Suka Drama Korea daripada Sinetron – Enggak bisa dipungkiri kalau drama Korea sudah banyak digandrungi anak muda Indonesia. Hasil riset dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) menunjukkan bahwa 842 dari 924 responden mengaku menonton drama Korea secara intens setiap minggunya. Rata-rata, mereka menonton 3-6 kali lebih dalam seminggu. Akan tetapi, enggak dikit juga anak muda yang justru merasa anti dengan drama Korea karena dianggap norak, pemerannya banyak operasi plastik, pemerannya punya wajah mirip-mirip, enggak sesuai sama budaya Indonesia, dsb. Sehingga, ada beberapa kalangan anak muda yang justru alergi menonton drama Korea karena label negatif ini. 

Berdasarkan rasa penasaran yang secukupnya, saya mencoba-coba memberanikan diri untuk membuktikan, apakah benar tuduhan negatif tentang drama korea benar adanya. Maka dari itu, saya coba beberapa kali menonton serial drama Korea yang direkomendasikan beberapa teman yang sudah sering menontonnya. Dan saya pikir, semua tuduhan negatif tentang drama Korea enggak sepenuhnya benar. Selain itu, saya justru menemukan alasan rasional mengapa anak muda di Indonesia lebih menyukai  drama Korea daripada sinetron televisi Indonesia

  1. Plot Cerita Drama Korea yang Kompleks dan Bikin Penasaran

Drama di Indonesia sering dikenal dengan sebutan sinetron. Dan sinetron di Indonesia cenderung enggak berkembang. Kisah yang disajikan itu-itu saja: perselingkuhan orang dewasa, perceraian, drama cinta dengan hubungan rumit yang diulang-ulang hingga episode beratus-ratus tanpa tujuan jelas, dan berbagai plot-plot cerita membosankan lainnya. 

Fakta tentang sinetron Indonesia yang enggak berkembang ini menjadi salah satu alasan anak muda akhirnya beralih pada drama Korea. Jika kita coba menonton satu drama korea yang populer, seperti drama Korea Descendants of the Sun, dr Stranger, K2, dan While You Were Sleeping, kita akan melihat betapa menariknya plot cerita yang disajikan. Betapa kompleksnya cerita yang ditawarkan di awal. Sehingga, penonton jadi penasaran dan terus nonton sampai tuntas. Setiap akhir episodenya selalu disajikan adegan menarik yang bikin penasaran, menegangkan, dan nagih. Hal ini yang saya pikir kurang dari sinetron Indonesia dan akhirnya mulai ditinggalkan oleh anak mudanya. 

  1. Adegan Romantis Drama Korea Elegan/Nggak Menye-menye

Adegan cinta, romantisme, atau pacaran adalah adegan yang digandrungi anak muda. Dalam drama Korea, penyajian adegan romantis ditampilkan begitu eksotis, ciamik, dan elegan. Proses adu rayu antara pemeran laki-laki dan perempuan terlihat begitu cerdas dan enggak menye-menye. Beda dengan sinetron Indonesia yang cenderung menye-menye yang bahkan adegannya enggak relevan dengan kehidupan sehari-hari anak muda, dan cenderung kaku dan enggak menunjukkan kekerasan dalam kehidupan sehari-hari. 

Sedangkan dalam drama korea, setiap aktor pria dan wanitanya memerankan adegan asmara yang cerdas, menggemaskan, sekaligus elegan. Contohnya bisa dilihat di drama Korea Descendants of the Sun dan While You Were Sleeping. Adegan romantis di drama itu disajikan begitu cerdas, menggemaskan, elegan dan enggak menye-menye. Beberapa hal ini bisa dicontoh bagi para pelaku sinetron TV Indonesia.

  1. Cerita di Drama Korea Enggak Bertele-tele

Kita tau kalo sinetron di Indonesia bergantung pada rating penonton. Semakin tinggi ratingnya, semakin panjang pula episodenya. Dan fakta yang ada, semakin panjang episodenya, semakin enggak jelas alur ceritanya. Saya cukup yakin kalau penonton sinetron Indonesia bukanlah anak muda. Paling enggak, mayoritas pasti bukan anak muda. Bahkan, dugaan saya justru sekalipun rating sebuah sinetron tinggi, saya enggak yakin penontonnya benar-benar menonton. TV hanya dibiarkan menyala saja agar ruang keluarga ramai. Upsss

Hal ini berbeda dengan drama korea yang sejak awal punya alur jelas dan kontrak episode yang jelas juga. Sebatas pengalaman saya, jarang sekali ada drama korea yang lebih dari 20 episode. Jika pun ada, pasti enggak banyak. Sehingga, ceritanya sudah dirancang dengan matang sejak awal sampai akhir. Saat dramanya harus berakhir, maka berakhirlah. Lalu, buat drama baru dengan ide cerita baru. Alhasil, kesan bertele-tele dalam drama korea cenderung enggak pernah ditemukan. Enggak seperti sinetron Indonesia yang rela merusak kualitas cerita demi rating yang nggak jelas asalnya. 

  1. Drama Korea Kebanyakan Bercerita Kehidupan Ideal yang Diharapkan Banyak Anak Muda Indonesia

Sinetron Indonesia banyak bercerita tentang hal-hal yang jauh dari kehidupan anak mudanya. Selain itu, cenderung enggak memberikan informasi berarti buat penonton anak muda. Ceritanya selalu tentang perselingkuhan rumah tangga orang dewasa, hubungan keluarga yang runyam dan dibuat-buat, anak kandung disembunyikan dari ibu kandungnya, ayahku adalah suami ibuku, dan banyak cerita yang murni hanya karangan enggak berkualitas. 

Hal ini jauh bertolak-belakang dengan drama korea yang terkesan menyajikan cerita dengan riset sungguhan. Misalnya, dalam drama Korea Descendants of the Sun  yang berkisah tentang kehidupan tentara dan dokter. Konflik, kerja, dan cerita-cerita yang disajikan memberikan gambaran dan pengetahuan baru pada penontonnya. Pengetahuan baru yang akhirnya membuat penonton terkesan dengan kualitas drama yang memang harus diacungi jempol. 

Dalam drama Korea Doctor Stranger misalnya, yang mengisahkan bagaimana rasisme dan tertekannya dokter pelarian dari Korea Utara di Korea Selatan. Ini memberikan nuansa baru yang akhirnya memberi pengetahuan budaya baru. Dengan kata lain, invasi budaya Korea melalui dramanya cukup ampuh di Indonesia karena sinetron Indonesia sebagai budaya tanding justru enggak bisa menandingi dan kualitasnya yang karbitan. 

Lebih dari itu, drama korea menyajikan kehidupan ideal yang banyak diharapkan anak muda Indonesia, tetapi enggak bisa dilakukan di Indonesia. Misalnya, berangkat kerja berjalan kaki dan menggunakan angkutan umum beramai-ramai dan tertib-damai, suasana pejalan kaki yang asri dan indah, keuletan dalam bekerja dan terbukanya dunia mengembangkan karir, dan berbagai hal ideal tentang Korea disajikan begitu apik yang akhirnya membius anak muda untuk berharap-harap hidup di Korea. Sedangkan, hal demikian sulit ditemukan di sinetron-sinetron TV Indonesia.

Nah, itu dia 4 alasan mengapa anak muda Indonesia lebih suka drama Korea daripada Sinetron TV Indonesia. Apakah drama Korea norak? Saya pikir enggak. Terlepas dari operasi plastik pemerannya, drama korea adalah tontonan yang berkualitas dan seru. Jika kita anak muda yang rasional, kita seharusnya lebih mementingkan isi cerita, bukan? Terakhir, saya berharap agar sinetron televisi Indonesia bisa berbenah. Semoga.

Editor: Widya Kartikasari
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Penulis adalah guru (baca: filsuf) honorer di salah satu sekolah negeri di Bangkalan. Gemar nulis dan suka rujak manis.

Artikel dari Penulis