7 Hal yang Bikin Betah Jadi Guru

7 Hal yang Bikin Betah Jadi Guru

7 Hal yang Bikin Betah Jadi Guru – Jadi guru itu susah-susah-senang. Akan tetapi, banyak orang menyimpulkan kalau jadi guru itu lebih banyak susahnya daripada senangnya. Menurut saya, justru sebaliknya. Lebih banyak senangnya daripada susahnya. Meskipun memang susahnya juga ada. Akan tetapi, namanya pekerjaan tidak mungkin senang terus, ‘kan? Mesti ada susahnya. Yang penting, senangnya bisa dinikmati dengan khidmat. 

Berikut saya coba rangkum beberapa kesenangan yang bisa dirasakan jika kita menjadi guru. Sehingga, kesenangan itu bisa membuat kita betah menjalani profesi sebagai guru dengan penuh cinta. Ciyellah.

  1. Pekerjaan yang Tidak Monoton

Jenis pekerjaan yang tidak monoton sekaligus tidak membuat tertekan, ya menjadi guru. Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan, tidak monoton memang. Berjalan ke banyak tempat untuk mencari nasabah. Bertemu banyak orang. Namun, tertekan. Karena harus memenuhi target perusahaan yang kadang gak ngotak

Sedangkan, beberapa pekerjaan yang santai cenderung monoton dan membosankan. yang akhirnya membuat kita jadi tidak betah. Oleh karena itu, menjadi guru adalah jalan terbaik dari dua permasalahan tersebut. 

Pekerjaan guru tidak monoton. Beranjak dari kelas ke kelas yang berbeda sekaligus juga tidak tertekan karena harus memenuhi target tertentu. Sekalipun ada target, targetnya masih wajar dan manusiawi. 

  1. Bertemu Siswa yang Beragam

Bentuk konkrit dari tidak monotonnya menjadi guru adalah dengan bertemu banyak siswa yang beragam, memiliki karakter dan sifat masing-masing. Sehingga, hidup seorang guru terasa lebih berwarna dan tidak membosankan, karena pekerjaannya bertemu dengan hal-hal baru setiap harinya. Percayalah, jika dirasakan lebih teliti, keragaman cara berpikir dan gaya bersikap siswa adalah hal yang membuat betah menjadi guru. 

  1. Banyak Kesempatan Ngobrol

Salah satu aturan yang umum dalam setiap pekerjaan adalah dilarang ngobrol atau dilarang banyak ngobrol. Orientasinya adalah kerja, kerja, kerja. 

Ngobrol atau bercakap-cakap menjadi hiburan bagi para pekerja kantoran yang monoton. Ngobrol menjadi kemewahan bagi para pekerja yang diberi batas ketabuan. 

Akan tetapi, hal semacam ini tidak dirasakan oleh guru. Guru justru dituntut untuk banyak ngobrol. Mulai dari ngobrol dengan sesama guru mata pelajaran terkait, kolaborasi dengan guru mata pelajaran lain, ngobrol dengan wali murid, dan tentunya banyak ngobrol dengan para siswa didikannya agar bisa mengerti proses berpikir dan perkembangannya. Ngobrol adalah bagian hidup dan kenikmatan yang melekat dalam fasilitas tubuh seorang guru. 

  1. Meningkatkan Semangat Diri untuk Terus Belajar

Guru, digugu dan ditiru. 

Beberapa orang belakangan ini mulai resah dengan anggapan ini karena menganggap bahwa guru tidak boleh salah. Padahal, justru anggapan ini, digugu dan ditiru, di sisi lain agar guru bisa salah dan belajar dari kesalahannya. Sehingga, guru terus belajar. Tidak mudah puas dengan kemampuannya dan pengetahuannya yang sekarang. 

Selain itu, guru ada di lingkungan pendidikan formal yang kental. Tuntutan belajar sepanjang hayat adalah keharusan. Belajar banyak hal dan memperdalam spesifikasi keahliannya. Dengan begitu, guru memiliki ruang yang luas untuk membaca, menulis, dan mengasah skill utamanya. 

Berbeda dengan orang-orang yang bekerja di perusahaan. Sependek pengalaman saya, ketika bekerja di perusahaan, boro-boro membaca buku, meningkatkan skill lain, dan menulis, wong sehari-hari saja memikirkan target, target, dan target capaian perusahaan yang begitu tinggi. Tidak cukup waktu senggang untuk merefleksikan diri sendiri. 

Sedangkan guru punya ruang yang nikmat untuk terus belajar, terutama dalam bidang literasi membaca dan menuliskan sebuah karya untuk dirinya dan siswa-siswinya. 

  1. Siswa adalah teman,. Artinya, Menjadi Guru Jadi Makin Banyak Teman

Beberapa guru senior sering menganggap bahwa siswa tetaplah murid yang jangan sampai terlalu berlebihan untuk dianggap menjadi teman. Banyak kejadian guru yang terlalu akrab dengan siswanya, siswa justru menjadi tidak sopan atau kurang ajar. Bagi saya, yang memang guru baru dan guru muda, menjadikan siswa sebagai teman bukanlah hal buruk.

Siswa adalah teman belajar di sekolah. Karena lingkupnya di sekolah, proses berjalannya pertemanan harus berusaha mencapai tahapan pertemanan yang ideal, yaitu minimal tidak saling kurang ajar. Itu yang harus berusaha diciptakan. 

Dengan menganggap siswa adalah teman, guru memiliki teman yang banyak serta beragam. Dan itu menjadi faktor penting yang akhirnya membuat betah jadi guru.

  1. Bertemu Guru Lain yang Jauh Lebih Berpengalaman

Saat masih kuliah, saya cukup banyak membaca buku-buku pendidikan, dasar pendidikan, dan pendidikan kritis. Di beberapa buku yang sudah saya baca, saya banyak menemui kritik pada kualitas guru di Indonesia. Akan tetapi, saat saya terjun langsung di lapangan, di dunia keguruan sekolah formal, justru yang saya lihat sebaliknya. Banyak guru-guru berkualitas yang memiliki semangat juang mendidik yang tinggi. Memang ada beberapa yang sedikit menyeleweng, tetapi selalu ada keunikan dan kejeniusannya dalam mengajar, yang saya rasa itu didapat langsung dari pengalaman konkrit bertahun-tahun mengajar putra-putri bangsa. 

Dengan kualitas guru-guru senior yang sedemikian hebat atas pengalamannya, menjadi guru baru seperti saya menjadi semacam anugerah yang semakin bikin betah karena bisa menyerap ilmu secara langsung dari praktisi guru yang jauh lebih berpengalaman. 

  1. Lingkungan Kerja yang Terdidik atau Tidak Toxic

Najwa Shihab pernah berkata bahwa pekerjaan tidak melulu soal gaji. Ya, memang gaji tetaplah penting. Akan tetapi, dunia kerja juga soal lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang baik, progresif, dan sehat adalah kunci bagi kita untuk terus produktif bekerja. Jika lingkungan kerjanya toxic, bukannya produktif, malah stres dan jatuh sakit. 

Menjadi guru artinya bekerja di lingkungan pendidikan yang terdidik. Terdidik artinya berusaha mencapai lingkungan kerja yang ideal dan sehat. Ruang untuk berkarya, semangat bekerja, dan mengembangkan potensi diri terbuka lebar bagi setiap guru, terutama untuk guru-guru muda.

Editor: Widya Kartikasari
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Penulis adalah guru (baca: filsuf) honorer di salah satu sekolah negeri di Bangkalan. Gemar nulis dan suka rujak manis.

Artikel dari Penulis