Kematian Akal di Ruang Kelas: Pendidikan Kita Sudah Dikriminalisasi — Coba kita bayangkan: seorang anak kecil datang ke sekolah, lalu hanya diminta untuk menyalin jawaban dari papan tulis ke buku catatan. Ia tak pernah diajak berdebat dengan pemikiran temannya, apalagi dengan pemikiran gurunya. Tahun demi tahun pun berlalu, anak itu tumbuh remaja, kemudian dewasa. Ia tumbuh menjadi pribadi yang pandai meniru pengetahuan, tetapi gagap ketika diminta berpikir, menganalisis, atau mendebat suatu pemikiran.
Apakah ia bodoh? Tidak. Ia pandai menjawab soal-soal di layar ujian PTKIN. Ironinya, ia akan kebingungan ketika menghadapi realita kehidupan yang sesungguhnya, di mana tidak ada pilihan jawaban. Yang ada hanya kemampuan berpikir dan mengimplementasikan hasil pemikiran.
Gambaran di atas bukan sekadar fiksi atau dongeng semata. Ini adalah potret nyata lulusan sebagian besar lembaga pendidikan kita. Baru beberapa hari lalu, kita disuguhkan fenomena para pelamar kerja Generasi Z. Mereka mampu menjawab pertanyaan HRD dengan dengan lantang, sigap, dan cepat, tetapi tidak tepat. Menjawab dengan apa adanya, tanpa berpikir ulang. Dan nahasnya, mereka semua ditolak saat interview.
Baca juga: Wajah Pendidikan Karakter di Indonesia
Lembaga pendidikan kita menjelma menjadi pabrik yang memproduksi “mesin hafal” bernama manusia. Nilai, KKM, dan rapor menjadi penentu tunggal kecerdasan. Peserta didik dianggap cerdas dan pintar jika nilainya bagus dan mendapatkan peringkat, bukan karena kemampuannya mempertanyakan, memahami, dan memperdalam pengetahuan.
Sistem pendidikan kita lebih melatih otak untuk menghafal, dari pada mencerna. Akibatnya, banyak lulusan yang cerdas secara pragmatis, tetapi lemah saat menghadapi tantangan hidup.
Permasalahan utama pendidikan kita bukanlah kurangnya kecerdasan peserta didik, melainkan hilangnya daya berpikir kritis dari peserta didik. Ini adalah krisis mutu pendidikan yang senyap, tetapi jarang kita sadari.
Akal tidak lagi menjadi pusat pendidikan. Ia direduksi menjadi alat penghafal silabus, RPP, dan modul ajar, tanpa memahami esensi pendidikan itu sendiri. Maka sangat wajar jika muncul pertanyaan besar:
Di mana letak akal dalam kurikulum dan sistem pendidikan kita? Apakah akal hanya pelengkap? Atau justru sedang dibinasakan pelan-pelan dari ruang kelas?
Warisan Pendidikan yang Terabaikan
Ada satu hal fundamental yang mulai hilang dari dunia pendidikan kita, yaitu daya berpikir, nalar kritis, dan kompetisi debat di ruang kelas. Sekolah sibuk mengurus angka dan nilai yang akan dicantumkan di rapor, dan diberikan kepada orang tua murid. Dari tahun ke tahun, Murid hanya dicetak menjadi penghafal materi, bukan pemikir yang memahami dan mempertanyakan, hingga memperdalam pelajaran.
Akibatnya, daya berpikir mereka lemah dan tidak siap jika dihadapkan dengan permasalahan nyata tentang materi yang dipelajari. Kurikulum kita hari ini, ibarat pabrik. Seragam, sistematis, dan berorientasi output—tanpa memedulikan proses berpikir yang sesungguhnya.
Para siswa dibombardir dengan tugas, PR, dan rumus-rumus. Mereka diminta untuk meniru, mencontoh, dan menulis ulang. Parahnya, mata pelajaran yang menyentuh akar pemikiran seperti filsafat, logika, dan etika justru dianggap tidak produktif dan dapat menimbulkan ketidaksopanan dalam pembelajaran.
Baca juga: Kenapa Perempuan Selalu Menomorduakan Pendidikan?
Meskipun kurikulum terbaru bernama “Kurikulum Merdeka”, yang katanya mengedepankan pemikiran peserta didik. Namun, kenyataannya masih banyak sekolah yang menggunakannya tanpa benar-benar menerapkannya. Anak-anak tidak pernah disuguhkan pertanyaan, “Mengapa harus begini? Apa alasannya? Bagaimana situasinya bisa begitu?”. Yang ada justru instruksi seperti: “Ayo anak-anak isi soal yang ada di halaman sekian! Hafalkan bab ini di halaman sekian!“.
Budaya tanya-jawab kritis, diskusi aktif, upaya mengaitkan dengan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari dianggap merepotkan dan ribet. Padahal, dalam tradisi Islam sendiri, metode berpikir kritis dipelopori sudah lama oleh Ibnu Rusyd. Seorang filsuf dan pemikir Islam asal Andalusia, yang sekarang dikenal sebagai Spanyol.
Minimnya Ruang untuk Berdialog, Berdebat, dan Saling Merefleksi
Lembaga pendidikan seharusnya menjadi api yang menyalakan pikiran peserta didik, mengaktifkan otak, menyalakan pemikiran, dan membakar suasana belajar. Namun, kenyataannya, kesempatan-kesempatan seperti ini sangat dibatasi oleh waktu, silabus, RPP, dan sistem administrasi. Ruang dialog, debat, dan saling koreksi pun nyaris tak tersedia.
Padahal, para filsuf terdahulu, seperti Plato, memulai kelas dengan diskusi terbuka. Aristoteles, menggunakan metode peripatetik, kerap berjalan ke sisi-sisi murid sambil mengajarkan pengetahuan. Sehingga muncul dialog aktif dengan sendirinya, lantaran pendekatan yang digunakannya sangat efektif untuk memantik suasana belajar.
Inilah alasan banyaknya lulusan yang terlihat cerdas di atas kertas, tetapi gagap saat harus mengambil keputusan, bingung saat diminta menyampaikan argumentasi, dan mudah termakan informasi palsu yang beredar di media sosial. Banyak pemikir besar yang sudah menghimbau akan bahaya dari hilangnya budaya berpikir.
Baca juga: Tawuran Pelajar hingga Bullying, Apa yang Salah dengan Pendidikan Kita?
Betrand Russell mengatakan, “Manusia yang tidak diajari berpikir akan menjadi budak dari pikiran orang lain”. Pendapatnya diperkuat oleh Rene Descartes yang ,menyatakan, “Cogito Ergo Sum” yang berarti “Aku Berpikir Maka Aku Ada”.
Pernyataan yang sudah diutarakan filsuf barat, diperkuat lagi oleh Ibnu Rusyd yang menolak keras “Taqlid Buta” dan meyakini bahwa akal adalah anugerah Tuhan yang harus digunakan semaksimal mungkin.
Jika pendidikan tidak mengarahkan peserta didik untuk berpikir, mereka akan mudah dikendalikan. Bukan hanya oleh media, melainkan oleh penguasa, dan kebohongan yang dibungkus dengan keindahan.
Mencari Letak Akal: Pelajaran dari Para Filsuf
“Syariat adalah kebenaran, dan hikmah (filsafat) juga kebenaran. Dan kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran.” Begitu kata Averroes dalam kitabnya Fashal al-Maqal.
Baginya, wahyu dan akal berasal dari Tuhan yang sama. Sehingga, sepatutnya keduanya saling mendukung dan bisa diintegrasikan dalam ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, berpikir bukanlah sikap melawan agama, tetapi cara untuk memuliakan dan memperdalam agama secara utuh.
Sayangnya, pendidikan kita justru mewarisi sistem feodal: murid dilarang mendebat dan mengajak diskusi guru karena dianggap tingkah laku buruk. Apa yang dikatakan guru selalu benar dan tak pernah salah.
Baca juga: Jika Guru Berpihak kepada Murid, Maka kepada Siapakah Sekolah Berpihak?
Taqlid buta pun hidup subur: menerima pengetahuan tanpa memahami, meniru guru tanpa pemahaman mendalam, dan menumbuhkan doktrin terus-menerus tanpa menimbang konteks. Padahal, pendidikan yang baik bukan hanya membuat murid tahu definisi kejujuran, tetapi juga melahirkan manusia yang tahu mengapa harus jujur. Ibnu Rusyd mengingatkan kita bahwa ilmu bukan sekadar kumpulan informasi, tapi jalan menuju kebijaksanaan.
Hari ini, banyak pelajar yang cerdas, tetapi kehilangan orientasi. Mereka mampu menjawab soal, tetapi tak mampu menjawab kegelisahan hidupnya sendiri. Maka, pendidikan harus melatih bagaimana berpikir secara dalam, bukan sekadar tahu banyak.
Di masa Ibnu Rusyd, madrasah Andalusia menjadi tempat bertemunya ilmu agama dan ilmu rasional, tanpa sekat dan prasangka. Filsafat, logika, astronomi, dan ilmu medis hidup berdampingan dengan tafsir dan fikih. Pendidikan Islam masa kini perlu meneladani itu.
Menjadi religius tidak berarti anti-rasionalitas. Menjadi taat tidak berarti berhenti berpikir.
Kita butuh kurikulum yang memerdekakan akal, bukan membelenggunya demi target ujian. Kita butuh guru yang membimbing jiwa, bukan hanya memberi jawaban. Kita butuh ruang belajar yang memberi tempat bagi refleksi dan kebijaksanaan, bukan hanya hafalan dan kompetisi.
Ibnu Rusyd telah memberi teladan bahwa berpikir adalah bentuk ibadah. Jika kita ingin membangun pendidikan yang benar-benar membebaskan, akal harus kembali ditempatkan di pusat pendidikan.
Sebab generasi muda yang tak diajarkan berpikir bukan hanya mudah dikendalikan, tetapi akan kehilangan suara hati dan akalnya sendiri.













