Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Hamid, Penyebar Islam di Klungkung Pulau Bali — Ketika membahas sejarah Islam di Bali, kisah tentang Wali Pitu sering kali muncul. Wali Pitu merujuk pada tujuh wali penyebar Islam di Bali. Menurut Habib Toyyib Zaen Arifin Assegaf, istilah Wali Pitu awalnya tidak dikenal oleh umat Islam di Bali. Istilah ini baru populer sekitar tahun 1990–2000 melalui pelaku wisata religi dari Jawa. Seiring waktu, konsep ini kemudian diperkenalkan sebagai bagian dari paket wisata religi oleh agen travel (Ridho, 2022).
Pulau Bali, selain kaya akan wisata budaya dan religi Hindu, ternyata juga memiliki wisata religi Islam, yaitu ziarah ke makam Wali Pitu. Lokasi makam para Wali Pitu tersebar di berbagai kota/kabupaten di Bali, kecuali di Kabupaten Bangli. Berikut tujuh tokoh yang dikenal sebagai Wali Pitu (Agung, 2021):
1). Pangeran Mas Amangkuningrat (Kabupaten Badung),
2). Dewi Khotijah (Denpasar),
3). Habib Umar bin Yusuf Al-Maghribi (Kabupaten Tabanan),
4). Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Hamid (Kabupaten Klungkung),
5). Habib Ali bin Zein Alaydrus (Karang Asem),
6). Syekh Abdul Qodir Muhammad (Singaraja),
7). Syekh Yusuf Al Maghribi (Karang Asem).
Sejarah Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Hamid
Islam adalah agama rahmatan lil alamin, yang masuk ke Nusantara melalui dakwah yang penuh dengan kebaikan dan kelembutan. Islam dapat diterima oleh masyarakat di Nusantara karena dibawa oleh para ulama dengan cara-cara yang bijaksana. Pulau Bali adalah salah satu bagian Nusantara yang dimasuki oleh ulama yang bijaksana, salah satunya adalah Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Hamid.
Baca juga: Raden Sayyid Agil bin Muhammad Ba’abud dan Pendidikan Pesantren di Purworejo
Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Hamid merupakan salah satu tokoh yang ikut menyebarkan agama Islam di Pulau Bali, khususnya di Kabupaten Klungkung. Habib Ali Al-Hamid tinggal di Desa Kusumba pada abad ke-17. Menurut beberapa sumber, nama Kusamba berasal dari kata ku yang berarti “saya” dan sama yang berarti “tidak ada perbedaan”. Nama ini menunjukkan bahwa kita adalah sama-sama manusia, sama-sama pendatang, dan berkedudukan sama di hadapan Tuhan.
Habib Ali Al-Hamid dipercaya oleh masyarakat bukan orang yang sembarangan. Sebab beliau dikenal sebagai sosok berilmu tinggi dan jujur, sehingga menarik perhatian Raja Klungkung, Dalem I Gede Agung Jambe tertarik kepadanya (Utami, 2024). Diceritakan bahwa Habib Ali menjadi guru bahasa Melayu Raja Klungkung. Untuk mempermudah perjalanannya dari Desa Kusamba ke Kerajaan Klungkung, Raja memberikan seekor kuda putih kepada beliau. Pemberian kuda ini bukan hanya sekedar sebagai kendaraan atau alat transportasi, melainkan juga simbol hubungan harmonis antara umat Hindu dan Islam pada masa itu.
Baca juga: Dakwah dan Jejak Ajaran Islam Habib Muhammad bin Abdurrahman Al-Baar di Ternate
Bukti kuatnya persaudaraan antarumat beragama di Klungkung masih terlihat hingga hari ini. Terbukti saat memasuki kompleks makam Habib Ali, pengunjung terlebih dahulu akan melewati sebuah pura besar sebagai simbol sambutan dari umat Hindu. Setelah itu, terdapat Masjid Al-Mahdi dan barulah makam Habib Ali Al-Hamid (Agung, 2021).
Makam Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Hamid
Habib Ali Al-Hamid dimakamkan di Desa Kusumba, Kabupaten Klungkung. Makam Habib Ali terletak tak jauh dari selat yang memisahkan Klungkung dengan Pulau Nusa Penida. Selain dikeramatkan oleh kaum muslimin, makam ini juga dikeramatkan oleh umat Hindu. Di depan makam, terdapat patung seorang tokoh bersorban dan berjubah yang sedang menunggang kuda, sebagai penghormatan atas peran beliau dalam menyebarkan Islam dan mempererat hubungan antarkepercayaan di Bali.
Kisah Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Hamid adalah bukti nyata bahwa harmoni antara umat beragama telah berlangsung sejak dahulu kala di Bali. Semangat toleransi ini terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini.
Daftar Referensi
Ridho, M. (2022, November 16). Kisah Wali Pitu, Penyebar Islam di Pulau Dewata Bali dan Muasal Penyebutannya. Diambil kembali dari liputan6.com.
Agung, D. A. (2021). Wali Pitu di Pulau Bali. Malang: Jagat Litera.
Utami, S. D. (2024, Juli 18). Misteri Kisah Habib Ali bin Abu Bakar Al-Hamid dalam Dakwah Islam di Pulau Bali. Diambil kembali dari sketsanusantara.id.














