Biografi Abdoel Moeis, Seorang Wartawan, Politikus, dan Sastrawan

Biografi Abdoel Moeis

Biografi Abdoel Moeis, Seorang Wartawan, Politikus, dan Sastrawan

Abdoel Moeis adalah seorang Pahlawan Nasional yang dikenal sebagai sastrawan, politikus dan wartawan. Karya novel yang ditulis seperti; Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), dan Robert Anak Surapati (1953).

Kehidupan Awal

Abdoel Moeis Lahir pada 3 juli 1883 di kota Sungai Puar, Padang, Sumatra Barat. Ayahnya seorang Laras atau yang sekarang disebut Camat Sungai Puar yang bernama Haji Abdoel Gani. Dari kecil Abdoel Moeis dikenal sebagai seorang yang mempunyai kepribadian yang teguh pada pendirian. Bahkan Abdoel Moeis tidak segan untuk bekelahi dengan teman sebayanya untuk mempertahankan pendapatnya.

Gagal Menjadi Seorang Dokter

Pada usia tujuh tahun ia bersekolah di Europeeche Lagere School (ELS). Sekolah yang setingkat dengan Sekolah Dasar pada saat ini. Pada awalnya, Abdoel Moeis bercita-cita menjadi seorang dokter yang dapat membantu mengobati penyakit. Oleh karena itu, setelah lulus dari ELS ia mendaftarkan diri pada Stovia (Sekolah Dokter) di Batavia yang saat ini bernama Jakarta. Namun, cita-cita ini harus pudar dikarenakan tidak tahan melihat darah.

Baca juga: Biografi Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia

Pada saat ia duduk di tingkat tiga, saat itu sudah mulai melakukan praktek bedah. Ketika ia melakukan praktek, Abdoel Moeis merasa pusing saat melihat darah yang mengalir. Menyadari kekurangan itu ia memutuskan untuk tidak menjadi seorang dokter. Setelah lulus dari Stovia ia pulang ke kampung halamannya.

Di depan ayah dan ibunya, Abdoel Moeis Menceritakan tentang cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter harus pudar. Namun, ayah dan ibunya memberikan nasihat bahwa jangan patah semangat. Membantu orang lain tidak selamanya harus menjadi seorang dokter.

Menjadi Seorang Wartawan

Pada masa itu banyak surat kabar milik Belanda yang berisi hinaan kepada bangsa Indonesia. Hal ini membuat jiwa Kebangsaan Abdoel Moeis terpanggil untuk membela bangsanya. Ia pun menulis karangan tentang pembelaan bangsanya. Tulisan tersebut dikirimkan kepada surat kabar yang menggunakan bahasa Belanda untuk menerbitkannya. Surat kabar itu bernama De Express yang dipimpinan E. F. E Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara.

Karena sering mengirimkan karangan tentang kritikan kepada bangsa Belanda, Abdoel Moeis dipercaya menjadi pimpinan redaksi kurat kabar Kaum Muda. Surat kabar ini memberikan uraian tentang menderitanya masyarakat akibat penjajahan Belanda.

Memasuki Dunia Politik

Rasa Kebangsaan Abdoel Moeis sudah tebal, oleh karena itu ia tidak mau ketinggalan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan masuk Serekat Islam. Abdoel Moeis dipercaya menjadi wakil ketua untuk wilayah Jawa Barat karena ia dikenal sangat cerdas. Tak lama setelah itu ia menjadi pengurus Serekat Islam.

Baca juga: Biografi Pramoedya Ananta Toer, Penulis Novel “Bumi Manusia” yang Fenomenal

Membentuk Komite Bumi Putera

Komite Bumi Putera merupakan komite yang dibentuk dalam rangka memperingati perayaan Kemerdekaan Belanda di Indonesia. Namun, tujuan dan rencana sebenarnya membentuk Komite Bumi Putera adalah melancarkan kritik terhadap kebijaksaan politik Pemerintah Belanda, memperjuangkan agar di Indonesia dibentuk parlemen, menuntut agar Pemerintah Belanda tidak melarang orang Indonesia melakukan kegiatan politik, serta memperjuangkan kebebasan berpendapat. Abdoel Moeis merupakan salah satu pendiri dari Komite ini.

Sebagai Sastrawan

Minat mengarang Abdoel Moeis sudah mulai muncul ketika ia hidup dalam pengasingan. Hidupnya terasa tertekan akibat tindakan pemerintah Belanda dan kegagalan percintaan menjadikan menulis karangan sebagai pelampiasan kesusahan hatinya. Sudah banyak buku yang sudah dikarang Abdoel Moeis. Di antaranya adalah Pertemuan Jodoh, Daman Brandal Anak Gudang, Robert Anak Surapati, Sabai Nan Aluih, Pangeran Kornel, Tom Sawyer, Suku Mohawk Tumpas, Cut Nyak Dien, dan Menuju Kemerdekaan.

Abdoel Moeis sendiri dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang pertama oleh Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959. Demikianlah biografi Abdoel Moeis, seorang pahlawan nasional Indonesia yang berkomitmen dalam perjuangan bangsa Indonesia melalui dunia wartawan, politik, dan sastra.

Referensi:
Nur B., Mirza. (1978). Seri pahlawan Abdul Moeis: Politikus, jurnalis, sastrawan. Penerbit Mutiara Jakarta.

Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Karyawan Swasta yang mencoba belajar menulis karangan. Prestasi bias makan mie menggunakan sendok.

Artikel dari Penulis