Membaca dengan Gembira

Membaca dengan gembira

Membaca dengan Gembira – Saya sering mendapat pesan whatsapp dari sejumlah kawanan manusia. Pesan itu berkaitan dengan ketidakgemaran mereka membaca sebuah buku.

Mula-mula saya berpikir bahwa mereka tidak gemar membaca adalah korban “pendidikan sekolah” yang gagal. Saya pun berpikir untuk membalas pesan itu dengan menjawab, “kalian tidak gemar membaca itu mungkin karena imbas sekolah yang tidak mengajarkan bagaimana murid-murid gemar membaca”.

Tetapi pikiran tersebut saya urungkan karena apabila saya jawab demikian, maka itu seperti bentuk penghakiman kepada guru yang telah amat berjasa, sedangkan saya bukanlah siapa-siapa daripadanya, bukan pula hakim yang berhak memutuskan perkara salah benar.

Okelah, untuk membalas pesan itu saya mengambil nafas perlahan-lahan dan menanyakan kepada mereka tentang apa yang menjadi kesukaan atau hobi yang mereka lakukan setiap harinya.

Dengan melihat kecenderungan mereka, dapat saya tarik jawaban sederhana dari pertanyaan mereka yaitu: “Bacalah buku yang menurut kamu menarik, seperti bacalah buku komedi kalau kalian suka ngelawak. Itu saja sudah cukup”.

Beberapa kawanan manusia itu membalas pesan dengan sangat ringkas, “Terima kasih” seraya tidak melanjutkan topik pesan. Dan di antara manusia lainnya melanjutkan, “Maksudnya sekiranya aku seperti manusia lain agar gembira membaca buku apapun”. Pada pesan berikutnya saya cari celah jawaban lain yang lebih simple. “Baiklah … bacalah pengalaman hidupmu!”.

Kesimpulan yang dapat saya ambil adalah bahwa pada dasarnya mereka tidak tahu apa yang menjadi selera bacaan yang mereka suka. Sehingga mereka memilih bahan bacaan yang mungkin tidak mereka sukai. Apa yang akan terjadi selanjutnya adalah ketidakpuasan pada apa yang telah dibacanya. Inilah masalah yang sering terjadi pada mereka yang sukar membaca dengan gembira.

Untuk itu saya menjawab menurut selera mereka sehingga terjadi pergerakan rangsangan sekaligus membuka pintu masuk membaca buku lain (dengan bekal gemar membaca buku ringan terlebih dulu) semisal buku komedi.

Kita paham bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki alasan kuat menempatkan dirinya untuk membaca sebuah buku (membaca dunia yang kompleks). Saya sendiri memutuskan untuk gemar membaca novel tidak lain dan tidak bukan karena saya menyukai dunia rekaan.

Dunia rekaan membantu saya dalam melihat dunia nyata. Dunia rekaan mengantarkan saya pada dunia lain yang mungkin tidak ada (atau mungkin ada) di dunia nyata. Dengan membaca dunia rekaan seperti berada di dunia lain. Hal itu membuat saya tertarik, bahkan membuat saya gila untuk terus membacanya. Setelah selesai membacanya pun saya dapat menarik sebuah pelajaran penting di dalamnya (di dalam dunia rekaan).

Misalnya, dunia rekaan dalam novel, Lelaki Tua dan Laut karangan Ernest Hemingway yang membuat para pembaca untuk terus membacanya. “Ia merenungkan betapa sebagian orang ketakutan berada di tengah laut tanpa hadirnya garis daratan sejauh pandangan mata dalam sebuah perahu kecil dan mengetahui sedang berada pada bulan-bulan dengan cuaca buruk yang bisa terjadi sewaktu-waktu” (Ernest Hemingway, 1952:57). Kita bisa mengambil pelajaran dengan jelas (dengan kata-kata singkat yang memikat ini).

Pada dasarnya kita tidak berhak menuntut orang lain dan meyakinkannya untuk memandang dunia dengan cara kita. Yang mungkin dapat kita lakukan hari ini adalah dengan menuntun mereka melihat dunia melalui apa yang cenderung mereka sukai.

Setiap dari kita memiliki selera dan kecenderungan bacaan yang perlu dicari formulasinya. Yang dapat kita lakukan hari ini adalah dengan memulai mencari dan membentuk kebiasaan membaca sebagai karakter manusia pembelajar tanpa harus menyamakan selera bacaan kita dengan orang lain.

Pada akhirnnya membaca dengan gembira adalah sebuah kebutuhan nutrisi otak manusia untuk melihat berbagai sudut pandang dunia dengan cara kita masing-masing. Tanpa membaca kecenderungan selera bacaan kita akan kehilangan cara pandang sehat untuk menilai dan menjawab sebuah permasalahan hidup. Sebagaimana sarannya, membaca buku komedi akan memberikan jawaban persoalan hidup kita dengan banyak tertawa dan riang gembira (hahaha).

Lahir dan berdikari di Jember. Mahasiswa Prodi Manajemen Zakat dan Wakaf UIN Khas Jember. Belajar menulis puisi, esai, opini, dan catatan remeh-temeh lainnya. Pemuda ini nggak makan ikan laut maupun ikan sungai, nggak ngerokok tapi suka ngopi.

Artikel dari Penulis