Biografi Kiai A.R. Fachruddin dan Air Mata Keteladanan

Biografi KH AR Fachruddin

Biografi Kiai A.R. Fachruddin dan Air Mata Keteladanan – K.H. A. R. Fachruddin atau yang biasa dikenal dengan panggilan Pak AR tentunya tidak asing di telinga masyarakat muslim Indonesia, terutama warga persyarikatan Muhammadiyah. Berikut biografi dan perjalanan hidup beliau.

Biografi KH AR Fachruddin

Kehidupan Awal dan Pendidikan

K.H. Abdur Rozak Fachruddin atau biasa disapa Pak AR lahir di Cilangkap, Purwanggan, Pakualaman Yogyakarta. Pak AR lahir pada 14 Februari 1916 dari pasangan K.H. Fachruddin dan Maimunah binti K.H. Idris Pakualaman. Ayahnya merupakan seorang penghulu di Puro Pakualaman. Sejak kecil Pak AR mendapatkan ilmu agama dari ayahnya. Pada tahun 1923 Pak AR bersekolah di sekolah formal milik Muhammadiyah (Standaard School Muhammadiyah) Bausasran, Yogyakarta.

Pada tahun 1923, untuk pertama kalinya A.R. Fachruddin bersekolah formal di Standaard School Muhammadiyah Bausasran, Yogyakarta. Pak AR juga sempat pindah sekolah ke Standaard School Muhammadiyah Prenggan Kotagede, Yogyakarta tahun 1925. Selesai dari Standaard School Muhammadiyah Kotagede tahun 1928, Pak AR kemudian masuk ke Madrasah Mu’allimin Yogyakarta. Hanya dua tahun Pak AR belajar di Mu’allimin sebab saat itu ayahnya memanggil beliau untuk pulang ke Bleberan dan belajar kepada kiai di Bleberan.

Baca juga: Biografi Gus Dur, Mantan Presiden Perekat Bangsa Indonesia

Tahun 1930, ayah Pak AR wafat di Bleberan dalam usia 72 tahun. Dan pada tahun 1932, Pak AR melanjutkan petualang belajarnya di Madrasah Darul Ulum Muhammadiyah Wanapeti, Sewugalur. Belum tamat sekolah, pada tahun 1935, Pak AR dikirim ke Palembang untuk diminta menjadi guru sekolah Muhammadiyah cabang Talang Balai dan Tanjungraja.  Di situlah perjalanan dakwah K.H. A.R. Fachruddin dimulai.

Keluwesan dalam Berdakwah

Keluwesan Pak AR dalam berdakwah dan cara menyampaikan pesan-pesan dakwah yang mudah dipahami masyarakat luas, membuat Pak AR mudah diterima di manapun berada. Permasalahan keumatan yang rumit, oleh Pak AR diselesaikan dengan cara yang ringan. Bagi Pak AR, menyelesaikan persoalan keumatan tidak harus melulu dengan dalil yang ada ayat, hadits dan tafsir. Kadang kala jawabannya bisa ditemukan dengan obrolan ringan cara warung kopi. 

Walaupun Pak AR lebih banyak menghabiskan waktu dengan belajar di pesantren dan kiai-kiai, serta sedikit merasakan pendidikan formal apalagi sampai jenjang perguruan tinggi, namun kepiawaiannya dalam memahami karakter orang membuat Pak AR tidak pernah kesulitan menerjemahkan bahasa akademis ke bahasa masyarakat. Pak AR juga pandai bergaul dan menempatkan posisi dengan siapa beliau berhadapan. Maka tak heran, beliau ditunjuk menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah menggantikan K.H. Faqih Utsman. 

Pak AR merupakan Ketua Umum dengan durasi mengabdi terlama sepanjang sejarah Muhammadiyah. Tercatat Pak AR menahkodahi PP Muhammadiyah mulai tahun 1971-1990. Di bawah kepemimpinan Pak AR, Muhammadiyah mengalami kemajuan yang sangat pesat hingga pelosok nusantara.

Kiai dan Penulis

Selama ini Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi Islam yang banyak berkecimpung di jalur sosial melalui prinsip gerakan Al Ma’un. Hal itu sah-sah saja karena banyak aksi nyata yang dilakukan oleh kader Muhammadiyah. Sebagaimana contoh banyak sekali sekolah, rumah sakit, maupun perguruan tinggi yang dibangun Muhammadiyah untuk kemajuan bangsa.

Baca juga: Habib Luthfi bin Yahya dan Dakwah Kebangsaan

Namun, jarang sekali diketahui bahkan oleh kader muda Muhammadiyah sendiri bahwa banyak tokoh dan sesepuh Muhammadiyah yang juga berdakwah melalui tulisan. Banyak karya-karya tulis luar biasa dari para tokoh dan sesepuh tersebut ditujukan sebagai jawaban persoalan keumatan. Pak AR merupakan salah satunya. Beliau merupakan seorang kiai sekaligus penulis yang produktif. Karya-karyanya banyak diterbitkan dalam bentuk buku. Karya-karya pak AR sudah menasional dan banyak menjadi rujukan bagi masyarakat.

Pak AR aktif menulis rubrik di harian Kedaulatan rakyat yang diberi nama “Pak AR Menjawab”. Tulisan itu merupakan follow up dari pertanyaan yang diajukan oleh pembaca harian tersebut. Selain itu, banyak karya yang diterbitkan ke dalam bentuk buku, di antaranya:

  • Bentuk Sholat Kita
  • Tuntunan Sholat Basa Jawi
  • Soal Jawab Entheng-enthengan
  • Syahadatain Kawedar
  • Sarono Entheng-enthengan: Pancasila Kebeberaken Agami Islam Kawedaraken
  • dll.

Pak AR merupakan santri desa yang mengindonesia bahkan mendunia. Banyak karya dan cara dakwah dari beliau yang membuat masyarakat di kalangan bawah sampai atas ta’dzim kepada beliau. Cara komunikasi yang santun dan luwes dengan siapapun membuat gampang beradaptasi. Seyogyanya, itulah yang seharusnya dai muda hari ini teladani.

Wafatnya Pak AR 

Pada hari Jumat, Maret 1995 beliau wafat di Rumah Sakit Islam Jakarta. Setelah sebelumnya sakit panjang sekitar dua bulan. Banyak penghormatan kepada Kiai A.R. Fachruddin. Bahkan Presiden Soeharto dan Ibu Tien juga datang memberi penghormatan terakhir sampai turut mengsalati jenazah beliau. Begitu besar jasa Pak AR kepada bangsa Indonesia, jiwa raga Pak AR bukan hanya milik keluarga atau Muhammadiyah saja, tetapi untuk umat di seluruh Indonesia.

Demikianlah biografi KH AR Fachruddin atau yang biasa dikenal dengan panggilan Pak AR.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Salman Al Farisi

Bagikan di:

Artikel dari Penulis