Bung Karno dan Kontroversi Masa Kecilnya — Bung Karno lahir dengan nama Kusno. Iya, Kusno—bukan Sukarno seperti yang kita kenal sekarang. Inggit Garnasih, istri kedua Bung Karno, kerap memanggil suaminya (bahkan setelah bercerai) dengan nama Kusno hingga sang “penyambung lidah rakyat” itu tutup usia. Nama Kusno terasa akrab dengan nama-nama dari Sunda, seperti Engkus, Engkos, atau Kosasih—yang juga lekat dengan latar budaya Inggit Garnasih.
Nama Kusno kemudian diubah menjadi Sukarno karena semasa kecil ia sering sakit-sakitan. Sebagaimana pengakuannya dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams:
“Namaku ketika lahir adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak yang sakit-sakitan. Aku terkena malaria, disentri, semua penyakit dan setiap penyakit.”
Dalam budaya Jawa, dikenal istilah kabotan jeneng―nama yang terlalu berat untuk dipikul. Nama yang demikian dipercaya membawa beban tersendiri bagi pemiliknya. Mereka yang menyandang nama berat ini acapkali sakit-sakitan atau sial. Misalnya, seorang sudra atau non priyayi yang diberi nama Sujono Humardani Mangkuprojo―nama yang panjang, berwibawa, menggelegar, dan lazim disematkan kepada darah biru. Jika si empunya nama tidak kuat secara “batin”, menyandang nama itu bisa menjadi beban yang justru menenggelamkan, bukan mengangkat. Sehingga berefek seperti yang telah disebutkan.
Baca juga: Bung Karno, Nasab dan Nasibnya
Percaya ataupun tidak, begitulah realitas yang terjadi di masyarakat Jawa. Maka, jalan satu-satunya adalah merubah nama. Perubahan ini biasanya disertai dengan ritual khusus, semacam kenduri yang dipimpin oleh tetua adat. Namun, seiring dengan globalisasi yang menyapu batas-batas tradisi dan budaya, tradisi semacam ini semakin tergusur dan digantikan identitas dalam selembar kartu.
Nama Kusno diganti menjadi Soekarno, mengambil dari kisah-kisah Mahabarata. R. Soekemi Sosrodihardjo, ayah Bung Karno, sebagai orang Jawa tulen, sangat mengagumi kisah-kisah epos Ramayana-Mahabarata yang populer pada masanya. Karena merupakan “anak gelap” dari Dewi Kunti dengan Batara Surya. Kala itu, saat mandi di sungai, Dewi Kunti melafalkan Aji Pameling, mantra pemberian Resi Druwasa yang bisa mendatangkan dewa. Setelah membaca Aji Pameling, Dewi Kunti menyebut Bhatara Surya, Dewa Matahari.
Terjadilah hubungan antara Bhatara Surya versus Dewi Kunti dan berujung dengan kehamilan Dewi Kunti. Dengan kekuatan adikodrati Dewata, bayi itu lahir melalui telinga. Status keperawanan Dewi Kunti pun tetap terjaga. Bayi itu dihanyutkan di sebuah sungai dan ditemukan oleh Adirata, seorang Kusir Kereta. Diasuh bayi putra Batara Surya itu dan diajak mengabdi kepada Kerajaan Hastina.
Baca juga: 5 Sisi Kontroversial dari Ir. Soekarno, Presiden Pertama Indonesia
Di kemudian hari, ketika pecah Perang Baratayuda, Karna memihak Kurawa. Karena tidak membela Pandawa yang notabene adalah adik-adiknya dan berada dalam posisi kebenaran. Ia tidak legitimasi kejahatan Kurawa, Karna hanya membela negara yang ia junjung tinggi kehormatannya. Ia tahu mana kebenaran. Tapi, ia memilih bukan karena hitam putih., melainkan karena kesetiaan kepada kehormatan yang lebih dulu menyambutnya. Tindakan Karna membuat Susuhunan Mangkunegara IV kagum―lantas menggambarkan kegagahannya dalam Serat Tripama,
“Yogya malih kinarya palupi
Suryaputra Narpati Ngawangga
Lan Pandhawa tur kadange
Len yayah tunggil ibu
Suwita mring Kurupati
Aneng nagri Ngastina
Kinarya gul-agul
Manggala golonganing prang
Bratayuda ingadegken senapati
Mangkunegara IV menggambarkan Karna bukan hanya sebagai kesatria gagah, tetapi juga sebagai lambang keteladanan moral: bahwa kemuliaan tidak selalu berpihak pada kemenangan, tetapi pada keberanian menanggung pilihan yang penuh luka.
Ada rumor bahwa Bung Karno adalah putra dari Sinuhun Pakubuwono (PB) X. Memang. Raja Keraton Surakarta itu memang dikenal gemar sekali incognito ke berbagai daerah―sebut saja Semarang, Pekalongan, Garut, Madura, Lombok, dan Bali. Dari kunjungannya ke Bali, ‘konon’ PB X melakukan hubungan dengan Nyoman Rai Srimben, ibu Bung Karno. Oleh karenanya, anak PB X yang terlahir dari Nyoman Rai Srimben diberi nama Kusno, nama kecil dari PB X: Sayyidin Malikul Kusno. Anak itu lantas diasuh R. Soekemi Sosrodihardjo yang kemudian menikahi Nyoman Rai Srimben saat bertugas mengajar di Bali. Benar tidaknya rumor ini tentu perlu penelitian lebih lanjut yang melibatkan berbagai pihak. Namun, terlepas dari latar belakangnya, Bung Karno tetaplah sosok yang saya kagumi.
Baca juga: Biografi Soekarno, Sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia
Bila ditelisik lebih jauh, terdapat beberapa kesamaan antara Bung Karno dengan PB X. PB X adalah raja yang memerintah Surakarta 1893 – 1939. Ia dikenal sebagai raja yang suka menunjukkan gelar, tanda penghargaan, dan bintang kehormatan. Oleh karena itu, PB X sengaja menggemukkan badan agar dapat memasang semua bintang kehormatan. Terlebih jika sebelumnya, raja surakarta bergelar ‘Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senapati Ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama ingkang jumeneng kaping’, tidak dengan PB X ketika naik tahta. Ia menambahi kata “ingkang Minulya saha ingkang Wicaksana.”
Hal yang sama juga dilakukan Bung Karno dalam konteks yang berbeda. Dus, ketika Bung Karno berada di puncak kekuasaannya―masa Demokrasi Terpimpin―ia menahbiskan dirinya dengan sebutan, ‘Paduka Yang Mulia’, ‘pemimpin besar revolusi’, ‘penyambung lidah rakyat Indonesia’, ‘Presiden Mandataris MPR’ dan ‘Sang Putra Fajar.
Jika PB X mempunyai dua permaisuri berikut 39 selir―Bung Karno mempunyai 9 istri. Itu pun jika Jetje Langelo tidak dikategorikan sebagai istri. Atau seperti artis kelas dunia, Marylin Monroe dan Gina Lollobrigida yang pernah kencan dengan Bung Karno―bukan termasuk istri. Kedua sosok ini menyiratkan sosok raja Jawa dengan banyak istri, gelar kebesaran, dan haus akan sanjungan.
Baca juga: Soemitro Djojohadikoesoemo: Ayah Prabowo yang Berseteru dengan Soekarno dan Dirangkul Soeharto
Jika benar Bung Karno adalah putra dari PB X, yang terbuang. Maka perubahan nama dari Kusno menjadi Soekarno bisa jadi merupakan harapan besar seorang R. Soekemi terhadap Kusno, agar kelak bisa menjadi seorang Karna yang sama-sama dibuang, tetapi berujung sebagai Ksatria pilih tanding―pahlawan Bharatayuda. Sebagaimana dikatakan Bung Karno dalam Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, R. Soekemi berkata kepada Sukarno kecil,
“Engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar dalam Mahabarata.”
“Aku selalu berdoa, agar anakku menjadi seorang patriot dan pahlawan besar dari rakyatnya. Semoga engkau menjadi Karna yang kedua”, lanjut R. Soekemi sambil memegang bahu dan menatapnya.
Kontroversi masa kecil Bung Karno, mulai dari asal-usul namanya hingga desas-desus silsilah darah birunya, menyiratkan satu hal: bahwa sosok pemimpin besar ini lahir dari berbagai lapisan identitas dan tafsir yang saling bertaut. Terlepas dari benar atau tidaknya rumor tentang garis keturunannya, Bung Karno telah membuktikan bahwa yang menentukan arah sejarah bukanlah dari mana seseorang berasal, tetapi bagaimana ia membentuk dirinya sendiri dan mengabdi pada cita-cita besar bangsanya. Kisahnya yang berlapis menjadikan Bung Karno bukan hanya tokoh politik, melainkan narasi kebangsaan itu sendiri—penuh makna, mitos, dan inspirasi.














