Semiotika “Jancuk”: Tafsir dan Logika Ngawur yang Mungkin Mencerahkan — Badannya gempal, tidak tinggi, rambutnya hampir seluruhnya putih. Bola matanya yang sayu seolah menyimpan luka—yang anehnya, kadang terasa menghibur. Ia selalu memakai jas lusuh dan sarung yang telah usang. Itulah sosok Cak Suwarno, atau lebih dikenal sebagai Cak No, seorang Kiai kampung yang pernah saya kenal. Ia jauh dari gambaran kiai kebanyakan—yang memakai sorban made in Turki, membawa tasbih dan siwak, atau senang mengutip kutipan dalam bahasa Arab. Cak No lebih mirip Dewa Bumi dalam kisah Sun Go Kong.
Malam itu, saya bertemu Cak No dan beberapa kawan di rumah Cak Udin. Kami membicarakan banyak hal—soal kondisi desa, harga pupuk yang melambung, gagal panen, dan… soal “Jancuk”.
“Jancuk itu terambil dari Al-Qur’an, Mas. Tapi saya lupa suratnya. Coba saja cari di juz 29,” kata Cak No, dengan nada lugu tapi serius. Ia meyakini bahwa kata itu berasal dari Al-Qur’an.
Saya tertawa―berusaha untuk tidak mengomentari Cak No. “Al-Qur’an dan Jancuk?,” gumam saya dalam hati. Dua entitas yang terasa sangat bertolak belakang. Selama ini saya mengenal “jancuk” sebagai umpatan khas Jawa Timur—kata yang kotor, kasar, sering muncul saat marah, atau… saat sedang sangat akrab. Seolah saking dekatnya, batas-batas kesopanan bisa dibengkokkan.
Baca juga: Estetika Omong Kosong dan Dosa-Dosa Kecil dari Lidah yang Tak Terkontrol
Beberapa hari setelah pertemuan itu, saat membaca Al-Qur’an, saya sampai di Surat Al-Ma’arij ayat 19-21:
“Innal insāna khuliqa halūʿā. Idzā massahusy-syarru jazūʿā. Wa idzā massahul-khairu manūʿā.”
Artinya: Sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh-kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.
Saya tertegun di kata jazūʿā. Entah kenapa, kata itu terasa mirip dengan “jancuk”. Saat itu saya sadar, ini bukan sekadar lelucon kultural. Mungkin ini adalah peristiwa semiotik—penuh makna dan tafsir.
Jancuk sebagai Identitas Budaya
Jika mengikuti logika Cak No, maka “jancuk” bisa ditafsirkan sebagai bentuk keluh kesah. Kita tahu, bahasa Arab dan Jawa sudah lama bersinggungan. Banyak kata Arab yang dalam perjalanannya berubah bentuk dalam bahasa Jawa. Misalnya: Muhammad menjadi Mukamad, Ramadhan menjadi Ramelan, Syahadatain menjadi Sekaten, atau mungkin jazūʿā menjadi jancuk.
Menurut Dendy Sugono, bahasa daerah sering menyerap dan menyesuaikan kata asing secara emosional dan kultural. Maka, meski tak bisa dibuktikan secara ilmiah, sangat mungkin “jancuk” adalah hasil pelintiran fonetik dari suatu kata Arab yang pernah diucapkan ribuan kali dalam percakapan rakyat.
Dalam realitasnya, bahasa tak ubahnya makhluk hidup. Ia mengalami pertumbuhan, penyimpangan, bahkan bisa memberontak kepada logika yang memakainya. Dell Hymes berpendapat, selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga merupakan cara hidup. Ia membawa identitas, emosi, bahkan sejarah.
Baca juga: Setelah Menikah, Mending Tinggal di Rumah Orang Tua atau Ngontrak?
Maka Jancuk dalam konteks ini, bukan sekadar umpatan, tetapi semacam ekspresi ketidakberdayaan seorang individu. Ia bisa bermakna marah, kecewa, kaget, juga sayang. Bahkan tidak menutup kemungkinan, dalam arti yang lebih luas jancuk bisa jadi merupakan manifestasi dari doa yang belum usai, keluh kesah yang belum diakhiri, atau gelak tawa yang belum juga padam.
Ketika Cak No mengatakan “jancuk” sebagai serapan kata jazu’a dalam Surat Al-Ma’arij, ia tidak sedang melakukan eksposisi tafsir filologi. Ia sedang membangun ralitasnya sendiri―realitas sebagai rakyat kecil yang terpinggirkan dari bahasa elite, jauh dari logika fiqh, dari epistemologi maintream. Ia menautkan teks rakyat jelata dengan teks ilahiah. Dan itu sah-sah saja dalam ruang tafsir sosial.
Jancuk dan Etika Bahasa
Namun, penting juga diingat: setiap penggunaan bahasa datang dengan tanggung jawab. Kita tidak hidup di ruang hampa—ada norma sosial yang menuntut kesopanan.
Dalam interaksi sosial, bahasa harus dibingkai oleh etika dan estetika. Umpatan, meskipun dilapisi humor atau dimaknai spiritual, tetap harus mempertimbangkan konteks sosial. Kalau tidak, bisa jadi bumerang—seperti yang terjadi pada penceramah viral yang melontarkan kata “goblok” dan menuai kecaman.
Dalam ajaran Islam, berkata baik adalah bagian dari iman. Nabi Muhammad bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata baik atau diam.”
Faktanya, penggunaan “jancuk” memang lebih sering mengarah pada luapan emosi dan kemarahan. Jika digunakan secara berlebihan dalam konteks yang tidak tepat, bisa memperkuat pola pikir negatif dan merusak hubungan sosial. Oleh karena itu, meskipun mungkin memiliki akar dalam kata Arab, bila digunakan secara serampangan, makna sakralnya akan sirna.
Baca juga: Setelah Menikah, Mending Tinggal di Rumah Orang Tua atau Ngontrak?
Yang perlu kita pahami adalah bahwa kata “jancuk” telah menjadi bagian dari identitas budaya, terutama di Jawa Timur. Menghapus kata ini dari perbendaharaan bahasa bukanlah solusi. Justru memahaminya secara konteks—sebagai ekspresi manusiawi—adalah langkah menuju komunikasi yang lebih jujur dan inklusif.
Maka biarlah “jancuk” menjadi semacam monumen kecil dari keberanian rakyat kecil yang masih bisa tertawa. Karena di tengah hidup yang keras, kadang humor adalah satu-satunya ruang aman bagi mereka.
Mungkin, kalau Nabi hidup di zaman ini dan tinggal di Surabaya, beliau akan tersenyum mendengar sapaan hangat antar sahabat: “Jancuk, piye kabarmu?” Karena Nabi tahu: bahasa bukan soal lafadz, tapi perkara niat. Kata kotor bisa jadi doa jika maksudnya untuk memperkuat ikatan persahabatan. Sebaliknya, doa bisa menjadi kutukan jika diucapkan dengan niat buruk.
Epilog
Di tengah dunia yang penuh retorika formal dan jargon-jargon kosong, Cak No mengajarkan kita satu hal: bahwa terkadang, jalan menuju pemahaman dimulai dari kelakar yang tidak sopan—tapi jujur.
Dan bila suatu hari kita bertemu versi lain dari Cak No, sambutlah dengan sapaan mereka:
“Jancuk, piye kabarmu Cak?”
Wallāhu a‘lam.
Daftar Pustaka
Dr. Dandy Sugono. 2009. Mahir Berbahasa Indonesia dengan Mahir dan Benar. Jakarta: Penerbit Gramedia.
Dr. Eka Susylowati, S.S, M.Hum., dkk. 2024. Sosiolinguistik: Teori dan Aplikasi. Klaten: Underline.













