Dancukologi: Bahasa, Luka, dan Tafsir Spiritual

dancuk

Dancukologi : Bahasa, Luka, dan Tafsir Spiritual ― Di sebuah desa terpencil di Blitar, Jawa Timur, hidup seorang sesepuh yang unik bernama Mbah Mansur. Ia dikenal sebagai figur nyentrik yang sering menabrak arus utama. Tak jarang, ia melontarkan kata-kata kasar seperti “Danjuk” atau “Jancuk” dalam dialek Malangan. Karena kelakuannya yang di luar kebiasaan, masyarakat menjulukinya “Mbah Mansur Gendeng”—gelar separuh bercanda, separuh mencemooh.

Meski demikian, banyak kiai sepuh yang bersilaturahmi kepada Mbah Mansur. Entah minta didoakan, berharap keberkahannya, atau sekadar bersilaturahmi. Sebagian bahkan menganggap Mbah Mansur sebagai seorang wali (kekasih Tuhan).

Dalam khazanah spiritualitas Islam, satu tipe wali yang tidak biasa: majdzub—orang yang tertarik secara spiritual kepada Allah, sampai-sampai kewarasannya tercerabut dari realitas manusia. Mbah Mansur sangat mungkin tergolong majdzub ini. Konon, ia pernah menjadi santri KH. Dalhar Abdurrahman (1870–1959) dari Pesantren Darussalam, Watucongol, Magelang. Selama mondok, apabila Mansur menuju ke Watucongol, oleh Mbah Dalhar ia tidak diperkenankan menaiki kendaraan. Mansur harus berjalan kaki dari Blitar ke Magelang. Ia juga diperintah oleh Mbah Dalhar agar selalu khatam Al-Qur’an selama tiga hari sekali selama bertahun-tahun.

“Dancuk”: Umpatan atau Doa?

Suatu hari, seorang kiai berkunjung ke rumah Mbah Mansur. Begitu masuk halaman, sang kiai langsung disambut dengan umpatan keras:

Dancuk! Di enteni kaet maeng, isih kaet teko!
(Dancuk, ditunggu dari tadi, baru datang sekarang!)

Kiai itu merespons dengan santai:

Iyo, iyo Mbah. Nek kedanan sing pucuk ora usah sampeyan omong-omongno.
(Iya, iya Mbah. Kalau tergila-gila pada yang paling pucuk, tak usah diumbar terus).

Mendengar itu, Mbah Mansur tersenyum dan mempersilakannya masuk.

Ucapan sang kiai membongkar makna tersembunyi dari kata “Dancuk”. Dalam logika mereka, “Dancuk” adalah singkatan dari “Kedanan sing Pucuk”—tergila-gila kepada Yang Paling Pucuk. Kata “kedanan” dalam Bahasa Jawa berarti tergila-gila secara spiritual. Sedangkan “pucuk” merujuk pada Yang Maha Tinggi, Allah—dalam salah satu asmaul husna-Nya, Al-‘Aliy (Yang Mahatinggi).

Kata Pucuk dalam hal ini adalah penanda puncak realitas―Tuhan yang berada diatas segala sesuatu, bukan dalam ruang spasial, tetapi dalam ketinggian eksistensial. Itu artinya, Mbah Mansur adalah orang yang tergila-gila kepada Yang Maha Tinggi, Yang Maha Pucuk.

Bahasa Cinta, Bahasa yang Tak Terucap

Dus, Mbah Mansur telah membalikkan arus. Kata “Dancuk” yang lazim digunakan sebagai luapan emosi atau kemarahan, ia ubah sedemikian rupa menjadi manifestasi cinta. Bahkan bukan cinta biasa, melainkan cinta kepada Sang Maha Tinggi.

“Dancuk”—kedanan sing pucuk—muncul dari seorang kekasih yang kehilangan kendali atas cintanya. Dalam kondisi ekstase, bahasa cinta yang memuncak sering kali kehilangan tatanan; ia cenderung melawan arus kebiasaan.

Sebab pada dasarnya, kata-kata tak sanggup mengungkapkan cinta secara utuh, terlebih kepada Tuhan. Dunia dan seisinya terlalu sempit untuk menampung luasnya samudra cinta Ilahi. Cinta bukan soal kata-kata, melainkan urusan rasa.

Dalam konteks ini, “Dancuk” versi Mbah Mansur bertransformasi menjadi dzikir ekstatis khas lokal. Ia menolak segala bentuk dikotomi antara yang suci dan yang kotor—yang, bagi pecinta Tuhan sejati, sudah tak lagi relevan.

Di sinilah bahasa berfungsi, bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana pembebasan.

Devian atau Kekasih Tuhan?

Fenomena seperti Mbah Mansur menunjukkan satu hal penting: masyarakat kerap menolak apa yang tak sesuai norma. Dalam psikologi, perilaku seperti itu disebut devian. Namun, dalam banyak kasus, si devian justru menyimpan kebenaran yang tidak sanggup dipikul mayoritas banyak orang.

Dapat kita tengok dalam sejarah peradaban manusia, bagaimana dulu ide-ide dan gagasan Leonardo Da Vici di tertawakan banyak orang, di olok-olok, dianggap gila. Di kemudian hari, ketika dunia berputar 180º, Da Vinci dikagumi, bahkan dipuja. Begitu juga Enstein yang dianggap gila, Isaac Newton dianggap menyimpang dari akal sehat zamannya, dan sejumlah ilmuwan lainnya. Tapi kini, mereka diagungkan sebagai pencerah zaman.

Maka pertanyaannya: Siapa yang sebenarnya gila?
Mbah Mansur yang mencintai Tuhan lewat umpatan?
Atau masyarakat yang memaki Mbah Mansur tapi menyembah uang dan kekuasaan setiap hari?

Baca juga: Semiotika “Jancuk”: Tafsir dan Logika Ngawur yang Mungkin Mencerahkan

Menyikapi fenomena Masyarakat yang ‘edan’ tetapi mengaku ‘waras’, R. Ng. Ranggawarsita pernah mengingatkan soal kegilaan zaman dalam Serat Kalatidha:

“Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi,
Milu edan nora tahan, yen tan milu anglakoni,
Boya kaduman melik, kaliren wekasanipun.
Ndilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali,
Luwih begja kang eling lan waspada.”

(Hidup di zaman edan, serba sulit bertindak,
ikut gila tak sanggup, tak ikut kelaparan.
Namun sudah kehendak Tuhan,
seberuntung-beruntung orang yang lupa diri,
masih lebih beruntung yang eling dan waspada.)

Eling dan Waspada menjadi dua kunci penting. Orang yang ingat adalah mereka yang senantiasa berada dalam kesadaran—baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Namun, sadar bukan berarti hadir terus-menerus tanpa celah, tanpa kelalaian sedikit pun. Tidak demikian.

Manusia, sebagai makhluk Tuhan, tetaplah lemah. Sebaik apa pun dirinya, ia selalu berpotensi mengalami kelalaian (ghaflah). Hanya para nabi, rasul, dan orang-orang suci yang senantiasa berada dalam kesadaran yang kontinyu (ahl al-dzikr). Itu pun bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena perlindungan langsung dari Tuhan.

Karena itu, Ranggawarsita tidak hanya menekankan pentingnya eling (ingat), tetapi juga menggandengkannya dengan waspada. Ini menyiratkan bahwa meski kita rentan terhadap kelalaian, kewaspadaanlah yang akan menuntun kita kembali ke dalam kesadaran.

Sikap waspada akan menarik individu untuk membuka kembali pintu-pintu kesadaran yang sempat tercerabut. Eling saja tidak cukup; ia harus selalu disertai dengan waspada.

Baca juga: Estetika Omong Kosong dan Dosa-Dosa Kecil dari Lidah yang Tak Terkontrol

Akhirnya, apa yang tampak “gila” bisa jadi adalah bentuk paling jujur dari rasa cinta terdalam kepada Tuhan. Di tengah dunia yang ramai mengejar citra religius, teriakan “Dancuk” dari Mbah Mansur hadir sebagai pengingat—bahwa cinta sejati kadang harus melewati jalan-jalan yang tak biasa.

Seperti yang pernah dikatakan Jalaluddin Rumi:
“The language of love is beyond letters. Only those who burn can understand.”
(Bahasa cinta melampaui deretan huruf. Hanya mereka yang terbakar yang dapat mengerti maknanya.)

Wallahu a’lam.

Bagikan di:

Artikel dari Penulis