Gus Nur Salim: Kiai Sederhana dan Dermawan — KH. Nur Salim atau Gus Nur Salim merupakan sosok kiai kharismatik dari Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Namanya harum di seantero wilayah Malang dan seluruh Jawa secara umum. Ia dikenal karena kesederhanaan dan kedermawanannya. Gus Nur dilahirkan sekitar tahun 1940 di Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Ia merupakan putra bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Kiai Khatam dan ibunya bernama Nyai Mujni. Kedua orang tua Gus Nur adalah petani sederhana di Desa Sukolilo, Jabung. Gus Nur kecil lahir dengan nama Nasihin dan dipanggil Timbul. Adapun nama Nur Salim diberikan oleh KH. Ali Mas’ud (Mbah Ud), seorang kiai majdzub dari Pagerwojo, Sidoarjo, yang masyhur sebagai waliyullah.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Gus Nur Salim kecil memulai belajar agama dari kedua orang tuanya. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Hizbullah Kemantren yang diasuh oleh KH. Abdul Mukti. Jarak pondok ini dari rumahnya tidak terlalu jauh, sekitar 10 km. Selama mondok di sana, Gus Nur dikenal suka membantu teman-temannya dan sangat hormat kepada sang guru.
Kemudian, Gus Nur Salim melanjutkan pendidikannya kepada KH. Muhammad Tohir atau Mbah Tohir (ayahanda KH. Nahrowi Tohir) di Pondok Pesantren Bungkuk, Singosari. Di sana, ia terbiasa menyapu halaman pondok dan rumah sang kiai. Semua itu dilakukan dengan ikhlas, karena watak dasar Gus Nur memang tidak suka menonjolkan diri dan senang membantu siapa pun.
Baca juga: Bu Nyai Arinal Mila: Sosok Hafidzoh Qur’an yang Rendah Hati
Selain itu, Gus Nur Salim juga memperdalam ajaran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di bawah bimbingan KH. Sahlan Tholib di Krian, Sidoarjo. Dari beliau, Gus Nur muda mendapatkan banyak petunjuk terkait berbagai bentuk riyadlah dan tirakat, khususnya dalam ajaran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah.
Serangkaian proses spiritual itu membentuk pribadi Gus Nur Salim menjadi sosok kiai yang bukan hanya alim, tetapi juga sederhana, tawadhu’, dan dermawan.
Tabarukan kepada Ulama
Selain berguru kepada tiga ulama utama tersebut, Gus Nur juga dikenal sering bersilaturahmi dan tabarukan kepada ulama-ulama besar di Jawa, seperti:
- KH. Ali Mas’ud (Mbah Ud) Pagerwojo
- Mbah Jogoreso Gunung Pring
- KH. Dalhar Watucongol
- KH. Abdul Hamid Pasuruan
- Habib Sagaf Assagaf
- KH. As’ad Syamsul Arifin Situbondo
- KH. Dimyati Selopuro
- KH. Haromain Jombang
Pernikahan dan Keluarga
Tahun 1971, Gus Nur menikahi Nyai Hj. Istiqomah dari Desa Jogosalam, Kecamatan Gondanglegi, Malang
Pernikahan ini tidak terlepas dari saran dan nasihat Kiai Sahlan Tholib Krian, guru Gus Nur. Dari pernikahan ini, Gus Nur Salim dikaruniai 4 orang anak―2 diantaranya meninggal ketika masih bayi (anak ke-1 dan 3). Dua dari anak Gus Nur yang masih hidup adalah KH. Ali Muzakki dan Hj. Raudlatul Aini yang kini masing-masing menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijaga.
Cikal Bakal Pondok Pesantren Sunan Kalijaga
Awalnya, tempat yang kini menjadi Pondok Pesantren Sunan Kalijaga yang diasuh Gus Nur hanyalah tempat istirahat dan salat warga setempat. Pada tahun 1960, kakak Gus Nur, Kiai Abdul Rois, merenovasi tempat itu menjadi mushola. Pada 1974, Gus Nur kembali merenovasi mushola tersebut karena semakin banyak anak-anak yang belajar mengaji kepadanya.
Baca juga: Habib Saleh bin Alwi Jamalullail dan Tradisi Maulid Nabi di Afrika Timur
Atas petunjuk KH. Ali Mas’ud Pagerwojo, mushola itu diberi nama Langgar Sunan Kalijaga, karena terletak di tepi sungai. Seiring berjalannya waktu, banyak santri yang terus berdatangan untuk belajar agama kepada Gus Nur Salim, membuat langgar itu tidak muat. Alhasil, langgar itu perlahan-lahan berkembang menjadi sebuah pondok pesantren. Kini pondok yang didirikan Gus Nur telah memiliki beberapa unit pendidikan yang terdiri dari, TK, SD, SMP Putra, SMP Putri, SMA, SMK, dan Institut Agama Islam Sunan Kalijogo.
Pengabdian Sosial dan Dakwah
Semasa hidupnya, Gus Nur dikenal sebagai penggerak sosial di daerahnya. Beliau telah mendirikan sedikitnya 127 masjid, serta berbagai mushola, jembatan, dan panti asuhan. Setiap hari, ratusan orang datang untuk bersilaturahmi. Keanyakan dari mereka mengadukan problematika hidup, kesulitan ekonomi, meminta fatwa dan nasihat, meminta doa atau sekadar ingin bertatap muka dengan Gus Nur. Tak hanya memberi nasihat, Gus Nur juga merogoh uang pribadinya untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan ekonomi.
Baginya, kedermawanan, kesederhanaan, dan rendah hati adalah jalan utama untuk mendekat kepada Allah. Beliau selalu menekankan pentingnya beneh (dermawan) kepada para jamaah. Semboyan hidupnya adalah: Sabar, Ngalah, Nriman, dan Loman.

Selain masyarakat umum, sejumlah ulama terkemuka juga sering bersilaturahmi kepada Gus Nur Salim. Diantaranya Gus Dur, KH. Hamim Djazuli (Gus Miek), KH. Mahfudz Yusuf Tasik Madu, KH. Nurul Huda Djazuli, KH. Basori Alwi Singosari, KH. Muslim Imam Puro (Mbah Liem), KH. Zainudin MZ dan Gus Ali Tropodo.
Majelis dan Kegiatan Keagamaan
Gus Nur juga kerap mengadakan Majelis Waqi’ah-an (membaca surat Al-Waqi’ah sebanyak 3x) di pondoknya setiap malam Rabu dan Sabtu Pahing. Majelis itu dihadiri kurang lebih 30.000 jamaah, yang menyulap Desa Sukolilo menjadi lautan manusia. Hampir setiap rumah penduduk menjadi penginapan dadakan ketika acara tersebut berlangsung. Masyarakat sekitar dengan sukarela menyediakan rumahnya untuk menampung tamu-tamu Gus Nur yang hadir.
Menjelang bulan Rabiul Awal, Gus Nur mengadakan Peringatan Maulid Nabi yang dikemas dengan acara Lailatul Hadrah (Malam Hadrah), dihadiri oleh Jamaah ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Indonesia) se-Jawa Timur.
Wafatnya Sang Kiai Dermawan
KH. Nur Salim, Kiai yang dermawan itu, menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Rabu Pon, 24 Maret 1999, setelah lima tahun menderita stroke. Jenazahnya dimakamkan di samping Masjid Pondok Pesantren Sunan Kalijogo—pondok yang ia bangun dan besarkan dengan penuh ketulusan.
Referensi
Al-Hujwiri. 2015. Kasyful Mahjub: Buku Daras Tasawuf Tertua. Bandung: Mizan.
Henalsyah, Muhammad. 2007. Hati yang Bersujud: Percikan Hikmah & Petuah Gus Nur Salim. Yogyakarta: Bridge Publishing.
Anwari, Kholis dkk. 2021. “Pendekatan Humanisme Religius Mbah Kiai Nur Salim Jabung dalam Pendidikan Islam,” dalam Jurnal Akademika, Volume 3 Nomor 2, 2 Desember 2021.














