Sejarah Luar Batang: Dari Persinggahan Kapal hingga Tempat Ziarah di Jakarta

Sejarah Luar Batang: Dari Persinggahan Kapal hingga Tempat Ziarah di Jakarta – Pramoedya Ananta Toer pernah berpendapat tentang Jakarta. Jakarta adalah sekumpulan dari desa-desa. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa Jakarta merupakan sekumpulan kampung besar yang menjadi satu. Untuk memahami hal ini, kita perlu mengetahui perbedaan antara desa dan kampung. Menurut KBBI, pengertian desa adalah kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri, seperti adanya kepala desa. Sedangkan kampung merupakan suatu daerah, di mana terdapat beberapa rumah atau keluarga yang bertempat tinggal di sana. 

Di Jakarta, terdapat banyak sekali kampung yang padat penduduk, salah satunya adalah kampung Luar Batang di Jakarta Utara. Nama “kampung” di Luar Batang lebih tepat disematkan untuk menggambarkan bagaimana kondisi Jakarta yang dihuni oleh para pendatang dari berbagai daerah. Luar Batang sendiri sudah ada sejak 1623-an, atau beberapa tahun setelah Batavia berdiri sebagai pengganti nama Jayakarta.

Pada 30 Mei 1619, tentara Belanda di bawah Gubernur Jenderal Jan Pieterzoen Coen menyerang dan menghancurkan kota Jayakarta. Setelah penyerangan tersebut, Jayakarta diubah namanya menjadi Batavia, yang berasal dari kata Batavieren, suku bangsa nenek moyang bangsa Belanda yang berasal dari Jerman. Adapun nama Batavia untuk kastil dan kota baru itu disahkan pada 1620, untuk kemudian dijadikan sebuah pemerintahan Batavia pada 4 Maret 1921 (Ismayanto, 2014).

Sejarah Luar Batang: Persinggahan Kapal dan Perkembangan Kampung

Luar Batang, dalam sejarahnya, dulunya merupakan tempat persinggahan sementara bagi para awak yang kapal yang akan masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Pada masa itu, Belanda tidak mengizinkan perahu-perahu masuk dan keluar pelabuhan pada malam hari. Perahu-perahu harus melewati pos pemeriksaan yang terletak di mulut pelabuhan dan menunggu izin untuk masuk. Perahu itu harus menunggu di Luar Batang (Groote Boom) selama berhari-hari untuk mendapatkan izin masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Untuk menunggu surat izin, para Anak Buah Kapal (ABK) yang umumnya berasal dari Bugis dan Maluku turun ke darat dan mendirikan pondok untuk tempat tinggal sementara. Seiring berjalannya waktu, para awak kapal mulai membangun sebuah kampung. Di kemudian hari kampung itu dikenal dengan nama Luar Batang atau Buiten de Boom oleh orang-orang Belanda (Administrator, 2021).

Makam Keramat Habib Husein dan Masjid Keramat Luar Batang

Selain dikenal sebagai bekas persinggahan perahu atau kapal dagang yang menuju Sunda kelapa. Luar Batang juga dikenal sebagai salah satu tempat destinasi ziarah di Jakarta Utara. Hal itu tidak bisa lepas dari keberadaan salah satu makam keramat Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus. Habib Husein lahir di Migrab, dekat Hazam, Hadramaut atau Yaman Selatan, dan wafat di Batavia pada 24 Juni 1756. Beliau adalah tokoh habaib yang sangat berpengaruh di Jakarta yang hidup di abad ke 18.

Baca juga: 5 Alasan Lebih Nyaman Tinggal di Kampung Halaman

Menurut sejarah, Habib Husein diberikan sebidang tanah oleh Gustaf Willem Baron van Imhof yang terletak di daerah Sunda Kelapa. Tanah tersebut dimanfaatkannya untuk membangun sebuah surau yang kemudian menjadi tempat tinggalnya. Setelah Habib Husein wafat, surau tersebut diubah menjadi sebuah masjid. Awalnya, masjid ini bernama Masjid An-Nur. Kemudian, namanya berganti menjadi Masjid Keramat Luar Batang. 

Sebuah gambar berisi langit, pakaian, outdoor, bangunanKonten yang dihasilkan AI mungkin salah.

(Masjid Keramat Luar Batang. Sumber: porosjakarta.com)

Nama Masjid Keramat Luar Batang tidak lepas dari kisah Habib Husein. Ketika Habib Husein wafat, beliau rencananya akan dikuburkan di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun, jenazahnya selalu hilang dari keranda mayat setiap kali akan dipindahkan, dan kejadian ini berlangsung hingga tiga kali. Karena itu, para jamaah bermufakat untuk memakamkan Habib Husein di tempat yang sekarang dikenal sebagai Luar Batang (Darmawan, 2022).

Baca juga: Jika Jalan Setapak di Tengah Hutan Itu Bernama Sejarah, Pentingkah untuk Dipelajari?

Tidak heran jika kisah tersebut menarik banyak peziarah dari berbagai daerah untuk datang dan mencari keberkahan. Bahkan, seorang Serdadu Belanda, H.C.C Clockener, ketika menjelajahi Masjid Luar Batang, menjuluki masjid ini sebagai tempat ibadah besar bagi umat Islam di Hindia Belanda. Pada tahun 1939, Sinuhun Pakubuwono X dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat juga pernah menyempatkan diri berziarah ke makam Luar Batang.

Sebuah gambar berisi pakaian, outdoor, orang, alas kakiKonten yang dihasilkan AI mungkin salah.

(Sinuhun Pakubuwono dari Kasunanan Surakarta Berkunjung ke Makam Luar Batang pada Tahun 1920, Sumber: eramadani.com)

Luar Batang adalah sebuah kawasan yang kaya akan sejarah dan budaya, dari persinggahan kapal dagang hingga menjadi destinasi ziarah yang penuh makna. Melalui kisah Habib Husein dan keberadaan Masjid Keramat Luar Batang, tempat ini terus menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Jakarta yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya. Hingga kini, kampung ini tetap menjadi tempat yang dihormati, mengundang penziarah dari berbagai daerah untuk mencari berkah dan mengenang jejak sejarah yang telah lama terukir.

Daftar Pustaka

Ismayanto, D. (2014, Juli 15). Makam di sisi Masjid perlawanan. Diambil kembali dari Historia.id.

Administrator. (2021, Mei Kamis). Masjid Luar Batang Saksi Bisu Perkembangan Islam di Batavia. Diambil kembali dari Indonesia.go.id.

Admin. (2023, Februari 2023). Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus. Diambil kembali dari Jakarta Islamic Centre.

Darmawan, R. (2022, Juli Jumat). Sejarah makam Keramat Habib Luar Batang, Dimakamkan di Tanah Abang Selalu Hilang Dari Keranda. Diambil kembali dari sindonews.com.

Bagikan di:

Artikel dari Penulis