Sunda Kelapa dan Perebutan Kekuasaan: Peran Fatahillah dan Sunan Gunung Jati – Sejarah Sunan Gunung Jati dan Jakarta memang tidak bisa dilepaskan. Namun, sering kali terjadi kerancuan antara tokoh Fatahillah dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Beberapa orang masih menganggap keduanya sebagai orang yang sama, padahal sebenarnya mereka adalah dua individu berbeda. Membahas kedua tokoh ini tidak bisa lepas dari sejarah Jakarta, yang dahulu dikenal sebagai Jayakarta.
Pelabuhan Sunda Kelapa
Sejarah Jakarta tidak bisa dipisahkan dari kejayaan Pelabuhan Sunda Kelapa. Kalapa adalah pelabuhan utama Kerajaan Sunda Pajajaran dan merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Jawa Barat pada masanya. Penulis Portugis, Tome Pires, mencatat bahwa Kalapa adalah pelabuhan termegah di wilayah tersebut. Meskipun pusat kerajaan berada di pedalaman, Sunda Kelapa berfungsi sebagai kota pelabuhan yang aktif dalam perdagangan nasional maupun internasional.
Pelabuhan ini telah digunakan sejak masa Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-5. Kapal-kapal asing dari berbagai negara kerap singgah di sini, membawa barang dagangan seperti kopi, sutra, porselen, dan anggur untuk ditukar dengan rempah-rempah (Burhan, 2023). Mengingat letaknya yang strategis, karena menghubungkan jalur perdagangan di Kawasan Asia Tenggara, tidak heran jika pelabuhan Sunda kelapa kerap diperebutkan oleh berbagai kerajaan seperti, Demak, Banten, serta negara seperti, Portugis dan Belanda.
Perseteruan Sunda Kelapa
Merujuk pada buku Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia” karya Endjat Djaenuderajat, dikisahkan bahwa setelah kunjungan Tome Pires di tahun 1511, bangsa Portugis kembali datang ke Nusantara. Kali ini, mereka dipimpin oleh Enrique Leme beserta rombongan pada tahun 1522. Enrique Leme merupakan utusan Gubernur Jenderal Portugis yang berkedudukan di India. Rombongan Portugis ini tiba dengan membawa aneka cinderamata untuk Raja Pajajaran, Sang Hyang Surawisesa (1521-1535).
Baca juga: Sejarah Luar Batang: Dari Persinggahan Kapal hingga Tempat Ziarah di Jakarta
Pada 21 Agustus 1522, Kerajaan Pajajaran dan Portugis menyepakati perjanjian persahabatan. Dalam perjanjian ini, Portugis berjanji membantu Sunda kelapa apabila sewaktu-waktu kota bandar ini diserang oleh Kerajaan Cirebon. Sebagai imbalannya, pihak portugis diperbolehkan mendirikan loji atau kantor dagang di Sunda Kelapa. Tentu saja, perjanjian ini mencemaskan Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak (Administrator, 2019).
Adapun kecemasan Sultan Trenggono atas perjanjian Portugis dan Pajajaran adalah karena bangsa Portugis sudah menguasai Selat Malaka, yang menjadi jalur utama perdagangan antara Samudera Hindia dengan Laut Cina Selatan.
Jika mereka juga menguasai Selat Sunda—satu-satunya pintu keluar dari Laut Jawa menuju Samudra Hindia—maka seluruh jalur perdagangan di Nusantara dan Cina berisiko dikuasai oleh Portugis. Hal ini dapat menyebabkan monopoli perdagangan dan blokade akibat kebijakan politik mereka. Selain itu, jika Portugis menguasai Banten, yang merupakan pintu masuk dari selatan, sumber ekonomi utama Kesultanan Demak juga terancam akan terputus (Sunandar).
Untuk menghadapi ancaman ini, Sultan Trenggono mengutus Fatahillah memimpin pasukan Kesultanan Demak guna menyerang Portugis di Sunda Kelapa. Serangan ini terjadi pada 22 Juni 1527 atau 22 Ramadhan 933 H dan berhasil mengusir Portugis. Setelah kemenangan tersebut, Fatahillah kemudian mengganti nama pelabuhan Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.
Baca juga: Mempertanyakan Gagasan Poros Maritim Dunia: Lanjutkan atau Acuhkan?
Alasan Fatahillah memberi nama kota itu “Jayakarta” adalah karena peristiwa itu seperti peristiwa penaklukan kota Makkah. Sebagaimana dalam surah Al-Fath ayat 1:
“Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”.
Menurut Fatahillah, “kemenangan yang nyata” ini diwujudkan dalam nama Jayakarta, yang kemudian menjadi nama Jakarta (Utomo, 2024).
Antara Fatahillah dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
Dalam berbagai sumber, sering terjadi kekeliruan yang menyamakan Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dalam pembahasan penaklukan Sunda Kelapa.
Fatahillah, juga dikenal sebagai Fadhillah Khan, Falatehan (menurut ejaan Portugis), Tubagus Pase, atau Pangeran Jayakarta I, lahir pada tahun 1490. Ia adalah seorang laksamana dan panglima yang berasal dari Pasai, Aceh, yang kemudian hijrah ke Demak. Nama Falatehan pertama kali disebutkan oleh Joao de Barros dalam bukunya berjudul Decadas da Asia (Dekade-Dekasi dari Asia). Ia melaporkan bahwa salah satu kapal Portugis terdampar di Sunda Kelapa dan diserang oleh pasukan Muslim di bawah pimpinan Fatahillah.
Selain itu, Fatahillah masih berkerabat dengan Walisongo karena kakek buyutnya, Zainul Alam Barakat, adalah adik dari Nurul Alam Amin (kakek Sunan Gunung Jati) dan kakak dari Ibrahim Zainal Akbar (ayah Sunan Ampel) (Administrator, Biografi Fatahillah, 2024). Sementara itu, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati lahir tahun 1448 M. Ibunya, Nyai Rara Santang atau Syarifah Muda’im, adalah putri Prabu Siliwangi. Dan ayahnya adalah seorang pembesar dari Mesir keturunan Bani Hasyim asal Palestina.
Baca juga: Biografi Sunan Gunung Jati: Dari Belajar di Timur Tengah Sampai Menjadi Raja Kesultanan Cirebon
Penguasa Caruban (Cirebon), Pangeran Cakrabuana kemudian mengizinkan Syarif Hidayatullah tinggal di daerah Pertamanan Gunung Sembung sembari mengajarkan agama Islam. Pangeran Cakrabuana kemudian menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Nyai Ratu Pakungwati. Setelah Pangeran Cakrabuana berusia lanjut, kekuasaan diserahkan kepada Syarif Hidayatullah, yang kemudian menjadi Sunan Gunung Jati. Sebelumnya, ia juga mendirikan kerajaan Islam di wilayah Banten, yang kemudian diserahkan kepada putranya, Maulana Hasanuddin (Administrator, Biografi Fatahillah, 2024).
Setelah Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa, atas persetujuan Sultan Trenggono dari Demak, Sunan Gunung Jati mengangkatnya sebagai Bupati Jayakarta, yang secara administratif berada di bawah Kesultanan Cirebon. Sebagai Bupati Jayakarta, Fatahillah bergelar Pangeran Jayakarta I dan kemudian digantikan oleh Pangeran Tubagus Angke atau Pangeran Jayakarta II.
Daftar Pustaka
Burhan. (2023, November 3). Mengenal Jakarta Tempo Dulu (Masa Sunda Kelapa). Diambil kembali dari dispusip.jakarta.go.id.
Administrator. (2019, Oktober 22). Kronik Sejarah Kota Pelabuhan Sunda Kelapa. Diambil kembali dari indonesia.go.id.
Sunandar, M. N. (t.thn.). Aliansi Kerajaan Sunda Pajajaran Dengan Portugis Tahun 1522. Sejarah Peradaban Islam UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Administrator. (2024, Maret 22). Biografi Fatahillah. Diambil kembali dari bimakota.sch.id.
Utomo, Y. (2024, Juni 23). Fatahillah yang Mengusir Armada Portugis dari Sunda Kelapa. Diambil kembali dari sabili.id.













