5 Jajanan Waktu SD yang Membuat Nostalgia

Jajanan waktu SD

5 Jajanan Waktu SD yang Membuat Nostalgia – Dibandingkan jajanan zaman sekarang yang serba pengawet, rasa-rasanya jajanan waktu SD tidak membuat bosan. Mengingatnya saja membuat saya nostalgia, apalagi mencicipinya kembali.

Ingin rasanya datang ke kantin sekolah, hanya untuk sekedar menikmati jajanan waktu SD. Namun saya harus memikirkan ulang keinginan tersebut, masa iya setelah sekian lama lulus datang ke kantin cuman hanya sekedar menikmati jajanan. Selain itu, juga kata beberapa anak tetangga saya ada beberapa jajanan yang tidak dijajakan lagi.

Terdapat dua kantin di SD tempat sekolah saya dulu yaitu di depan sekolah dan belakang sekolah. Sebenarnya tidak layak untuk disebut kantin, tetapi agar terlihat keren saya dan teman-teman menyebutnya kantin. Kalau di belakang sekolah para pedagang menggunakan licak, sedangkan di depan sekolah menggunakan gerobak.

Berikut ini 5 jajanan waktu SD yang membuat saya nostalgia:

1. Es Limun

Es limun merupakan salah satu minuman legendaris yang populer pada masanya. Limun merupakan minuman bersoda dan terdiri dari beraneka macam rasa.

Saat saya SD, minuman tersebut dijajakan oleh abang-abang di depan sekolah. Harganya pun sangat murah. Beli 100 perak saja akan dapat banyak. Namun saat saya naik ke kelas 2 SD, abang-abang penjual es limun tidak berjualan lagi. Tidak ada yang tahu ke mana perginya abang-abang penjual es limun tersebut. Kata teman-teman saya, abang-abang penjual es limun tersebut orang jauh. Semenjak saat itu tidak ada lagi yang berjalan es limun.

2. Es Doger

Sepeninggal es limun datanglah es doger. Penjualnya bernama Man Yus. Sama seperti es limun, es doger tersebut dijajakan di depan sekolah. Es doger ini berbeda dengan es doger pada umumnya. Kalau es doger pada umumnya menggunakan es tun-tung, sedangkan es doger Man Yus menggunakan es serut kinca tetapi tidak terlalu halus. Sementara topingnya sih sama seperti es doger pada umumnya yaitu ketan, tape, roti, agar-agar, dll.

Saat itu harga es doger Man Yus, dijual dengan harga minimal 200 perak. Untuk mendapatkan segelas es doger Man Yus harus rela berdesak-desakan, karena begitu ramai yang ngantri.

3. Gulali

Gulali ini dijual oleh Bi Mar di belakang sekolah, terbuat dari gula jawa, dijual dengan harga minimal 200 perak. Langsung dimakan pun sebenarnya enak, tetapi trendnya saat itu diulur-ulur dari semula berwarna coklat tua menjadi coklat kuning. Setelah itu dibungkus di kertas tulis, disimpan beberapa jam pada laci meja. Setelah dibuka berubah menjadi seperti permen dalgona.

Namun tidak semuanya berhasil, beberapa kali gulali saya tersebut malah jadi lengket sekali. Kalau jadinya seperti itu biasanya langsung dimakan, atau dititipkan ke teman yang mempunyai kulkas.

4. Kolak Pisang

Saya saat SD selalu langganan jajan ke Bi Mar. Selain beliau menjual gulali, juga menjual kolak pisang. Dengan harga 100 perak sudah bisa menikmati semangkuk kolak. Menurut saya yang paling enak dari kolak pisang Bi Mar ini adalah kuahnya, teman-teman saya juga berpendapat demikian. Beberapa teman saya bahkan hanya membeli kuahnya saja untuk dinikmati.

Karena saya sering langganan, maka ketika saya membeli jajan mendapatkan bonus. Seperti misalnya saya membeli kolak pisang seharga 200, tetapi saya malah mendapatkan kolak pisang seharga 500. Selain itu beliau juga memperbolehkan pelanggannya berhutang dulu jika tidak mempunyai uang.

5. Mie Kremes Kw

Mie Kremes Kw ini terbuat dari mie kuning yang digoreng hingga berwarna kuning kecoklatan. Untuk bumbunya sendiri menggunakan penyedap rasa, yaitu Royco. Harganya pun terbilang murah, yaitu 500 perak mendapatkan 3 mie kremes kw.

Semua pedagang di kantin belakang menjajakan mie kremes kw ini. Tetapi saya membelinya ke Bi Mar, karena sudah langganan, dan juga pasti mendapatkan tambahan.

Itulah 5 jajanan waktu SD yang membuat saya nostalgia. Kalau pembaca Kapito.id sendiri, jajanan waktu SD yang membuat nostalgia apa saja?

Editor: Firmansah Surya Khoir
Ilustrator: Salman Al Farisi

Penulis Lepas & Imam Besar Republik Mahasiswa Rebahan.

Artikel dari Penulis