Mari Ubah Kata Senior Menjadi “Señor, Señora, Señorita” Demi Keberlangsungan Organisasi

Mari Ubah Kata Senior

Mari Ubah Kata Senior Menjadi “Señor, Señora, Señorita” Demi Keberlangsungan Organisasi – Dunia organisasi tidak pernah padam dengan istilah “Senior” karena dirasa apa yang diikuti saat ini adalah hasil dari perjuangan orang-orang terdahulu dalam konteks organisasi, baik skala siswa, mahasiswa, kelompok masyarakat, hingga dalam lingkup pekerjaan.

Sering kita jumpai di setiap organisasi, terlebih mahasiswa yang dirasa telah mendeklarasi dirinya memiliki keilmuan lebih, akan mengalami dinamika yang sama yaitu keberadaan senior. Pengaruh yang dihasilkan bisa bernilai baik apabila sesuai dengan idealisme yang dibangun, baik organisasi maupun kepentingan tertentu dalam tanda kutip.

Senior bisa bernilai baik apabila telah memberi arahan yang baik terhadap kepengurusan di bawahnya dengan menerapkan pola berpikir bahwa mahasiswa memiliki kapasitas untuk mempertimbangkan apa yang telah didengar lalu diimplementasikan dalam bentuk aksi apapun. Namun, bagaimana dengan senior yang menjadikan label seniornya sebagai wujud kepatuhan untuk adik-adiknya?

Hal itu menjadi dinamika organisasi maupun personal yang mengalami alienasi kuasa. Bagaimana tidak, apa yang dijalankan pasti mengalami pelbagai pertimbangan yang telah dihasilkan dalam forum akan menjadi rapuh karena pengaruh senior yang kuat. Bahkan, kata “kekeluargaan” tidak lebih dari kata persuasif untuk menyembunyikan senioritas yang sedang terjadi. Hal ini  berdampak pada krisis identitas bagi setiap anggota yang setuju maupun menolak apa yang disampaikan oleh senior.

Baca juga: Jadilah Senior yang Berhati Luhur!

Akan tetapi, apa yang disampaikan senior pasti memiliki tujuan yang sama, yaitu “keseimbangan” dan bernilai baik bagi kelompok senior tersebut. Hal ini menunjukkan rasa sayang mereka terhadap adik-adik yang menjalani organisai saat itu. Walaupun kadang muncul tekanan, intervensi maupun intimidasi adalah bentuk kasih sayang mereka terhadap adik-adiknya dan organisasi.

Sebagai balasan rasa sayang adik-adik terhadap mereka, kata senior menjadi momok yang sedikit dihindari karena konflik alienasi tersebut. Mari kita ganti panggilan tersebut menjadi “Señor/Señora/Señorita”, kata tersebut berasal dari bahasa Latin yang ditujukan kepada orang yang jabatannya lebih terhormat ataupun lebih tinggi. “Señor” biasa diucapkan kepada laki-laki terhormat yang berarti “Tuan”,  “Señora” diucapkan kepada perempuan terhormat yang berarti “Nyonya”, dan “Señorita” diucapkan kepada perempuan terhormat yang belum menikah. Sebutan ini terdengar lebih santai karena memiliki nilai pujian daripada kata senior yang ketika kita mendengarnya dapat menimbul rasa ketar-ketir maupun mengeluh.

Konflik yang dihasilkan sedikit lebih mereda ketika memanggil dengan sebutan demikian. Pemberian nasihat, peringatan, hingga ancaman akan sedikit melegakan karena kita mengungkapkan dengan kata sayang sesuai dengan kasih sayang mereka terhadap adik-adiknya. Namun, mahasiswa dengan idealisme yang kuat cenderung tetap merasa itu adalah ancaman, malah sikap demikian yang membuat kata apapun akan menjadi musuh bagi mereka.

Padahal, tanpa kalian lupakan, perjuangan mereka sebelum adik-adiknya jauh lebih berat daripada ketika dijalankan saat ini. Itu adalah buah dari perjuangan mereka. Jadi, maklum jika mereka tidak mau apa yang telah mereka bangun dirusak karena tidak sesuai pada zaman mereka. Rasa sayang kok pilih-pilih. Kalau ada yang sayang terhadap kalian, ya harus dibalas, minimal dengan sebutan sayang juga. Menjadi manusia harus bersyukur jika masih ada yang peduli. Dalam konteks organisasi kemahasiswaan, jangan malah dijauhi atau dimusuhi hanya karena beda panggilan. Ketika dipanggil oleh pasangan aja gercep, ketika dipanggil oleh Señor kok sudah su’udzon duluan. 

Memanggil dengan panggilan yang baik dan menyenangkan juga akan bernilai kebaikan. Lalu, apa yang membuatmu ragu untuk merubah kata senior menjadi Señor/Señora/Señorita? Lupakan apa yang telah diperbuat oleh Señor, mereka sayang terhadap adik-adiknya daripada organisasi yang dijalani menjadi terhambat. Kadang kita yang lari sebelum merasakan kasih sayang dari mereka.Kesimpulannya, ubahlah kebencian terhadap sesuatu menjadi bernilai kebaikan, dimulai dari hal terkecil yaitu mengubah kata senior menjadi Señor/Señora/Señorita. Kalau dipanggil, ubah dari “Siap senior” menjadi “Si Señor” atau “Esta bien Señor.” Mereka sayang kepada adik-adik dan organisasinya.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Hanya karyawan biasa yang berasal dari Lamongan dan bedomisili Surabaya, tidak ingin terlihat mencolok karena takut femes, kalau serius gak apa- apa sih kali aja cocok. Nonton anime tapi bukan wibu dan pernah menjaga serta merawat jodohnya orang.

Artikel dari Penulis