Berpikir itu Melelahkan Sekaligus Menyenangkan

Berpikir itu Melelahkan Sekaligus Menyenangkan

Berpikir itu Melelahkan Sekaligus Menyenangkan – Ya, itu benar. Memang sangat benar bahwa berpikir itu melelahkan dan merugikan. Bagaimana tidak? Apa yang kita rasakan hampir semua dipikirkan. Definisi pikiran di sini tidak hanya mengenai pikiran tentang hidup, sekolah, kuliah, mata kuliah, atau mencari uang. Pikiran itu juga tentang rasa, emosi, bahagia, susah, dan masih banyak lagi. Sejauh ini  yang paling sulit dan berat adalah tentang rasa. Rasa ketika kecewa, sedih, apalagi marah, semua akan berkecamuk dalam satu pikiran. 

Jika terlalu dipelihara apalagi dengan pemeliharaan yang kurang baik akan membuatnya menjadi mengerikan. Manusia seringkali terjebak dalam nafsunya. Hal itu yang kemudian akan menjadi pengaruh bagi pikirannya. Pada saat merasa marah sekaligus kecewa atas keadaan yang tidak sesuai, di situlah kita akan berpikir “mengapa hal ini harus terjadi?” dan “mengapa harus aku yang merasakan ini?” serta banyak mengapa yang lainnya. 

Sebenarnya bila kita cermati, ada banyak jalan yang membuat kita bisa merasa legowo atas keadaan. Tetapi coba sekali lagi kita pikir. Bagaimana jadinya apabila kita merasa semua terlalu sulit untuk kita? 

Tidak dapat dipungkiri memang, Hal tersebut akan selalu terjadi. Ya, namanya juga hidup. Saking banyaknya masalah yang datang, sampai-sampai merasa berat untuk dijalani. Kemudian, jika pikiran itu bersambung dengan perasaan hati, tentu akan semakin rumit lagi. Lalu, apa sih sebenarnya hal yang membuat manusia bisa merasa tenang?

Baca juga: Tutorial Membuat Testamen sebelum Eutanasia

Menurut apa yang pernah saya alami, rasa tenang akan datang dan akan selalu ada apabila kita memikirkan semuanya dengan hati-hati dan tidak gegabah. Tidak hanya itu. Berpikir positif  dan selalu merasa sabar juga salah satu alasan utama kita bisa merasa tenang. Hal ini tentu tidak hanya dari perspektif saya saja, banyak orang yang telah membuktikan itu. Tak sedikit yang merasa berhasil atas upaya itu.

Namun, masih banyak juga yang ditemukan kurang berhasil. Biasanya, mereka yang kurang berhasil dalam upaya menjaga rasa tenang itu adalah mereka yang masih belum terbiasa melakukannya. Mereka yang memiliki trauma pun juga akan sulit menerapkan itu. Sebab apabila sudah trauma, segala hal akan terasa jadi lebih tertutup. Tak terkecuali rasa tenang.

Namun, ada kalanya sebagai manusia, kita harus terus mencoba berbagai upaya terbaik agar mencapai hidup pada titik yang tenang. Siapa sih yang tidak mau merasa tenang? Tentu semua menginginkan itu. Tenang adalah salah satu bentuk rasa yang mutlak untuk ada dalam kehidupan. Pengaruh dari rasa tenang itu adalah pikiran. 

Pikiran yang baik, tenang, dan positif adalah sebaik-baiknya pikiran manusia. Seringkali sangat sulit untuk menerapkan pikiran yang baik tersebut. Tidak semua hal sejalan dengan perasaan hati. Itulah yang membuat manusia jadi sulit menerima keadaan dan kenyataan dalam hidup mereka. Hingga akhirnya memberontak dan marah.

Sebagai contoh, ketika kita dibuat kecewa dan marah oleh seseorang dan perilaku orang tersebut salah menurut kita. Ketika masing-masing dari kita memiliki sudut pandangnya sendiri dan merasa sudah paling benar, tentu akan terjadi yang namanya gesekan pendapat. Satu-satunya jalan adalah menerima. Dan sekali lagi adalah legowo

Seperti apa yang sudah saya sebutkan di atas tentang legowo tadi. Hal sulit tidak akan menjadi sesulit yang kita bayangkan apabila kita tidak egois. Sikap menerima tadi akan jadi sangat sulit jika dalam hati kita masih ada rasa egois. Jadi, pikiran di sini tidak hanya dipengaruhi oleh rasa dan keadaan hati. Namun juga sifat kita. 

Ketiga hal tersebut (rasa, keadaan hati, dan sifat) akan melebur jadi satu dan apabila tidak kita bentengi dengan rasa sabar dan tenang, semua itu akan mengerikan. Di sinilah definisi bahwa pikiran mengerikan itu memang benar adanya. Kemudian, untuk mencapai pikiran tenang tersebut, lebih dahulu mana antara rasa sabar, keadaan hati, dan sifat kita? 

Apabila itu dipikirkan, semua seperti bertabrakan. Ada yang dengan merasa perlu mengubah sifat terlebih dahulu akan menemukan titik tenang pada pikiran. Ada juga yang dengan menerapkan rasa sabar akan menumbuhkan perasaan tenang tersebut. Seperti yang kita tahu, pikiran manusia masing-masing berbeda. Tidak ada yang sama dan tidak ada yang tahu. 

Sekalipun kita merasa sangat pandai membaca pikiran orang lain, kenyataannya itu semua tidak sesuai. Satu lagi, ada juga jenis manusia yang mudah terpengaruh oleh keadaan hati atau biasa yang kita sebut dengan istilah moody. Jika merasa keadaan hatinya sedang baik, pikirannya ikut baik. Jika merasa keadaan hatinya buruk, pikirannnya ikut buruk dan jadi tidak bisa berpikir jernih.

Semua kembali pada diri kita masing-masing. Menurut saya, jika ingin memperoleh pikiran yang tenang, dahulukan rasa sabar. Tumbuhkan rasa sabar terlebih dahulu dalam keadaan apapun. Sekalipun itu sulit, cobalah untuk bersabar dalam keadaan apapun. Baru selanjutnya, kita akan menemukan sebuah rasa hati yang baik pula. Sabar merupakan kunci segala hal. Rasa sabar juga akhirnya akan ikut mempengaruhi keadaan hati. Jika keadaan hati sedang merasa baik, adem, dan tenang karena sabar, secara otomatis pikiran akan mudah merasa tenang. 

Awalnya, kita mungkin memang akan merasa hati dan pikiran kita sedikit bertentangan. Tetapi kembali lagi, dengan menerapkan rasa sabar, semua akan baik-baik saja. Begitu pula dengan pikiran. 

Ketika kita menerima segala masalah dengan rasa sabar, pikiran akan ikut merasa tenang dan kita pun akan jadi lebih mudah menemukan solusi atas masalah kita, tanpa mengikutsertakan rasa marah dan gegabah. Jadilah kita bisa menemukan titik tenang dalam pikiran kita. Untuk itu, tetaplah merasa sabar. 

Terapkan itu di setiap keadaaan dan pikiran kita pun perlahan akan segera merasa tenang. Namun, semua tetap kembali pada diri kita masing-masing. Lakukan yang menurut kalian paling terbaik dahulu dan senyamannya kalian. Ketika merasa masih belum bisa berhasil, barulah ikuti caraku seperti di atas. Tetaplah semangat dalam menjalani hidup dan pikiran yang tenang. Selamat mencoba.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Ilustrator: Salman Al Farisi

Penulis merupakan mahasiswi di salah satu universitas islam negeri di Kota Surabaya. Namanya Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra. Ia dilahirkan di Lamongan, tanggal 7 bulan Juli tahun 2003. Penulis merupakan anak tunggal dengan impian bisa menghasilkan karya tulis yang bermanfaat bagi orang lain. Penulis juga menyukai tulisan bergenre fiksi dan fakta seperti esai dan opini. Selain karya, penulis juga menyukai musik. Penulis bisa dihubungi melalui akun medsos Instagram: @frkhasfz_ dan Twitter: @Frkhasfz_.

Artikel dari Penulis