Biaya Nikah: Dilematika Kekuatan Ekonomi dan Ketakutan Budaya — Sebagai bagian dari masyarakat yang jauh dari kemewahan dan minim pengetahuan, awalnya saya kira menikah hanyalah soal berkembang biak. Dalam bayangan saya, ketika menikah nanti, saya hanya perlu berbagi ranjang, air, dan jatah makan untuk dibagi berdua. Namun, kebodohan saya berakhir ketika saya penasaran dan mulai membaca Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang mulia itu. Maka tahulah saya, bahwa menikah bertujuan untuk membentuk ikatan antara laki-laki dan perempuan, untuk bersama-sama membangun keluarga yang sakina. Begitu kesimpulan sederhana yang saya pahami.
Barangkali pembaca budiman adalah golongan pengguna gas 3 kilo—kategori subsidi untuk masyarakat miskin seperti saya. Maka, amatlah mudah tulisan ini dibaca untuk memahami dilema yang saya alami. Dilema saya bukan hanya terkait biaya menikah dan tabungan hidup layak setelah menikah, melainkan kenyataan pahit bahwa pada dasarnya saya tidak punya uang sama sekali. Kalaupun pembaca dari golongan orang yang tak pernah pusing soal biaya hidup, coba bayangkan saja Anda sedang, maaf, kebelet buang air besar. Namun, masalahnya bukan memilih buang hajat di toilet duduk atau jongkok, melainkan tidak ada toilet sama sekali. Begitulah kira-kira dilema saya.
Baca juga: Mapan Dulu Baru Nikah atau Nikah Dulu Baru Mapan?
Seiring rasa penasaran saya terhadap pernikahan, saya pun belajar bahwa ternyata, dalam praktiknya dan sesuai anjuran penghulu, ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Mulai dari kesehatan calon pengantin, kesiapan emosional, tanggung jawab bersama, hingga kemapanan finansial.. Awalnya saya pikir, menikah secara sah hanya perlu ucapan ijab qobul di hadapan wali atau penghulu. Ternyata tidak semudah itu. Beberapa keadaan mengharuskan manusia untuk berserikat dan berkumpul. Manusia yang berkumpul, atau yang kita sebut keluarga, menginginkan kita dipertontonkan ke khalayak ramai sebagai ajang silaturahmi antar sesama, serta memberi kabar gembira pada sekitar.
Persiapan resepsi pernikahan tentu akan memakan biaya yang cukup mahal. Mengingat banyaknya piranti serta panjangnya jadwal acara yang biasanya dilaksanakan dua kali: di rumah pengantin laki-laki dan perempuan. Namun, penting untuk dicatat bahwa menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) tak dipungut biaya apapun, alias nol rupiah. Adapun jika pengantin ingin menikah di luar kantor atau di luar jam kerja penghulu, akan dikenakan biaya sebesar Rp 600.000 yang akan dialokasikan sebagai kas negara.
Bagaimana Kekuatan Ekonomi Berdampak pada Ketakutan Budaya Menikah?
Kekuatan ekonomi menjadi salah satu faktor krusial dalam kesiapan pasangan menuju pernikahan. Bukan hanya soal ketahanan finansial, melainkan juga tentang pendayagunaan, tata kelola dan penggunaan untuk kepentingan bersama. Banyak calon pengantin kerap mengalami ketakutan terhadap budaya resepsi atau adat yang dianggap memberatkan. Padahal, segala bentuk tradisi seharusnya bisa disesuaikan dengan kemampuan, agar tidak menjadi beban atau bahkan bom waktu dalam kehidupan rumah tangga.
Baca juga: Setelah 2 Tahun Menikah, Ini Nasihatku untuk Kalian yang Belum Menikah
Ada beberapa tips bagi calon pengantin yang akan menikah—juga sekaligus sebagai pengingat bagi diri saya sendiri:
- Sesuaikan segala kesiapan dengan kemampuan. Hal ini penting, mengingat setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda dan tidak semuanya bisa dikendalikan, sehingga berpotensi menimbulkan ketimpangan sosial.
- Lakukan konsultasi keuangan. Baik dari pihak calon pengantin laki-laki atau perempuan, duduk bersama dan terbuka soal keuangan bisa membantu menemukan titik tengah agar segala kebutuhan atau biaya dapat diatasi bersama.
- Menabung bersama. Ini bisa menjadi simbol komitmen. Menabung bukan hanya semata untuk mewujudkan wedding dream, tetapi juga dream family—keluarga impian yang sakinah, sebagaimana tujuan pernikahan menurut UU No. 1 Tahun 1974.
Jika pernikahan dimaknai sebagai kerja sama dua manusia untuk hidup bersama dalam suka dan duka, maka kejujuran, kesadaran, dan keberanian untuk menghadapi kenyataan jauh lebih penting daripada pesta mewah. Biaya nikah boleh jadi mahal, tapi keharmonisan rumah tangga tidak bisa dibeli.














